MIMPI

28 2 0

Mimpi? Tentu saja aku punya. Makan ikan bakar dengan nasi panas misalnya. Kata orang, mimpiku itu terlalu sederhana.

Ayolah ... kita berbeda, Kawan. Sepiring nasi setiap hari sangat jarang kutemui. Biasanya hanya segelas teh manis yang kucampur parutan kelapa untuk mengganjal perut mungilku.

"Hei Jupri, dari mana kau pagi-pagi buta begini?" tanya Bu Teti dengan intonasi khas Batak.

"Biasalah Bu Tet. Tengok saja sekolah itu. Kugosok dia punya lantai," jawabku meniru gaya bicara Bu Tet.

"Rajin kali kau, Jupri. Sudah makan Kau?" tanya Bu Tet lagi saat aku hendak pergi.

"Haha ... macam mana mau makan Bu Tet, sambal belacan tak habis-habis. Bosan aku, hilang pula selera makan," gurauku santai. Walau sebenarnya, perutku sudah sangat lapar dari kemarin sore.

Tiba-tiba Bu Teti mengeluarkan plastik hitam, kemudian menyodorkan ke arahku. "Kau campur sambal belacan kau itu dengan ikan bakar ini, Jupri."

Mendengar ikan bakar, cacing di perutku semakin memberontak. Aku tersenyum sekilas. Inilah Bu Teti. Walau suaranya keras dan cara berbicaranya tak bisa santai, namun ia akan selalu berbagi jika mendapat rezeki.

"Alangkah murahnya hatimu, Bu Tet. Kenyanglah aku sampai minggu depan. Terima kasih banyaklah Bu Tet," kuambil bungkusan itu, kemudian berlari pulang.

Bu Teti terkekeh melihat tingkahku. Seakan tahu bagaimana ekspresiku ketika melahap ikan bakarnya.

***

Rahmat Jupri. Itulah aku. Seorang anak desa yang bahkan tak pernah berani untuk bermimpi.

Diusia yang sekarang, harusnya aku sudah masuk sekolah dasar. Bermain dengan angka dan belajar menulis nama.

Namun, Bapak tak akan mau menyekolahkanku. Bebannya sudah terlalu banyak. Maklum, bapak harus bertanggung jawab untuk keluarga barunya.

Kata orang, sayang sekali jika aku tidak sekolah. Selain karena sangat pandai bicara, aku juga tahu bagaimana harus bersikap. Nasib siapa yang tahu, entah 15 tahun lagi menjadi kepala desa. Begitu kata mereka.

"Cubolah kau rayu lagi Bapak kau tu, Jupri," kata Pak Uncu suatu sore.

"Idak tega aku, Pak. Nyo lah banyak beban," tolakku sambil mencomot pisang goreng.

"Kau ni, kecik-kecik lah pacak nian ngomong. Rugi idak sekolah, kau tengok anaknyo Bu Teti. Sekolah di Jakarta nyo kini," tukas Pak Uncu menepuk pundakku.

Aku terdiam sambil meremas ujung jari. Benar juga ucapan Pak Uncu.

"Hari minggu sayo ndak ke kota. Ikut dak Kau?" tawarnya.

Aku mengangguk semangat. Sudah lama sekali aku ingin ke kota. Tak mungkin kutolak kesempatan emas ini. Dan bermula dari sini pula aku berani bermimpi. Mimpi yang sangat besar.

***

Mimpiku hari ini tak lagi sama. Bukan hanya tentang ikan bakar dan nasi panas. Tapi lebih dari itu.

Pagi-pagi sekali, aku dan Pak Uncu sudah berangkat menuju kota. Karena sangat antusias, aku hampir tidak tidur tadi malam. Pagi terasa sangat lama.

Tengah hari, kami sudah sampai di kota. Pak Uncu mengajakku berhenti di masjid An-Nur. Salah satu masjid besar di kota ini.

"Ayo ambil wudhu dulu, Jupri," Pak Uncu menarikku ke tempat wudhu.

"Tapi aku dak bisa, Pak."

Pak Uncu tersenyum, "kau tengok ajo orang banyak ni. Shalat nanti ikut ajo imam," bisik Pak Uncu.

Bersinar Seperti Sang Mentari (KUMCER)Where stories live. Discover now