Chapter XIV

1.6K 118 69

Ya, Ali sudah mengatakannya. Aku mendengarnya dengan kedua telingaku sendiri.

Teori Seli benar. Ali suka padaku.

Apa yang biasanya orang lakukan ketika mendengar kalau ada seseorang yang bilang suka kepadanya?

"Kau tidak harus membalasku, tenang saja. Aku hanya ingin memberi tahumu itu sekarang." Ali tiba-tiba memberitahuku.

Oke, aku sedikit takut. Kenapa dia bisa tahu isi pikiranku?

"O-oke..." jawabku singkat. Memutuskan untuk kembali bertanya,

"Kenapa?"

"Raib, yang namanya suka setahuku tidak perlu alasan. Kalau suka, ya suka. Walaupun aku bisa memberimu seribu alasan versi diriku sendiri, aku rasa itu tidak perlu." Ali menjelaskan lebih lanjut.

Aku hanya terdiam, memikirkan banyak hal.

Ternyata, yang dari kemarin aku anggap sebagai rasa 'panik' adalah salah. Itu bukan perasaan panik, tapi tersipu.

Tersipu ketika Ali sedang memujiku lewat candaan tidak jelasnya. Sejak beberapa hari yang lalu.

Aneh sekali aku baru menyadarinya sekarang, saat setelah Ali memberi tahuku barusan. Sepolos apa sih diriku?

"Aku minta maaf kalau kau menjadi kecewa dengan sahabatmu ini. Aku, aku sudah berusaha menahan diri, percayalah." Ali tiba-tiba meminta maaf.

Tunggu, kecewa? Kenapa aku harus merasa kecewa dengannya?

Ali adalah salah satu sahabatku yang sangat penting bagiku. Kalau tidak ada dia, aku dan Seli pasti sudah kewalahan menghadapi masalah-masalah di dunia paralel yang terus silih berganti.

Ali juga merupakan salah satu orang yang membawa pengaruh besar juga di dalam hidupku. Walaupun dia kebanyakan mengoceh tidak jelas dan membuat lelucon yang bisa dibilang cukup aneh, dia bisa menjadi bijak terkadang. Semua keputusan yang kita ambil, semua pasti ia pikir-pikir dan pertimbangkan terlebih dahulu. Semua itu berkat Ali.

Ali adalah salah satu sahabat terbaikku, lalu kenapa aku harus merasa kecewa dengannya?

Ali dan Seli ada dua orang terakhir yang mau aku anggap mengecewakan. Mereka adalah orang terbaikku.

"Kecewa? Ali, kenapa aku harus kecewa?"

"Kecewa karena seseorang yang seharusnya menjadi sahabatmu ini malah berujung dengan rasa suka."

"Ya, terus kenapa kalau suka? Kau tetap sahabatku juga walau perasaanmu sekarang seperti itu terhadapku."

Mungkin kalau aku tidak sebingung ini, aku sudah merasakan malu yang teramat sangat. Maksudku, ayolah, ini Ali yang kita bicarakan. Seorang Ali yang suka padaku—

Tunggu, aku jadi kepikiran sesuatu yang bagus. Akan kusimpan untuk nanti.

Ali kelihatan tidak percaya sekaligus lega. "K-kau tidak kecewa?"

"Tidak...?" Aku menjawab sambil memasang wajah yang lagi-lagi bingung.

"Terima kasih banyak, Raib. Aku sangat menghargai itu."

Aku hanya membalas dengan anggukan dan senyumku. Aneh, biasanya kalau saat seperti ini, aku yang merah habis-habisan. Tapi, kenapa aku merasa biasa saja? Apa karena aku belum memiliki perasaan yang sama seperti Ali?

Perhatianku kembali tertuju ke Ali. Aku tidak percaya.

Dialah yang merah saat ini. Aku tertawa terbahak-bahak.

"A-apa yang lucu?" Ali bertanya. Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas dan membalasnya. "Kau harus melihat wajahmu. Merah, Ali," balasku sambil melanjutkan tertawa.

Bulan dan BintangRead this story for FREE!