Part 39

1.6K 88 2

~~~

Sudah dua minggu berlalu sejak kecelakaan yang menimpa Sye dan Reno. Dan sekarang, Sye dapat menghirup udara luar tanpa harus mencium bau obat-obatan tiap menitnya. Sye berjalan menuju meja belajarnya. Tangannya meraih sebuah pigura fotonya dengan Reno ketika mereka berlibur bersama ke Padang tahun lalu. Rasanya baru kemarin mereka menghabiskan waktu bersama. Dan kini semua itu hanya bisa menjadi kenangan ketika kerinduan memasuki celah kehampaan.

Tanpa Sye sadari, beberapa tetes air mata mulai keluar dari pelupuk matanya. Hatinya belum sepenuhnya merelakan Reno yang begitu saja pergi meninggalkan berjuta kenangan manis bersamanya. Sye tersenyum getir ketika memorinya kembali memutar kebersamaannya dengan Reno. Sye membuyarkan lamunannya, tak mau lebih terperosok dalam pahitnya kenyataan yang menimpanya. Sye kembali meletakkan pigura foto itu dan beranjak dari tempatnya lalu berjalan keluar kamar menuju lantai satu untuk menemui Sarah.

“Mami, Sye ijin keluar sebentar ya. Mau cari udara seger di luar,” pamit Sye pada Sarah yang sedang menonton televisi bersama Romy dan Carlos.

“Mau abang temenin nggak?” tanya Carlos menawarkan diri.

“Nggak usah, Bang. Sye bisa sendiri kok,” tolak Sye secara halus kemudian berjalan menuju keluar rumahnya.

Sye duduk di gazebo yang ada di taman rumahnya. Matanya mengedar ke sekeliling taman yang sudah dua minggu tidak dilihatnya. Beberapa menit setelah Sye ada di taman rumahnya, tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang lebih dewasa darinya, keluar dari sebuah taksi. Perempuan itu berlari kecil memasuki gerbang rumah Sye dan berhenti sejenak ketika melihat Sye di taman itu, lalu melemparkan senyum lebarnya ke arah Sye.

“Hai, Syeila! How are you?” sapa Tresya yang kembali berlari kecil menghampiri Sye.

Sye merentangkan tangannya lebar-lebar, siap untuk memeluk perempuan yang sudah lama tidak ia jumpai. “Kak Tresya! I’m fine. Kak Tresya kesini kok nggak bilang-bilang? Bang Carlos tau nggak?” tanya Sye antusias.

Tresya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Memberi isyarat supaya Sye tidak terlebih dulu memberitahu Carlos akan kehadirannya. “Kamu jangan bilang-bilang dulu, ya. Kakak bilangnya hari ini mau berangkat ke Filipina. Jadi, Bang Carlos nggak tau kalo kakak mau ke sini,” jelas Tresya disertai senyuman kecil di wajahnya.

Sye menganggukkan kepalanya mengerti atas apa yang Tresya jelaskan. “Terus, Kak Tresya mau masuk sekarang atau ada rencana lain?” tanya Sye berusaha membantu melancarkan mission yang ia buat untuk mengerjai Carlos.

“Emmm, kita masuk sekarang aja, yuk! Tapi kamu masuk duluan ya,” pesan Tresya sebelum mereka masuk ke dalam rumah.

Sye mengacungkan ibu jarinya lalu beranjak dari tempatnya dan berjalan masuk menuju rumahnya. “Bang, ada yang nyari di luar,”

“Iya, tau. Kak Tresya ‘kan?”

Seketika Sye menoleh ke arah Carlos yang sudah mengetahui bahwa Tresya ada di sana. “Kok abang tau?” tanya Sye bingung.

Carlos tersenyum miring ke arah Sye lalu berjalan menuju luar rumah untuk menemui kekasihnya. Sesampainya Carlos di ambang pintu rumahnya, ia menyenderkan tubuhnya ke gawang pintu rumahnya lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Lain kali, kalo mau bohong, dimatiin dulu hapenya, Neng. Biar nggak bisa Abang lacak,”

Tresya menoleh ke arah Carlos dengan wajah bingung sekaligus menyadari kebodohannya. “Kamu lacak aku?” tanya Tresya.

“Iya, kenapa? Ayo jadi ke Filipina nggak? Sama aku ayo!” ledek Carlos seraya menggandeng tangan Tresya.

Tresya mendengus kasar karena merasa kesal dengan Carlos yang sudah mengagalkan rencananya. “Kamu jangan main lacak-lacakan dong,”

“Aku kan belajar dari kamu, anak panda,” kekeh Carlos seraya mengacak pucuk kepala Tresya.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!