Part 47

1.5K 71 0

~~~

Hari kedua mereka liburan, mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat bernama Kahianga Peak di Pulau Tomia. Karena di Wakatobi tidak ada pegunungan, daratan tertinggi di Pulau Tomia ini menjadi lokasi yang mereka pilih untuk menghabiskan hari itu sambil berpiknik kecil dan menyaksikan sunset.

“Parah ini bagus banget, Kak.” puji Sye yang takjub dengan pemandangan di depannya.

“Iya dong, kalo nggak bagus, buat apa aku ajak kalian ke sini. Ya udah ayo cepet dibentangin tikernya buat duduk kita,” perintah Tresya pada kedua laki-laki yang sudah membawa perlengkapan piknik di tangan mereka. “Sye, kita ke sana yuk!” ajak Tresya yang kemudian menarik tangan Sye untuk duduk di tempat yang tak jauh dimana mereka akan berpiknik.

“Indah ya, Kak.”

“Kamu seneng?” tanya Tresya setelah mereka duduk di atas rerumputan yang terlihat segar.

Sye menoleh ke arah Tresya lalu tersenyum ke arahnya. “Banget. Makasih, Kak udah ajak aku kesini. Sebagai balas budinya, aku doain aja deh supaya Kak Tresya cepet-cepet nikah sama Bang Carlos,” kekeh Sye yang kemudian disambut gelak tawa dari keduanya.

Lagi-lagi mereka asyik berbincang berdua tanpa mempedulikan Faldo dan Carlos yang mulai jenuh menunggu mereka selesai bertukar cerita. Faldo yang merasa ponselnya berbunyi pun segera merogoh sakunya untuk mengambil benda pipih itu dan mengangkat panggilan masuk untuknya. “Bentar ya, Bang.” pamit Faldo yang kemudian beranjak dari tempatnya menuju tampet yang lebih sepi.

Tak sengaja, Sye melihat Faldo yang sedang berbincang dengan seseorang melalui sambungan telefon dengan senyum yang terus muncul di wajahnya. Tak mau ambil pusing, Sye membuang jauh-jauh pikiran negatifnya tentang siapa yang menelfon Faldo saat itu. Beberapa saat kemudian, Faldo menyudahi percakapan itu dan menoleh ke arah Sye lalu melambaikan tangannya seraya tersenyum ke arah Sye. Sye yang melihat itu pun melakukan hal yang sama dengan Faldo.

“Kalian mau sampe kapan di situ? Nggak tau apa kalo kita udah otw jamuran nih nunggu kalian di sini,” protes Carlos setengah berteriak kepada kedua perempuan yang kemudian menoleh ke arahnya.

Tresya dan Sye pun bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju tempat mereka berpiknik. “Siapa yang udah bikin makanan?” tanya Sye yang memang semalam mereka sudah membuat perjanjian bahwa siapa diantara Faldo dan Carlos yang sudah lebih dulu membuatkan makanan untuk Sye dan Tresya, maka dia akan mendapat hadiah dari ketiganya saat makan malam nanti.

“Aku. Faldo mah dari tadi nggak ngapa-ngapain. Telfonan mulu, nggak tau sama siapa tuh, Sye.” ucap Carlos membanggakan diri.

Sye dan Tresya saling beradu tatap seolah berbicara melalui batin supaya tak bisa di dengar oleh Faldo dan Carlos. “Wah, Abang hebat! Bikin apaan emang?” tanya Sye seolah meledek Carlos yang bahagia karena berhasil membuatkan makanan lebih dulu untuk mereka.

“Dua sandwich buat dua cewek cantik,” ujar Carlos seraya menyodorkan dua sandwich yang sudah ia buat untuk Sye dan Tresya.

“Waah terimakasih!” seru keduanya secara serentak.

“Habis ini kita mau ke mana, Bang?” tanya Faldo yang duduk di hadapan Sye. Carlos menoleh ke arah Faldo lalu memutarkan kedua bola matanya dan mendengus kasar karena pertanyaan Faldo barusan. “Kenapa ngeliatinnya kayak gitu?”

“Lah lo ngapain tanya gue coba? Tour guide nya kan Tresya. Gue mana tau tempat-tempat di sini,” ujar Carlos sewot yang kemudian menyuap sandwichnya.

“Ya kan siapa tau lo tau. Kak, habis ini mau ke mana?” tanya Faldo pada Tresya seraya menaikkan satu alisnya.

“Emmm, kita bakal di sini sampe sore. Terus nanti malem kita makan malem di resort lain yang udah aku booking,” jelas Tresya dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!