7. Matahari

495 50 14

Kamu itu seperti matahari, matahari yang selalu ada di setiap hariku, sebagai sumber ketenanganku

-Kevan Athaya Putra

🌞🌞🌞

Hari ini adalah hari yang sekian kalinya Kevan duduk di taman sendiri memandangi air mancur yang ditempati banyak ikan hias--di jam istirahat pertama yang digunakan kebanyakan murid duduk di kantin untuk mengisi perut. Mungkin untuk sebagian orang hal ini sangat membosankan, tapi menurut Kevan di saat beginilah hatinya terasa tenang, tidak ada suara yang mengganggu pendengarannya, hanya terdapat suara percikan air mancur yang tenang.

Kevan memasang earphone di telinganya, memutar lagu Best Part milik Daniel Caesar. Seiring lagu itu berputar, matanya terpejam. Ia menyandarkan bahunya di belakang kursi taman--yang tepat di hadapan air mancur.

Hamparan sinar matahari yang hangat membuatnya tenang. Perlahan matanya mulai meredup, nafasnya naik turun dengan teratur, kesadarannya mulai hilang perlahan.

"Woi, lo dengerin apaan?" Ucap seseorang--yang menurut Kevan perempuan--dengan suara yang cempreng. Cewek itu melepaskan salah satu tali earphone Kevan dan memasangkannya di telinga.

Kevan yang masih belum sepenuhnya sadar membuka matanya perlahan, matanya memburam melihat siluet seorang cewek dengan rambut panjang sepinggang berwarna cokelat yang juga menutupi sinar mataharinya.

Kevan mendengkus keras, setelah melihat Ariana yang tersenyum seraya duduk di sampingnya. "Lo gangguin tidur gue." Ucap Kevan ketus.

Ariana tidak menghiraukan perkataan Kevan, ia mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama. "Selera musik lo bagus. Gue juga suka lagu ini," ucapnya mengalihkan pembicaraan.

"Nggak nanya." Jawab Kevan, ia mengambil kembali earphonenya, lalu memasukkannya kembali di saku celana hitam panjangnya.

Hening. Tidak ada lagi pembicaraan. Kevan sibuk menatap air mancur dengan diam. Sedangkan Ariana bergerak-gerak tak menentu, karena keheningan yang berlangsung lama.

"Nih roti dan air mineral buat lo," seru Ariana seraya memberikan roti dan sebotol air mineral kepada Kevan.

Kevan menoleh, memandangnya dengan kerutan di dahi. "Aman kok, nggak pake sianida." Potong Ariana cepat seolah menebak apa yang ada dipikiran Kevan.


Berhubung perut Kevan yang terus berbunyi dari tadi karena tidak sarapan, ia mengambil roti itu dan membuka pembungkusnya, kemudian ia memasukkan roti itu ke dalam mulut. "Cokelat keju?" Ariana mengangguk seraya tersenyum lebar yang membuat matanya menyipit.

"Lo nggak ke kantin?" Tanya Ariana, Kevan menggeleng, ia masih menikmati rasa cokelat dan keju di mulutnya. "Kenapa?"

"Males."

"Berarti lo nggak makan donk?"

"Hmm."

"Nggak laper emang?" Kevan memutar bola matanya jengah terus ditanya, tapi tetap saja ia menggeleng.

"Kenapa lo belum pergi?" Sindir Kevan tegas, ia menatap tajam Ariana seolah-olah berkata 'Kenapa lo nggak pergi ajah dari sini?'

"Gue mau nemenin lo." Sahutnya tidak peduli dengan tatapan tajam Kevan, ia malah mengulas senyum memperlihatkan gigi putihnya yang tertata rapi.

Memory Of The PastRead this story for FREE!