16

14.7K 886 7

Carissa menatap Maxim tertegun. Lelaki misterius itu telah kembali. Apa yang dilakukan lelaki itu di sini?

Carissa menjauh dan berjalan mencari pintu keluar. Ia akan kabur lagi dan berpikir tidak akan pernah kembali lagi. Ini adalah kesempatannya, namun tiba-tiba seseorang mencekal tangannya. Maxim.

Carissa menatap lelaki itu dengan tajam. "Apa maumu?" tanyanya.

"Ikutlah denganku." ucap Maxim lalu menariknya pelan dan menuntunnya menuju pintu masuk menuju dapur. Carissa menatap para pelayan dan koki sedang sibuk menyiapkan makanan untuk para tamu.

Maxim akhirnya menemukan pintu keluar dan membawanya ke sana.

"Kemana kau membawaku?" tanya Carissa.

Setelah sampai di luar, Maxim melepaskan cekalannya dan menatap Carissa lekat. "Aku akan membawamu pergi."

Carissa menatap Maxim dengan pandangan tidak percaya. Lelaki itu sekali lagi membantunya untuk kabur?

"Aku tidak mengenalmu." ucap Carissa, mengingat Maxim adalah salah satu anggota organisasi berbahaya sekaligus bodyguard dikeluarganya. Kejadian setahun yang lalu, masih membuatnya tidak mempercayai lelaki itu.

"Aku bahkan lebih mengenalmu dibandingkan dirimu sendiri." balas Maxim membuat Carissa menautkan alisnya.

"Kita tidak mempunyai banyak waktu. Kau ingin ikut aku atau tidak?" tanya Maxim menatap kebingungan yang terlihat jelas di wajah Carissa

"Kenapa kau mengatakan itu? Memang siapa kau sebenarnya?" tanya Carissa balik.

"Maka ikutilah denganku. Aku akan memberitahumu."

Carissa teringat ucapan Varrel yang tidak sabar untuk menikahinya segera. Itulah alasannya, ia ingin kabur sekarang. Tapi kabur bersama Maxim untuk kedua kalinya, bukanlah bagian dari rencananya.

Maxim mengalihkan pandangannya dari Carissa dan melihat bodyguard Varrel yang masuk ke dalam dapur. Carissa mengikuti arah pandangan lelaki itu dan seketika membelalak.

Maxim langsung menarik tangan Carissa dan membawanya pergi, sebelum bodyguard Varrel itu melihat mereka.

***

Varrel menatap bodyguardnya yang baru saja menghampirinya. Wanita yang sedari tadi menempel padanya, ia usir dengan halus, karena ia merasa sudah bosan. Varrel ingin bersama tunangannya, namun ia tidak menemukan keberadaan gadis itu. Maka dari itu, ia menyuruh bodyguard-nya untuk mencari keberadaan Carissa.

"Ada apa?" tanya Varrel dengan pandangan serius, melihat bodyguard-nya tidak datang bersama Carissa.

"Maaf Tuan. Kami tidak melihat keberadaan Lady Carissa. Tapi, yang lainnya sedang mencari di lokasi luar pesta."

Varrel meletakkan sampanye-nya di nakas dengan kesal. Lagi-lagi gadis itu mencari kesempatan untuk kabur. Habis sudah kesabarannya.

"Kau, suruh yang lain untuk mengantar Lamborgini padaku. Aku akan mencarinya. Lalu, kau dan yang lain cari gadis itu sampai dapat." perintah Varrel dengan penuh penekanan, lalu bodyguard itu pergi, melaksanakan tugasnya.

"Shit." umpat Varrel kesal lalu pergi meninggalkan teman-temannya.

***

"Kita akan kemana?" tanya Carissa menatap Maxim yang sedang mengendarai mobilnya.

"Kita akan pergi ke Bristol." jawab Maxim, sesekali menatap kaca spion. Ia merasa ada yang mengikuti mereka.

Carissa menautkan alisnya melihat raut wajah Maxim yang mulai menegang lalu ia menatap ke belakang. Seketika Carissa membelalakkan matanya, menyadari bodyguard Varrel telah mengetahui keberadaan mereka.

"Mereka mengikuti kita." ucap Carissa gelisah. Ia menatap Maxim yang sedang memakai topeng hitam ke kepalanya.

"Kenapa kau memakai itu?" tanya Carissa bingung.

"Agar mereka tidak mengetahui identitasku." jawab Maxim seadanya, lalu ia mempercepat laju mobilnya.

Dor - Suara tembakan terdengar, dan peluru mengenai kaca mobil bagian belakang. Untung saja kaca mobil Maxim anti peluru.

"Apa kau membawa pistol?" tanya Carissa pada Maxim.

"Ada di belakang." jawab Maxim masih fokus pada jalan dan sesekali melihat kaca spion. Ia tahu Carissa bisa menembak.

Carissa mencari pistol di jok belakang dan menemukannya di sana. Lalu, ia kembali duduk dan membuka kaca mobil.

Ia mengeluarkan sebagian tubuhnya lalu membidik pistolnya pada mobil yang mengikuti mereka.

***

"Jangan tembak tuan putri. Ia tidak boleh terluka." ucap seorang pria pada rekan kerjanya, lalu mempercepat laju mobilnya mengikuti mobil yang ada di depannya.

Pria itu mengangguk. Tiba-tiba mobil Hummer datang dari salah satu gang dan menghantam sisi kiri mobil mereka hingga mobil mereka terbalik.

Di sisi lain, Maxim yang melihat itu, tersenyum puas, lalu ia menghubungi seseorang, "Thanks, Derek."

"Sama-sama bro." lalu Maxim mematikan sambungannya.

Carissa kembali ke posisi semula. Ia menyandarkan punggungnya dan menghela napas lega.

"Kita sudah aman sekarang." Ujar Maxim di sampingnya.

Carissa menangguk lalu memejamkan matanya. "Kau benar. Sudah aman."

Maxim menoleh ke arah Carissa dan menatap wajah gadis itu sebentar, lalu ia kembali fokus pada jalan.

***

Carissa terbangun dari tidurnya. Ia menoleh ke samping dan tidak menemukan keberadaan Maxim di sana. Carissa mengernyit bingung. Kemana lelaki itu?

Carissa keluar dari mobil dan melihat sekitar. Ternyata mereka sedang berada di parkiran sebuah hotel. Carissa melihat Maxim yang baru keluar dari hotel itu dan mendekat ke arahnya.

"Kita akan menginap dulu di sini. Ini sudah malam. Aku tahu kau pasti kelelahan."

Carissa mengangguk lalu mereka masuk ke dalam hotel. Carissa menatap hotel itu sejenak. Hotel itu sama sekali jauh dari dari kata mewah dan berlokasi di kota kecil.

Setelah masuk ke dalam kamar, fasilitas kamar itu hanya seadanya saja. Carissa tidak akan bertanya, kenapa Maxim hanya memesan satu kamar.

"Maxim," panggil Carissa mengalihkan pandangannya dari seisi kamar dan menatap Maxim. Lelaki itu juga menatapnya, namun begitu lekat. Maxim selalu menatapnya seperti itu.

Tapi memandang mata itu begitu lama, membuatnya tenggelam pada tatapan dalam itu. Hingga Carissa sadar, Maxim mendekat ke arahnya dan menipiskan jarak diantara mereka. "Ya?"

Deru suara yang begitu lembut dan menenangkan itu, entah mengapa menghangatkan hati Carissa. Ia merasa telah terbiasa berdekatan dengan Maxim dan Carissa tidak tahu kenapa itu bisa terjadi.

"Terimakasih."

Biarpun ia masih belum bisa mempercayai Maxim, Carissa merasa ia harus berterimakasih pada lelaki itu. Karena tanpa bantuan Maxim, setahun yang lalu, Carissa akan berakhir dengan lelaki seperti Varrel.

Maxim menatapnya begitu lama lalu tersenyum tipis. Ia menggenggam tangan Carissa dengan lembut. "Sama-sama."

Carissa tersenyum mendengarnya dan masih menatap mata indah itu. Tiba-tiba Maxim mendekatkan wajahnya begitu cepat dan mendaratkan bibirnya pada bibir ranumCarissa.

Carissa membelalakkan matanya, terkejut. Ia melihat mata Maxim yang tertutup, menikmati ciuman mereka.

Maxim melumat bibirnya dengan lembut, membuat Carissa terlena dan mulai menikmatinya. Carissa bisa saja menjauh tapi ia tidak ingin, karena ia menyukainya.

***

Segini duluuuu😪
Masih semangat kok. Makasih ya, udah kasih vote. Aku sayang banget sama kalian..
Makasih juga udah bacaa..

Tunggu next nya yaaaa..

IG: capricorn_rere

MY MYSTERIOUS BODYGUARDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang