[Fabel] Mangsa Pertama Ruri

2.1K 7 5

Alkisah, hiduplah seekor nyamuk betina yang bernama Ruri. Ia hidup dengan tenteram bersama kakak dan ayahnya di loteng sebuah rumah manusia. Ruri dan kakaknya adalah nyamuk-nyamuk yang masih muda belia dan belum bisa mencari makan sendiri. Pekerjaan mencari makan bagi bangsa nyamuk adalah pekerjaan yang berbahaya. Setiap malam, mereka berdua selalu menunggu kepulangan ayahnya dengan was-was di dalam sarang, sambil berdoa supaya ayahnya tercinta dapat pulang dengan selamat.

Hari demi hari berlalu, Ruri tumbuh menjadi nyamuk remaja yang sehat dan periang. Sudah hampir tiba saatnya bagi Ruri untuk mencari makan sendiri. Sebelum berangkat berburu, terjadilah percakapan antara tiga ekor nyamuk sekeluarga tersebut.

"Ayah, kenapa sih kita harus menghisap darah manusia?" tanya Ruri pada sang ayah.

"Itu sudah kodrat kita sebagai nyamuk, Nak," jawab sang ayah sambil tersenyum. "Sama seperti manusia makan nasi, atau kucing makan ikan, atau kuda makan rumput. Sebagai nyamuk, sudah kodrat kita untuk menghisap darah."

"Tapi 'kan kasihan mereka, Yah. Tidur mereka terganggu karena kita. Badan mereka gatal-gatal di tempat yang kita gigit. Makanya, mereka tidak ragu-ragu membunuh kita bila mereka melihat kita," ujar Ruri menimpali. Ruri nampaknya sedikit ragu-ragu untuk memulai perburuan pertamanya. Bagaimanapun juga ia butuh makan, tapi ia tidak ingin mengganggu manusia yang rumahnya sedang ia tinggali itu.

"Apa kita tidak bisa mencari makanan lain saja?" lanjut Ruri.

"Ah, aneh-aneh saja pikiranmu ini, Rur!" tukas Doni, kakak Ruri. Doni adalah kakak kembar Ruri. Mereka lahir hampir bersamaan, dan hari ini ia juga akan memulai perburuan pertamanya. "Dari jaman nenek moyang kita juga yang namanya nyamuk itu makannya darah manusia! Memangnya, kalau kau tidak mau menghisap darah, kau mau makan apa?"

Ruri terdiam mendengar kata-kata dari kakaknya itu. Ia berusaha berpikir, namun tidak berhasil menemukan jawaban. Menangkap rasa gundah yang tampak di raut wajah Ruri, sang ayah kembali tersenyum.

"Ayah mengerti maksudmu, Nak. Kalau bisa, Ayah juga tidak ingin mengganggu manusia-manusia ini. Sayangnya, kita tidak punya pilihan lain," kata sang ayah pada Ruri.

Sang ayah menghela napas sejenak, lalu melanjutkan ucapannya, "Maka dari itu, untuk menghormati mereka, ada baiknya kita menghisap darah mereka secukupnya saja. Sekedar untuk mengganjal perut, tidak usah terlalu kenyang. Bagaimana?"

"Baiklah Ayah," jawab Ruri setuju, "dan kita juga jangan menggigit terlalu keras, supaya mereka tidak kesakitan."

Sang ayah membelai kepala kedua anak kesayangannya itu, kemudian memperhatikan ruangan di sekitarnya dengan seksama. Di dalam ruangan itu ada seorang anak laki-laki yang sedang menonton televisi. Pandangannya tampak sayu, dan kepalanya manggut-manggut terkantuk-kantuk.

"Mangsa kita sepertinya sudah mulai lengah. Berangkat sekarang?" tanya Doni pada adik dan ayahnya. Ruri dan sang ayah mengangguk bersamaan. 

"Baiklah. Serbu!"

Tiga ekor nyamuk terbang berdesing dengan cepat, menyergap si anak manusia dari belakang. Mereka hinggap di bagian-bagian tubuh anak tersebut, bersiap-siap menyantap makan malam mereka. Sang ayah hinggap di telinga, Ruri hinggap di pipi, sementara Doni hinggap di lengan si anak.

"Selamat makan!"

Ketiga ekor nyamuk itu menggigit permukaan kulit mangsa mereka, dan mulai menghisap darah. Di antara mereka bertiga, Doni yang nampak paling bersemangat. Ia makan dengan begitu lahapnya.

Tak berselang lama, sang ayah merasakan guncangan di tubuh mangsa yang sedang ia hisap darahnya itu. Ia pun menghentikan makannya, lalu berseru kepada kedua anaknya, "Sudah cukup, anak-anak! Sepertinya mangsa kita mulai menyadari kehadiran kita. Ayo kita pergi, sebelum bahaya datang!"

Ruri berhenti menghisap darah mangsanya, lalu terbang mendekati sang ayah. Mereka bersiap-siap untuk pergi menjauh.

"Sebentar, Doni mana?" tanya sang ayah. Mereka berdua menengok tempat Doni makan sebelumnya, namun ia ternyata sudah tidak ada di sana. Sementara itu, si anak manusia mulai mengayun-ayunkan tangannya karena terganggu oleh dengungan sayap-sayap nyamuk di sekitarnya.

"Itu dia!" seru Ruri sambil menunjuk ke paha si anak manusia. Di situ nampak Doni masih asyik dengan makanannya. Mungkin ia berpindah tempat karena bosan dengan rasa darah yang didapatnya saat hinggap di lengan tadi. 

"Doni! Ayo pergi dari sini!" seru Ruri pada Doni. Namun Doni tak menggubris. Ia terus makan dengan lahap. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah tamparan keras mendarat di dekat Doni. Ia terkejut, dan barulah ia sadar bahwa ia sedang dalam bahaya.

Doni pun bersiap-siap untuk terbang meninggalkan mangsanya, namun ia kesulitan mengangkat tubuhnya ke angkasa. Perutnya buncit dan berat, akibat makan terlalu banyak. Doni mengepakkan sayapnya sekuat tenaga, namun tubuhnya hanya melayang beberapa sentimeter dari tanah sebelum akhirnya ia jatuh kelelahan.

Di tengah napasnya yang terengah-engah, Doni bertemu mata dengan si anak manusia. Saat itulah ia menyadari bahwa jiwanya sedang sangat terancam. Ia berusaha terbang kembali, tapi seluruh tubuhnya gemetar dihinggapi rasa takut. Doni berjalan terseok-seok, berusaha menjauh dari si anak manusia yang mulai mengayunkan telapak tangannya lagi dengan kesal.

"Doni!"

Ruri melesat terbang menuju arah Doni, berusaha menyelamatkan kakaknya itu dari tepukan tangan si anak manusia. Namun dalam keadaan perut terisi seperti sekarang ini, ia tidak bisa terbang dengan cepat. Dan saat ia sampai ke tempat Doni, semua sudah terlambat. Yang ia dapati hanya tubuh Doni yang telah gepeng dan basah oleh larutan merah.

"Doni! Ya Tuhan, Doni!" Ruri berlari mendekati Doni dengan berlinang air mata. Ia menepuk-nepuk pipi Doni, dan mengguncang-guncang tubuhnya, berharap sang kakak akan bergerak lagi. "Doni, jangan mati, Don... Doni!"

Sang ayah berjalan menghampiri Ruri, kemudian merangkulnya dari belakang.

"Sudahlah, Nak... Doni sudah tiada," ujarnya.

"Tapi... tapi, Yah!"

"Sudahlah, relakan saja... Ini memang sudah resiko kita sebagai bangsa nyamuk. Ayo kita pergi, sebelum kita menjadi korban berikutnya."

Sang ayah terbang pergi sambil menggandeng Ruri di sampingnya, meninggalkan jasad Doni yang terbaring kaku di dekat si anak manusia. 

"Inilah kodrat kita sebagai nyamuk, Nak. Bagi kita, pergi mencari makan sama dengan pergi mempertaruhkan nyawa. Mulai sekarang kau juga harus hati-hati, agar tidak jadi seperti Doni," sang ayah bertutur lirih.

Ruri mendengarkan kata-kata sang ayah itu dengan seksama. Perburuan pertama dalam hidupnya ini ternyata tidak berjalan semudah yang dibayangkan. Ia menoleh ke belakang, memandangi jasad Doni yang semakin lama semakin terlihat menjauh. Pemandangan ini ia patrikan ke dalam ingatannya kuat-kuat, agar ia tak pernah lupa resiko apa yang ia ambil setiap kali ia pergi berburu.

"Aku berjanji akan menjadi pemburu yang tangguh, Yah," ucap Ruri. Ia melepaskan tangannya dari pegangan sang ayah, kemudian mereka terbang pulang menuju sarang. Sekilas terngiang kata-kata sang ayah sebelum mereka pergi berburu beberapa saat lalu.

"...menghisap darah secukupnya... jangan terlalu kenyang..."

--------

P.S. : Cerita ini hanya fiksi belaka. Mungkin akan ada pembaca yang merasa perilaku nyamuk dalam cerita ini tidak masuk akal, karena nyamuk bukan mamalia.

[Fabel] Mangsa Pertama RuriBaca cerita ini secara GRATIS!