13

14.7K 802 5


Setelah memakai pakaiannya, Carissa kembali menuju balkon dan ia mulai mengikat tali itu pada tiang pembatas balkon dengan kuat.

Namun, lagi-lagi ia mendengar suara pintu terbuka. Carissa segara menegakkan badannya dan masuk ke dalam kamar sembari menutup pintu balkon. Ia melakukannya dengan santai agar tidak ketahuan.

Di sana Carissa melihat pelayan membawa nampan berisi sarapan pagi dan meletakkannya di atas nakas lalu pergi setelah memberi hormat padanya.

Carissa yang sudah tidak makan sejak semalam, langsung melahap sarapan itu. Tidak ingin membuang waktu lama, Carissa segera menghabiskan makanannya lalu kembali menuju balkon. Ternyata posisi balkon kamar itu berada di bagian belakang mansion. Tidak ada satu pun pengawal yang sedang menjaga di sana.

Setelah memastikan ikatan tali sudah kuat, Carissa mulai turun dengan perlahan dan hati-hati hingga akhirnya kakinya menginjak tanah.

Carissa segera berlari secepat mungkin dan memanjat dinding yang tingginya sekitar dua meter itu.

Namun, Carissa merasa kesusahan saat memanjat. Carissa merobek gaun panjang itu hingga sependek di atas lutut. Carissa kembali memanjat dinding lalu meloncat turun. Setelah berhasil kabur, Carissa berlari melintasi padang rumput yang luas hingga ia menemukan jalan raya.

Di sana Carissa melihat sebuah mobil yang hendak mendekat. Carissa melambaikan tangannya lalu mobil itu berhenti tepat di depannya. Carrissa segera masuk ke dalam mobil yang telah memberinya tumpangan.

Pemilik mobil menginjak pedal gasnya dan membawa Carissa pergi bersamanya. Carissa menghela napas lega dan menoleh ke arah Si pemilik mobil yang memakai topi, membuat Carissa tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

"Terimakasih." ucap Carissa.

"Sama-sama." jawab Si pemilik mobil itu tetap fokus pada jalan yang ada di depannya.

Carissa kembali menatap keluar jendela dan melihat mansion Varrel yang telah jauh. Carissa menyandarkan punggungnya sembari menghela napas lega. Semoga Varrel tidak menemukannya lagi.

***

Setelah mendengar berita dari salah satu pelayannya, Varrel segera menuju kamar di mana Carissa berada. Di sana ia tidak menemukan gadis itu. Varrel menatap balkon yang terbuka dan melihat tali yang diikat di tiang pembatas balkon.

"Sialan." Varrel segera memanggil bawahannya dengan teriakan yang penuh amarah.

Tidak lama kemudian, salah satu bawahannya datang. "Segera cari keberadaan gadis itu dan bawa ia kemari. Bila perlu patahkan kakinya, agar ia tidak bisa kabur lagi. CEPAT!!!"

"Baik bos." lalu bawahannya pergi, segera melaksanakan tugasnya.

"Carissa.. setelah aku mendapatmu. Jangan harap kau bisa kabur lagi." gumamnya lalu pergi dari kamar itu.

***

"Dia sedang tertidur." Samar-samar Carissa mendengar seseorang sedang berbicara. Ia terbangun lalu mengedarkan pandangan dan menyadari bahwa mereka berada di pom bensin.

"Eeh, aku harus melanjutkan perjalanan. Nanti, disambung lagi." ucap lelaki itu lalu memutuskan sambungannya.

"Maaf aku ketiduran. Sepertinya, kita sudah menempuh perjalanan yang jauh. Aku akan turun di sini. Terimakasih banyak." ucap Carrissa lalu hendak membuka pintu, namun lelaki itu menahannya membuat Carissa menoleh ke arah lelaki yang tidak ia tahu siapa namanya itu.

"Aku Derek." ucap lelaki itu memperkenalkan diri dan mengarahkan tangannya ke arah Carissa.

Carissa menjabat tangan Derek dengan tersenyum. "Aku Carissa."

"Aku tahu." ucap Derek, membuat Carissa terkejut.

