Part 50

1.4K 67 2

~~~

Tepat dua hari setelah kejadian dimana Sye memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Faldo, ia akan melangsungkan perjalanan menuju Belgia untuk melanjutkan pendidikannya di sana. Sye duduk di kursi tunggu bersama dengan Romy dan Tresya seraya menunggu jam keberangkatan pesawatnya. Carlos yang masih harap-harap cemas dengan adiknya, kini hanya berdiri tepat di sebelah Tresya.

Sye menolehkan pandangannya kepada Romy yang kini kondisinya mulai membaik dan tidak memerlukan kursi roda lagi untuk membantunya berjalan. Sye menyandarkan kepalanya ke bahu kiri Romy serta tangannya yang meraih tubuh Romy dari samping. Romy melihat sekilas putrinya yang sebentar lagi akan menjadi gadis mandiri tanpa dirinya ataupun kakaknya. Telapak tangannya mengelus kepala Sye lembut beberapa kali.

“Papi jaga diri baik-baik ya,” pesan Sye dengan suara yang lirih seraya memegang tangan Romy yang berada di kepalanya.

Romy menepuk pelan pucuk kepala Sye lalu tersenyum. “Pasti sayang. Papi harap, ini bukan keputusan yang salah. Secepatnya, Papi akan urus semua surat pindah kamu di sini,”

Thanks, Dad.” Sye mengeratkan pelukannya kepada Romy yang melakukan hal yang sama kepadanya.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar tanda pesan singkat yang masuk. Sye melepaskan pelukannya terhadap Romy lalu merogoh sling bag-nya untuk mengambil benda pipih itu. “Kak Rebecca tumben nge-chat,” gumam Sye setelah mengetahui bahwa yang mengiriminya pesan adalah Rebecca.

From : Rebecca
Pesawat take off jam berapa?

Sye langsung menuliskan balasan untuk Rebecca yang menanyakan keberangkatan pesawatnya. Mungkin saja, Rebecca ingin menemuinya untuk terakhir kalinya sebelum Sye benar-benar pergi ke Belgia.

To : Kak Rebecca
Jam 12, Kak. Kenapa?

Sye kembali memasukkan ponselnya ke dalam sling bag-nya setelah mengirimkan balasan untuk Rebecca. Sye sedikit melirik ke arah Carlos yang masih memasang muka sedikit tak setuju atas keputusan yang adiknya ambil. Tresya yang tahu apa yang kini Sye pikirkan pun mengelus kedua bahu Sye lembut seraya tersenyum lebar ke arahnya.

“Lama-lama dia juga pasti ngertiin kok. Nanti kakak bantu,” ucap Tresya lembut yang kemudian dibalas anggukan oleh Sye.

Sye beranjak dari tempatnya lalu berjalan menuju Carlos yang melirik sekilas ke arahnya. Sye memeluk lengan Carlos manja berusaha meyakinkan Carlos bahwa dirinya akan baik-baik saja dan bisa menjaga diri di sana. “Bang, aku janji pasti baik-baik aja di sana. Abang jangan dongkol gitu dong. Lagian dalam waktu cepat pasti aku bakal punya temen deket kok di sana,”

Carlos menoleh ke arah Sye seraya menurunkan tangannya kesamping lalu menatap adiknya pasrah. “Abang bukannya nggak bolehin kamu tinggal mandiri di sana. Abang cuma khawatir kamu kenapa-kenapa di sana. Karena selama ini kamu juga masih suka manja ke Papi atau ke Abang. Cuma itu yang Abang pikirin,”

“Aku janji bakal ngilangin sifat manja itu. Tapi Abang jangan dongkol lagi ya,” bujuk Sye seraya sedikit menggoyang-goyangkan tangan Carlos dengan tatapan iba.

“Oke, dengan satu syarat atau nggak akan berangkat?”

“Dengan syarat,” pilih Sye atas opsi yang Carlos berikan.

“Telfon Abang kalo ada apa-apa, ganti nomer langsung bilang, jangan lupa kabarin orang rumah kalo ada waktu luang,” pesan Carlos mengingatkan adiknya yang seringkali lupa akan janjinya yang sudah ia buat di rumah.

“Oke siap!”

Beberapa saat setelah perbincangan antara Carlos dan Sye, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dengan membawa sebuah amplop berwarna soft pink seraya berlari kecil ke arah Sye yang kini tersenyum lebar melihatnya. Perempuan itu memeluk Sye erat seolah mengatakan bahwa Sye tidak boleh pergi meninggalkan Indonesia dan orang-orang yang menyayanginya.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!