5. Murid Baru

584 77 58

Pria dengan kemeja putih yang dikeluarkan itu menatap pintu gerbang sekolahnya yang sudah tertutup. Ia mendegkus kemudian melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 07:10, hanya tinggal beberapa menit lagi upacara bendera akan selesai.

Dia mengangkat bahu tidak peduli kemudian membawa motornya menuju belakang sekolah. Setelah memarkirkan motornya di salah satu warung di sana, ia langsung melempar tasnya ke tembok belakang yang menjadi pembatas sekolah. Dengan lihai dia memanjat dan menginjakkan kakinya di dalam sekolah.

Bukannya mengikuti upacara, pria itu berjalan santai menuju taman belakang yang tidak akan di temukan guru ketika upacara. Ia duduk di kursi taman dengan pohon yang menutupinya.

Pria dengan rambut cokelat acak-acakkan itu memejamkan mata dan menghembuskan napasnya pelan, kemudian menatap ke depan dengan pandangan kosong.

Ia mengambil handponenya di dalam saku dan segera membukanya, tidak ada apa pun di sana, tidak ada pesan atau apa pun. Pria itu tersenyum miris menatap ponselnya, kemudian memasukkan handponenya kembali ke dalam saku.

Dia adalah Kevan Athaya Putra, murid yang sering di sebut ice prince dan mempunyai tatapan mengerikan. Sering tidak masuk kelas, tapi selalu mendapatkan peringkat pertama di kelas.

Bunyi bel berbunyi tanda masuk pelajaran berbunyi. Kevan segera menyampirkan tasnya di bahu kanan. Kemudian berjalan pergi menuju kelas yang mungkin akan membuat mood-nya bertambah buruk.

***

"Lo tau di mana ruang kepala sekolah?" Tanya seorang dengan rambut sepunggung.

"Ikut gue aja." Jawab cewek yang rambutnya di ikat dua dengan pita berwarna merah berjalan duluan di ikuti Ariana dari belakang.

Kedua perempuan itu berjalan beriringan, sembari berbincang bincang menuju ruang kepala sekolah.

"Nama lo siapa? Gue Ariana, lo bisa panggil gue Nana, gue dari SMA gemilang, gue murid baru di sini." Seru Ariana secara detail.

"Gue Nadella Fadillah, lo bisa panggil gue Della, gue kelas XII IPA 3." Jawab cewek dengan rambut yang di ikat dua dengan pita berwarna merah dengan kacamata yang bingkai silver.

"Lo masuk aja, biar gue tungguin, gue nanti yang antar lo ke kelas." Pinta Della, ketika mereka tiba di depan ruang kepala sekolah.

"Eh? Nggak usah, gue bisa sendiri kok."

"Nggak papa, lo masuk ajah gue tungguin di sini."

"Oke." Jawab Ariana sambil menjugingkan senyum tipis.

Setelah Ariana masuk ke dalam, Della duduk di tempat duduk tepat di dekat ruang kepala sekolah. Ia tersenyum senang, baru kali ini ia mendapatkan seorang teman. Karena penampilan Della yang seperti 'nerd' dan mempunyai kulit yang sangat putih, tidak ada yang ingin berteman dengannya, mereka mengira bahwa Della mempunyai penyakit sehingga kulitnya sangat putih dan pucat.

Ariana keluar dan langsung berjingkrak-jikrak tidak jelas di depan ruang kepala sekolah, langsung saja Della berdiri ketika melihat Ariana, Della memiringkan kepalanya kemudian menatap Ariana bingung sambil tertawa kecil melihat tingkah ajaib Ariana.

"Kenapa lo?"

"Hehe... tebak gue di kelas berapa?" Ariana menatap Della sambil menaik-turunkan alisnya.

"Di kelas XII IPA 3 mungkin?" Jawab Della asal. Ariana mengerucutkan bibirnya kesal karena mendengar jawab Della yang benar.

"Kok lo tau? Lo Dilan ya? Yang suka ramal-ramal itu." Cewek dengan rambut sepunggung yang bergelombang di bawah itu menatap curiga Della, teman barunya.

Memory Of The PastRead this story for FREE!