Part 46

1.6K 74 1

~~~

Dua hari setelah kejadian dimana Karel menyandera Sye. Carlos dan Tresya memenuhi janji mereka untuk mengajak Sye dan Faldo liburan ke Wakatobi selama lima hari untuk menenangkan pikiran dan hati Sye. Saat ini, mereka tengah berjalan untuk menuju sebuah pantai yang indah di sana.

Sesampainya mereka di pantai itu, Tresya menarik tangan Sye lalu mengajaknya bermain air bersama. "Saatnya bersenang-senang, Syeila!" seru Tresya seraya menciprati Sye dengan air laut.

"I will leave my load here and start happiness in Jakarta!" ujar Sye sedikit berteriak karena suara ombak yang membuat Tresya tak mendengar suaranya.

Semburat senyum muncul di wajah dua laki-laki yang tengah menatap kedua gadia dari tepi pantai. "Gue seneng, liat Sye bisa ketawa lagi kayak gini setelah Mami pergi," ucap Carlos seraya menekuk kedua kakinya.

"Apalagi gue, Bang. Nggak tau kenapa, gue selalu nggak tega kalo liat dia nangis," tutur Faldo membuat pengakuan.

"Percaya deh, bocah baru pacaran jadi masih suka cemas-cemas kambing," ledek Carlos sambil menyikut lengan Faldo. Faldo terkekeh mendengar perkataan Carlos.

"Hei, boys! Ayo sini, jangan cuma berani di pinggir doang!" teriak Sye seraya melempar segenggam pasir ke arah Faldo dan Carlos.

"Wah ngajak perang?" ujar Carlos seraya menaikkan satu alisnya. Carlos berlari ke arah Sye untuk membalaskan dendamnya dengan Faldo yang mengekor di belakangnya. Carlos mengangkat tubuh Sye layaknya seorang balerina dan Sye merentangkan tangannya. Angin sepoi-sepoi sore itu seolah membantunya menghanyutkan seluruh beban yang baru ia dapatkan.

Mereka semua larut dalam kebahagiaan yang selama ini Sye nantikan. Kebahagiaan yang membuat semua lupa akan pedihnya kehidupan. Walaupun semua yang Sye dan Carlos lakukan untuk mencoba mengikhlaskan Sarah. Tapi, Carlos bersyukur karena disaat yang seperti ini, Sye memiliki Faldo yang mampu menjaganya dengan baik.

Tanpa mereka sadari, waktu sudah menunjukkan pukul 17:35 WIB dan itu saatnya sunset tiba. Sye berjalan menuju tepi pantai dan duduk di atas pasir untuk menyaksikan sunset yang akan tiba dalam waktu dekat.

"Udahan mainnya?" tanya Faldo yang baru saja datang dan duduk menyebelahi Sye.

Sye menganggukan kepalanya lalu tersenyum ke arah Faldo. "Iya, capek." ujar Sye seraya mengelap keringatnya menggunakan punggung tangannya.

"Ya udah istirahat aja, nanti pingsan lagi. Mau balik ke resort aja?" tawar Faldo seraya menaikkan satu alisnya.

Sye menggeleng ke arah Faldo, menolak ajakannya untuk kembali ke resort. "Nggak usah, cuma capek biasa aja kok. Toh juga habis ini mau makan,"

"Kalian kok udahan?" tanya Tresya yang baru saja menepi bersama Carlos di sebelahnya.

"Capek, Kak."

"Kak, itu lo tau darimana ada resort sebagus itu? Keren sumpah," ujar Faldo memuji resort yang Tresya pilih untuk mereka menginap.

"Jelas dong, Tresya. Gue pernah ke sini dan itu resort punya temen bokap gue. Makanya gue tau ada resort sekeren itu, gue aja nyaman di sana,"

Faldo membulatkan mulutnya membentuk huruf 'o' tanda mengerti ucapan Tresya. "Mau makan malem di mana? Ke resort dulu aja, yuk!" ajak Faldo seraya bangkit dari duduknya.

"Ayok!" seru Carlos, Sye, dan Tresya secara bersamaan.

♦♦♦

Setelah makan malam selesai, Sye berjalan menuju rooftop yang ada di resto tradisional itu. Rambutnya dibiarkan terurai tersibak mengikuti arah angin yang menerpanya. Matanya terpejam menikmati suasana malam itu.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!