i

3.2K 316 39
                                                  

Park Sooyoung

"Jangan dekati dia."

"Kenapa?"

"Dia aneh."

"Oh. Oke."

Namanya Park Sooyoung. Tahun ini genap berusia 16 tahun. Baru saja memasuki jenjang sekolah menengah atas.

Gadis berambut hitam itu anak kepala sekolah. Ratunya para siswa. Semua orang begitu mengelu-ngelukannya.

Dinding status tak kasat mata terlihat jelas di sekolah itu.

Kau kaya, mereka akan mengerubungimu.

Kau miskin, mereka gencar mengataimu.

Hukum rimba berlaku disana.

...

"Sooyoung, ayo ke kantin."

Sooyoung menghembus napas lelah. Hari ini ia sedang tak minat ke kantin. Tapi, ia tetap harus menjaga sikanya jika tak ingin ayahnya marah.

"Maaf, Yerim. Aku sedang malas."

Yerim merengut tak jelas. Lantas, gadis itu menggerutu sambil menarik tangan Seulgi -yang notabene duduk di belakang mereka.

"Ck. Jangan main dengan Sooyoung. Dia tidak asik."

Sooyoung tersenyum kecut mendengar hal itu. Walaupun berbisik, ia masih bisa mendengarnya. Sooyoung punya telinga, asal Yerim tahu.

Sooyoung meletakan kepalanya di kedua lengan. Berpikir mengapa hidupnya harus semembosankan ini.

Kalau boleh memilih, gadis itu lebih suka menjadi anak orang miskin yang harus bekerja untuk mencukupi hidup. Bukannya dimanja dan dikekang seperti sekarang.

Ia ingin sebuah tantangan dalam hidupnya yang monoton.

"Wah, wah. Kacamata baru?"

Sooyoung sedikit menarik atensinya ke gerombolan itu. Gerombolannya Mingyu dkk.

"Tak jera dengan yang kemarin-kemarin ternyata."

Jun itu anaknya baik. Tapi, hanya pada yang memang harus didekati saja. Dan sekarang dia sedang meraih kacamata Taehyung dan melemparnya ke Jihoon.

"Tolong kembalikan."

Sooyoung menatap gerombolan itu dalam diam.

Jujur saja, ia sudah bosan dengan kelakuan mereka yang semena-mena. Hendak menolong tapi nama baik ayahnya dipertaruhkan. Sooyoung itu serba salah.

Daripada semakin merasa bersalah, gadis itu lebih memilih pergi dari ruang kelas dan mencari udara segar.

Hidup ini memang berat, kan?

...

Sooyoung membiarkan rambutnya berantakan terkena angin. Gadis itu tertidur di atap sekolah.

Tak masalah, para guru sedang rapat hingga pulang sekolah. Absennya tidak akan terancam.

Kriet!

Tidurnya terganggu karena suara derit pintu. Gadis itu membuka mata ketika menyadari ada bayangan yang menghalangi sinar matahari.

"Siapa kau?"

"Aku..."

...

Masih test drive.

Comment tembus 30 kacoo lanjut.

Bisa ditarik ke draft sewaktu-waktu.

Btw, kacoo mau bikin gaya nulis yang baru. Semoga kalian suka.💜

anoтнer. [ vjoy ]✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang