Chapter 1 - The Proposal

69.4K 457 30

 Gadis cantik, berambut panjang sebahu mengenakan kemeja putih dan rok dengan warna abu-abu tampak berjalan keluar dari satu gedung perkantoran di daerah Jakarta Selatan sore itu. Dengan membawa tas kerjanya dan blazer abu-abu yang disampirkan di lengannya ia menghampiri mobil sedan hitam yang telah terparkir di depan pintu masuk gedung. Bergegas dia membuka pintu mobil di sisi penumpang bagian belakang dan langsung masuk kedalamnya.

”Sore Van...El, sorry lama.”, sapa gadis itu pada sopir yang menjemputnya.

Gadis itu adalah Maharani Janitra Winata, staff marketing senior dari satu perusahaan kontraktor di daerah Jakarta Selatan. Dan sore ini dia sedang duduk tepat di belakang adik satu-satunya Elysia Maheswari Winata yang tidak kalah cantik dengannya. Hari ini mereka mengadakan acara makan bersama dengan teman istimewa Elysia yang sedang mengendarai mobil tersebut.

It’s okay Mbak.”, ucap lelaki itu sembari mengedipkan matanya.

”Wuah.....beraninya main mata di depan Ely!”, tegur Rani pada pemuda tersebut.

“Haha...ya ampun mbak, kan ga ada niat aneh sama sekali.”, ucap Irvan mencoba membela diri.

Irvan Nafian, pemuda yang tidak jauh berbeda umurnya dengan Rani adalah lelaki yang beruntung karena bisa mendapatkan Ely seorang gadis yang periang. Gadis yang ia sukai sejak awal bertemu, ketika pertama kali Ely bekerja di kantor mereka saat ini.

“Iya nih mbak, Irvan memang gitu suka ganjen.”, sahut Ely menimpali teguran Rani pada kekasihnya.

Irvan tertawa renyah mendengar ucapan gadisnya tersebut, ”Tapi kamu suka kan?”, ucapnya sambil mengedipkan matanya lagi namun kali ini untuk Ely.

”Tuh kan!”, ucap Ely untuk meyakinkan dan langsung diamini oleh Rani dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tidak lama terdengar lagu time to say goodbye dari Andrea Bocelli mulai menemani perjalanan sore mereka kali ini ketika Ely menekan tombol on pada media player di hadapannya. Seperti mencoba mengurangi penat mereka setelah seharian beraktifitas, lagu ini menenangkan dan membuat penumpang mobil tersebut terdiam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.

”Acara makannya jadi kan mbak? Di tempat yang biasa?”, tanya Ely tiba-tiba.

“Iya, bukannya itu memang maksud kalian ngajak mbak pulang bareng? Karenanya mbak ga bawa mobil.”, jawab Rani menegaskan.

“Sip deh, tenang mbak ditraktir kok.”, ucap Ely sembari mengacungkan dua ibu jari tangannya.

”Iya..iya, kalaupun bayar sendiri juga ga masalah kok El.”, jawab Rani datar sambil menikmati sesaknya kemacetan yang terjadi di awal minggu seperti sekarang ini dengan menatap keluar jendela mobil.

Ely tidak dapat melanjutkan pembicaraan lebih lanjut kalau Rani sudah berucap datar seperti itu, dia tahu betul kakaknya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Keadaanpun kembali hening dan hanya ditemani oleh lagu-lagu seriosa kesukaan dari Irvan si pemilik mobil.

Setelah berlama-lama terjebak di tengah kemacetan, akhirnya mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan di bilangan Semanggi. Dan begitu memarkirkan mobilnya, Irvan beserta kedua gadis tersebut segera memasuki pusat perbelanjaan itu dan menuju restoran Jepang langganan mereka.

Merekapun memesan makanan masing-masing setibanya di meja pilihan mereka tanpa sedikitpun membuka menu. Menunjukkan betapa seringnya mereka berkunjung ke restoran itu.

Dan ketika menunggu makanan yang dipesan datang, “Ehem, mbak ada yang mau kami bicarakan.”, Ely berucap sementara Irvan langsung menggamit jemarinya seakan memberi dukungan padanya. Ely membuka perbincangan mereka petang itu, pembicaraan yang sepertinya menjadi tujuan utama bagi Ely pada acara makan malam ini.

Marry U (edited)Baca cerita ini secara GRATIS!