"Siapa kau? Apakah kau salah satu bawahan Varrel?" Carissa langsung melepas jabatan tangan mereka.

"Hei, tenang. Aku mengenal siapa kau. Tapi, sebelumnya aku ingin membicarakan sesuatu padamu."

Namun Carissa langsung turun dari mobil dan pergi meninggalkan lelaki bernama Derek itu.

Derek yang melihat itu, langsung keluar dari mobil dan mengikuti Carissa. "Hei. Ini sangat penting. Kau harus mendengarnya." teriak Derek.

Carissa terus berjalan tanpa menggubris perkataan Derek. "Maxim. Kau pernah mendengarnya?" teriak Derek lagi. Kali ini Carissa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Derek. Sudah lama sekali Carissa tidak mendengar nama itu

"Akhirnya. Kau mendengarkanku." ucap Derek menghela napas lega dan menatap Carissa. Derek merasakan terik matahari yang menerpa kulitnya hingga terbakar.

"Siapa kau? Bagaimana kau tahu nama itu?" teriak Carissa.

Derek memberi isyarat untuk masuk ke dalam mobil, karena ia sangat tidak tahan dengan panas matahari. Derek langsung masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Carissa.

"Sekarang, jelaskan padaku. Bagaimana kau bisa mengenal lelaki itu." ucap Carissa menatap Derek dengan penasaran.

Sebelum menjawab, Derek meminum air mineralnya lalu meletakkan botol air minum itu di tempatnya.

"Aku temannya."

Carissa tetap diam dan menunggu perkataan Derek selanjutnya. "Aku ingin kau tidak menceritakan siapapun tentang Maxim, termasuk Varrel."

Carissa mengerutkan keningnya tidak mengerti. Jadi ini yang ingin dia katakan?

Carissa berdecak dan bergegas keluar dari mobil. Namun, Carissa mengurungkan niatnya dan kembali menatap ke arah Derek. "Apakah sebelumnya kau memang berniat untuk menyelamatkanku dari Varrel? Agar kau dapat menyampaikan hal yang tidak penting ini padaku?" tanya Carissa.

Derek mengangguk. Carissa menghela napas dan menyandarkan punggungnya. "Kita sekarang dimana?" tanya Carissa.

"Portland." jawab Derek. "Tapi, aku hanya bisa membantumu sampai di sini." jelas Derek sembari menatap ponselnya.

Carissa mengerutkan keningnya menatap Derek yang tampak gelisah.

"Kenapa?"

"Turunlah." ucap Derek penuh penekanan tanpa menjawab pertanyaan Carissa.

Carissa menghendikkan bahu. "Aku butuh ponsel." ucap Carissa sebelum keluar dari mobil.

"Tidak ada, aku hanya memiliki satu. Turunlah." Derek mulai kesal.

"Ok. Ok. Aku keluar." Carissa keluar dari mobil.

Carissa mendengar umpatan Derek yang masih menatap ponselnya. Lelaki itu melempar ponselnya ke jok belakang, lalu pergi meninggalkan Carissa sendirian.

Sekarang ia harus bagaimana? Carissa sama sekali tidak membawa uang sepeserpun. Carissa menatap sekelilingnya. Ia harus menghubungi seseorang.

Carissa melihat mini market yang berada di seberang jalan. Ia akan meminta tolong pada siapa saja yang ada di sana, namun belum sempat ia berjalan menuju mini market, sebuah mobil hitam berhenti di depannya.

Carissa menatap mobil mewah itu. Ia mengenal siapa pemilik mobil itu. Melihat ada lambang yang begitu ia kenal di mobil itu, membuatnya tahu siapa pemilik mobil itu. Varrel.

Varrel keluar dari mobil itu dengan gaya elegannya. "Kita jumpa lagi, tunanganku."

Belum sempat Carissa kabur, seseorang menutup hidungnya dengan sapu tangan. Tidak lama kemudian, pandangannya mulai kabur dan akhirnya gelap.

***

Thank you buat yang udah kasih vote. Jangan lupa komen yaa.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya..

9/7/'18

IG: capricorn_rere

MY MYSTERIOUS BODYGUARDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang