Part 49

1.5K 71 2

~~~

Pagi ini, Sye sudah rapi dengan t-shirt yang dipadukan dengan rok a-line berwarna biru laut yang membuat dirinya terlihat jauh lebih manis. Rambut curly-nya dibiarkan terurai dengan anting pom-pom yang menggantung manis di telinganya.

Tak biasanya Sye sudah serapi ini dengan waktu yang bisa dibilang masih terlalu pagi untuk Sye yang terbiasa bangun pagi di hari libur. Carlos yang menyuruhnya bangun lebih awal karena ia meminta Sye untuk menemaninya membeli sesuatu untuk melamar Tresya nanti malam. Dan itu membuat Sye senang.

“Ayo, Bang. Aku udah siap nih,” ucap Sye sedikit merapikan t-shirt dan tatanan rambutnya.

“Pamit sama Papi dulu,”

Sye menganggukan kepalanya seraya tersenyum ke arah Carlos lalu berlari menaiki anak tangga menuju kamar ayahnya. Sye mengetuk pintu kamar Romy pelan karena ia takut ayahnya sedang tidur dan akan terkejut jika ia mengetuk pintu terlalu keras. Merasa tak mendapat jawaban dari ayahnya, Sye langsung membuka pintu kamar Romy dan benar saja, Romy sedang tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Sye tak tega membangunkan Romy hanya untuk berpamitan. Maka dari itu, ia memutuskan untuk kembali ke bawah menemui Carlos yang tengah menunggunya.

“Papi tidur, Bang. Nggak tega kalo dibangunin. Pesen sama Bi Ijah aja,”

“Oh gitu? Ya udah kamu bilang sama bibi sana,” perintah Carlos yang kemudian dibalas anggukan oleh Sye.

Sye berjalan menuju dapur untuk menemui asisten rumah tangganya. “Bi, aku sama Bang Carlos mau pergi, mau pamit sama Papi tapi Papi lagi tidur. Nanti, kalo Papi nyariin kita, bilang aja kita lagi cari barang-barang buat Abang ya,” pesan Sye kepada asisten rumah tangganya.

“Oh iya, Non. Nanti bibi sampaikan,” ucap Bi Ijah mengangguk patuh.

“Ya udah aku pergi dulu ya, titip Papi.” Sye berlalu dari hadapan Bi Ijah, bergegas menuju keluar rumahnya menghampiri Carlos yang sudah menunggunya di dalam mobil. “Ayo berangkat. Aku udah bilang bibi,” perintah Sye pada kakaknya setelah masuk ke dalam mobil.

Carlos melajukan mobilnya membelah jalanan Ibukota yang cukup ramai pagi itu. “Nanti kamu bantu Abang pilihin cincin buat Kak Tresya, ya,” pinta Carlos tanpa memalingkan pandangannya ke arah adiknya.

“Iya, nanti aku bantu pilihin,” balas Sye yang kemudian dibalas senyuman oleh Carlos. “Yang paling mahal,” lanjutnya yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Carlos.

“Nggak yang mahal-mahal juga,”

“Kalo mau tunangan itu harus totalitas. Masa tunangan beli yang murahan. Gengsi dong,” ucap Sye dengan senyum miringnya.

“Iya udah terserah kamu. Pokoknya pilihin cincin yang cantik, anggun, dan pas di jari Kak Tresya. Harga belakangan deh,” pesan Carlos pada Sye yang kemudian mengangguk patuh seraya tersenyum lebar.

Sesampainya mereka di sebuah pusat perbelanjaan, mereka langsung berjalan menuju tempat yang menjual perhiasan-perhiasan yang cantik. Sye yang lebih tahu dimana toko perhiasan itu pun berjalan mendahului Carlos yang asyik bermain handphone di belakangnya.

“Bagus semua, Bang. Susah milihnya,” keluh Sye yang bingung memilih cincin untuk Tresya.

“Pilih yang paling bagus deh bagi kamu,”

Sye menganggukan kepalanya lalu kembali mengedarkan pandangannya ke beberapa cincin yang ada di dalam etalase. “Emm, Ko, coba liat yang ini ya,” pinta Sye pada pemilik toko tersebut untuk mengambilkan sebuah cincin dengan ukiran yang dihiasi beberapa permata di atasnya.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!