8. Kesedihan

430 43 38

Kevan menatap gusar Ariana yang tengah terbaring di atas tempat tidur UKS.
Mata cewek itu masih terpejam. Sudah lewat sepuluh menit lalu bel pulang berbunyi dan cewek itu masih belum sadar sama sekali.

Dia berada di sini karena teman Ariana memaksanya agar bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan dan walaupun dia mempunyai sikap yang dingin dan cuek, dia tetap cowok yang bertanggungjawab.

Kevan berniat keluar, baru saja ia membuka pintu, ia tersentak kaget ketika melihat dua sosok cewek berada di depan tepat di depan pintu.

"Lo mau keluar?" Tanya Luna dengan berani. "Kalau lo keluar." Luna menaruh jari telunjuknya di leher sambil membuat gerakan memotong leher.

Setelah melakukan gerakan ancamannya, Luna melemparkan tas rasel milik Ariana kepada Kevan. Kevan menaikkan sebelah alisnya. "Gue nggak mau tau, lo harus antar teman gue, bye." Serunya kemudian menarik seorang cewek yang mempunyai kulit sangat putih--yang ia tahu bernama Della melenggang dari sana. Kevan hanya diam memandang kosong ke arah pergi kedua gadis itu dengan ekspresi datar.

"K--kak, dia udah sadar," ucap seorang cewek yang kebetulan mendapat tugas di UKS--memecahkan lamunannya.

Kevan menoleh dan mengangguk lalu berjalan menuju tempat Ariana, ia menaruh tas Ariana di kursi dan melihat Ariana yang sedang duduk sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan seraya merintih kesakitan.

"Lo nggak papa?" Ariana menoleh, kemudian tersenyum lebar ketika melihat Kevan.

"Kok gue bisa di sini?"

"Lo kena bola basket."

Ariana menyipitkan matanya memandang Kevan. "Pasti lo ya? Yang lempar bola itu?" Tanyanya curiga, yang dibalas Kevan deheman.

"Lo udah bisa gerak?" Ucapnya mengalihkan pembicaraan. Ariana menggeleng karena kepalanya masih terasa sakit, ia jadi berpikir, bagaimana cara Kevan melempar bola basket itu sampai sesakit itu padahal biasanya jika ia terkena bola basket ia tidak sampai pingsan seperti ini.

Kevan menghela napas berat, memakaikan Ariana sepatu kemudian membungkuk di depan kaki Ariana.

"Lo ngapain?"

Hening, Ariana menekuk bibirnya. Namun, ia tersentak kaget ketika Kevan menarik tangannya untuk melingkari leher cowok itu kemudian menggendongnya di punggung.

"Kevan!" Pekiknya. Ia hanya mampu mengeratkan pelukannya di leher cowok itu karena tubuhnya yang sudah melayang terangkat. "Lo ngapain?"

"Diam aja bisa?" Ucap Kevan penuh penekanan. Ariana bungkam dengan mengerucutkan bibirnya menahan kesal, tapi ia tidak mampu menahan senyum dengan rona bahagia ketika Kevan mengambil tasnya kemudian berjalan keluar. Wajahnya memanas tidak bisa ditahan, bahkan ia merasa kupu-kupu menggelitik perutnya. Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya sekarang.

Ketika keluar dari UKS, Ariana menunduk di bahu Kevan malu karena banyak siswa yang menatap mereka. Beruntung tidak terlalu banyak siswa yang memperhatikan mereka karena sudah banyak dari mereka yang pulang.

Ariana mengeratkan lilitannya di leher Kevan. "Kenapa?" Tanya Kevan.

"Kok lo gendong gue?"

"Katanya nggak bisa gerak."

"Iya sih, hehe..."

Lagi-lagi Ariana mengulum senyum, ia bahkan menggigit bibirnya agar tidak tersenyum terlalu lebar. Namun, ketika ia pikir bahwa Kevan akan membawanya ke parkiran dan berhenti di depan motornya untuk mengantarnya pulang, cowok itu justru berjalan menuju gerbang dan menghentikan sebuah taksi yang baru saja menurunkan penumpang.

Senyum Ariana pudar, ia menatap Kevan horor. "Lo nyuruh gue pulang naik taksi? Lo nggak ngantar gue?"

Kevan tetap diam dan membuka pintu penumpang. Ariana lagi-lagi mengeratkan lilitannya di leher Kevan lalu menggeleng. "Nggak mau! Ihh... kok lo nggak nganterin gue? Pokoknya nggak mau kalo naik taksi," rengeknya manja.

Kevan mendengkus lalu memaksa Ariana duduk di jok penumpang. Lagi Ariana menggeleng seraya menarik-narik tangan Kevan. "Van, jangan donk. Anterin gue aja, please," ucap Ariana menunjukkan puppy eyes miliknya.

Namun, Kevan memutar bola matanya dan menyentil dahi Ariana, membuatnya meringis sambil mengusap-usap dahinya.
"Jangan manja."

Ariana mengerucutkan bibirnya dan melepaskan tangan Kevan. "Gue nggak manja!" Sergahnya cepat.

Kevan mengangkat bahunya lalu menutup pintu penumpang. Beranjak ke pintu depan memberikan alamat rumah Ariana serta uang. Ketika taksi mulai berjalan, Ariana menatap ke belakang, melihat punggung Kevan yang menjauh.

"Jadi begini rasanya diterbagin di langit ke tujuh, terus dihempaskan begitu saja." Ujarnya dengan bibir tertekuk.

***

Ariana menguap untuk yang kesekian kalinya ketika memasuki kamar, ia menghempaskan dirinya di tempat tidur, matanya menatap langit-langit di kamarnya yang berwarna biru.

Dulu, ketika masih kecil ia sangat menginginkan rumahnya terbuat dari kaca sehingga ketika malam ia akan melihat bintang-bintang dan bulan dengan jelas, tapi sayang itu hanya hayalan semata.

Selagi menatap kosong langit-langit kamarnya ia membayangkan wajah seseorang yang sangat ia rindukan, Mama.

Rasa sakit menyerangnya tanpa disangka-sangka dan membuat dadanya sesak. Ia memukul-mukul dadanya ketika mengingat sang Mama.

Matanya terpejam, tanpa sadar sebulir air mata meluncur bebas di pipinya dan diikuti bulir lainnya. Membayangkan bagaimana ia kehilangan Mamanya tepat di depan matanya sendiri sangat menghantui dirinya, ia selalu merasa bersalah di setiap waktu.

Suara pintu terdengar, ia dengan cekatan menghapus air matanya kemudian beranjak membuka pintu. Di sana papanya berdiri dengan senyuman hangat, Ariana juga membalas dengan senyuman tulus lalu memeluk Papanya.

"Kamu kenapa? Kok matanya bengkak?" Tanya Arka--mengusap pucuk kepalanya.

"Aku ingat Mama, Pa."

"Mama pasti udah tenang di sana. Kamu jangan nyalahin diri kamu terus. Papa juga sadar kalo Papa sempat benci kamu karena Mama meninggal. Maafin Papa."

"Ini bukan salah papa kok."

"Iya, ini memang bukan kesalahan kita berdua, ini adalah takdir. Jadi..." Arka melepas pelukan Ariana kemudian memandanginya lembut, "Anak papa yang cantik ini, jangan nangis mulu. Kalau Mama liat nanti ikut sedih juga." Ucapnya seraya mengacak pucuk kepala Ariana.

"Kamu udah makan sayang?" Ariana menggeleng. "Yaudah, ayo ke depan, Bi Raisan udah masakin nasi goreng kesukaan kamu loh."

Ariana mengulum senyum tulus, ia menatap Papanya sendu, ia sangat mengetahui bahwa papanya itu masih sering seperti dirinya ketika merasa rindu kepada Mamanya karena dia sering mendapati Papanya tidur dengan kedua mata basah seraya memeluk bingkai foto Mamanya.

***

Annyeoung 😁

Udah lama nggak update :(( aku bingung mulu gimana lanjutinnya, tapi alhamdulillah minggu ini selesai juga😍😍

Gimana part kali ini? Yuk koment next biar nggak sider😍, walaupun cuma next aku senang kok :)) tapi lebih bagus lagi kalo di komentarin semua😅😆

Thanks yang udah setia baca ceritaku ini😚

I purple 💜 u

Salam hangat😊
Alynaakira😚

18 November 2018

Memory Of The PastRead this story for FREE!