Part 41

1.7K 86 0

~~~

Congrats yang udah BERHASIL bersatu sama pangerannya!
Tapi, gue bakal pastiin kalo itu semua nggak akan lama.

-Your nightmare-

Sye mengernyitkan keningnya ketika ia menemukan sebuah surat di lokernya dan membaca isi surat itu yang terkesan tidak menyukai hubungannya dengan Faldo. Sye sangat yakin bahwa pengirim surat itu adalah salah satu murid di sekolahnya yang tidak menyukai kedekatannya dengan Faldo. “Apa Kak Rebecca yang ngirim ini, ya?” gumam Sye seraya kembali melipat surat itu.

“Itu apa?”

Sontak Sye membalikkan tubuhnya karena terkejut dan mendapati Faldo yang tengah menatapnya penasaran dengan sesuatu yang Sye pegang. “Oh ini? Bukan apa-apa kok,” elak Sye tak mau memberi tahu Faldo perihal teror surat itu.

“Pulang sekolah temenin aku ke toko kue, ya?” pinta Faldo yang kemudian dibalas anggukan dan juga senyuman oleh Sye.

“Hai,” sapa seorang perempuan yang tiba-tiba datang dengan sapaan yang berbeda.

Sye tersenyum kikuk ke arah Rebecca yang baru saja menyapanya. Lain halnya dengan Faldo yang justru menatapnya sinis. “Ngapain lo ke sini? Mau gue permaluin lagi di depan umum?” tukas Faldo masih dengan tatapan tajamnya.

“Oh, tenang. Gue ke sini bukan buat ngusik kalian kok. Gue ke sini cuma mau ngucapin selamat ke kalian dan minta maaf ke Sye karena udah bersikap buruk ke dia. Sekarang gue udah sadar kok, kalo setiap orang itu berhak menyukai dan disukai. Dan, cinta nggak harus memiliki,” ucap Rebecca meminta maaf dengan nada yang ramah.

Faldo mengernyitkan keningnya karena terkejut mendengar permintaan maaf dan juga selamat kepada mereka. “Lo abis dari mana sih, kok aneh gini? Lo kesambet, ya?” ceplos Faldo yang kemudian mendapat pukulan kecil dari Sye seolah memerintahnya untuk berhenti berkata seperti itu kepada Rebecca.

Sye tersenyum ke arah Rebecca yang masih menatapnya. “Iya, Kak, makasih,” balasnya ramah.

Rebecca kembali tersenyum ke arah mereka berdua. “Kalo gitu, gue duluan ya.” pamit Rebecca yang kemudian berlalu meninggalkan Sye dan Faldo.

Faldo menoleh ke arah Sye seraya menaikkan satu alisnya. Sye yang tak tahu menatapnya seperti itu pun mengernyitkan keningnya bingung. “Kenapa ngeliatinnya gitu banget?” tanya Sye seraya kembali memasukkan surat itu ke dalam loker dan mengambil seragam olahraganya.

“Kenapa dimaafin?”

Sye menghembuskan nafasnya pelan lalu membenarkan posisinya hingga kini ia berhadapan dengan Faldo yang sedikit lebih tinggi darinya. “Kenapa nggak? Nggak ada salahnya ‘kan ngasih kesempatan kedua buat orang yang berniat merubah dirinya menjadi lebih baik?”

“Kamu percaya gitu aja?” tanya Faldo yang heran dengan Sye yang mau memaafkan Rebecca yang sudah sering melabraknya.

“Apa alasan aku buat nggak percaya sama Kak Rebecca?”

“Tapi kan dia—“

“Udah, kita liat aja. Dia bener berubah, atau cuma di mulut aja. Ya udah, aku mau ganti dulu.” Ucap Sye yang kemudian berlalu dari hadapan Faldo yang masih berdiri di depan loker.

♦♦♦

Sye berjalan menghampiri Una dan Qilla yang sudah terlebih dulu menepi untuk istirahat setelah pengambilan nilai bola voli. Tangannya meraih botol minumnya yang berada di dekat Qilla lalu meneguknya.

“Duduk sini, Sye.” perintah Una seraya menepuk tangannya di tempat yang kosong.

Sye tersenyum ke arah Una lalu duduk di sebelahnya. Sye mengibaskan tangannya di depan wajah untuk mengurangi hawa panas siang itu. “Tadi gue dapet surat misterius,” ucap Sye kepada Una dan Qilla.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!