Part 42

1.7K 77 2

~~~

Sye melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Rasa lelah hari ini, seketika hilang selepas ia menghabiskan waktunya bersama Lyla sejak pulang sekolah tadi hingga malam hari. Seulas senyum terukir di wajahnya dengan tulus. Ia tak menyangka dapat berkenalan hingga mengobrol banyak dengan Lyla. Bahkan, ia masih tak menyangka bahwa dirinya kini tengah menjalin kasih dengan laki-laki yang dulu menjadi orang yang paling ia benci di sekolahnya.

“Syeila, tunggu!” seru Carlos yang setengah berlari menghampiri Sye yang hendak masuk ke dalam kamarnya.

Sye menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya hingga kini ia berhadapan dengan Carlos. “Ada apa, Bang? Kok kayak buru-buru gitu?” tanya Sye seraya mengernyitkan keningnya.

“Kak Tresya ngajak kamu buat jalan malem ini. Dia mau nepatin janjinya. Kamu mau kan?” tawar Carlos dengan senyum sumringahnya.

Sye mengerucutkan bibirnya seolah sedih ketika mendengar ajakan itu. “Sorry, Bang. Tapi Sye nggak bisa,”

Perlahan, senyum di wajah Carlos memudar karena jawaban adiknya itu. “Nggak bisa? Kenapa? Kamu udah ada janji sama temen kamu, ya? Ayolah ikut, kasian Kak Tresya udah ngajakin tapi kamunya nggak bisa ikut,” bujuk Carlos dengan wajah yang memelas.

Sye mencubit pipi Carlos gemas melihat wajahnya yang menjijikan ketika sedang memohon. “Nggak bisa nolak maksudnya! Ya udah, aku mandi dulu. Setengah jam lagi aku ke bawah,” ucap Sye yang kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap.

Carlos yang senang akan menghabiskan waktu dengan Tresya dan adik kesayangannya pun melompat-lompat kecil di tempat. Kemudian bersorak seraya menuruni anak tangga menuju lantai satu. Dan tanpa ia sadari, kakinya menginjak sebuah plastik kecil hingga ia terpeleset dan tubuhnya terpelanting kecil ke beberapa anak tangga berikutnya.

Carlos meringis kesakitan seraya memegangi pinggangnya yang terasa sedikit ngilu akibat benturan kecil itu. “Ck, ini siapa lagi yang naroh plastik di sini. Bikin orang jatuh aja. Ini lagi pake ada tangga di sini,” keluh Carlos mencoba bangkit dan berjalan menuju ruang tamu.

Seperti yang Sye ucapkan kepada Carlos, ia akan turun setengah jam lagi. Dan kini, ia sudah siap untuk pergi bersama kakak kesayangannya itu. Sye kembali menyisir rambutnya dengan sela-sela jarinya supaya tidak kusut dan terlihat lebih rapi. “Let’s go!

Carlos tersenyum manis ke arah Sye kemudian menarik Sye berjalan menuju mobil lalu meninggalkan pelataran rumahnya. Sunyi kembali menyelimuti mereka dalam perjalanan itu hingga akhirnya Sye memutuskan untuk membuka pembicaraan di antara mereka. “Bang, dari aku pulang sampe kita berangkat tadi, aku kok nggak liat Mami sama Papi, ya?” tanya Sye ingin tahu.

“Biasa lah, kamu kayak nggak tau mereka aja. Kalo mereka belum keliatan di rumah, itu berarti mereka masih ada kerjaan di kantor. Tapi, kalo mereka nggak pulang beberapa malem, itu berarti mereka ada meeting dadakan di luar kota dan lupa kabarin kita,” jelas Carlos.

Sye tersenyum getir mendengar itu. Sudah lama Sye merindukan waktunya bersama orangtuanya tanpa ada gangguan dari kantor sedikit pun. Meskipun Sye tahu bahwa orangtuanya tetap peduli terhadapnya, tetap saja ia ingin menghabiskan waktunya dengan keluarganya di suatu tempat yang indah.

“Bang, Sye kangen liburan sama Mami sama Papi. Semenjak aku masuk SMA, mereka jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Kita liburan, yuk!” ajak Sye kepada Carlos yang masih fokus dengan jalanan di depannya.

Carlos menoleh ke arah Sye seraya tersenyum tipis sejenak lalu kembali fokus pada tugasnya. “Sama, Abang juga kangen. Nanti coba kita ngomong ya, ke Mami sama Papi. Mereka juga kan nggak bisa asal ijin. Mereka udah ada jadwal yang padet di kantor,”

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!