Chapter XIII

1.6K 107 101

"Oke, sebentar." Aku menghadapkan salah satu telapak tanganku kearah Ali, tandanya ia harus berhenti dan membiarkan diriku tenang.

Sambil menghela nafas panjang, aku memikirkan hal-hal yang harus aku tanya terlebih dahulu. Astaga, ternyata ini lebih membingungkan dari yang aku kira.

"Baik, pertama-tama. Kenapa kau bilang kalau aku cantik dan lain sebagainya secara tiba-tiba? Apa yang kau mau dengan berusaha memujiku seperti ini? Kalau jawabannya hanya sekedar ingin bermain-main, aku pulang." Nadaku berubah menjadi serius.

Ali dalam hati masih ingin mengerjai Raib habis-habisan sampai mukanya semerah tomat. Tetapi, tentu saja Ali tidak mau ditinggal Raib di tengah momen-momen hebat ini.

"Apa? Tentu saja tidak, Raib. Aku bilang begitu karena kau hari ini terlihat cantik—Kau setiap hari terlihat cantik. Sisanya aku hanya ingin berkata jujur. Apakah aku salah kalau memujimu? Atau jangan-jangan, kau malah lebih suka ketika aku mengerjaimu ya?"

"Ih! Bukan begitu! Hanya saja, bagiku kau terdengar aneh ketika mengeluarkan pujian-pujian seperti itu. Mungkin hanya belum terbiasa saja—"

"Berarti kau harus mulai bisa membiasakan diri dengan hal itu dari sekarang." Ali memotong kalimatku. Aku mulai dibuat bingung lagi

"Lah? Memangnya kenapa?"

Ali terdiam sejenak, terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Hm... Hanya karena. Tidak ada apa-apa." Ali berusaha menahan dirinya untuk bilang kalau ia suka dengannya. Ia sangat menahan diri.

"Awas saja kalau kau sampai kelepasan bilang begitu di depan teman-temanku, apalagi di depan Seli." Pikiranku sudah kemana-mana ketika memikirkan apa yang akan terjadi dengan Seli kalau ia mendengar Ali bilang 'Eh, cantik,' ke diriku.

Aku sangat khawatir kalau tiba-tiba Seli pingsan di tempat gara-gara itu.

Mungkin bisa lebih buruk lagi.

Aku lebih cemas kalau ia akan tidur semakin larut mengerjakan fanfiction-fanfiction tidak jelasnya itu, hanya karena mendengar satu kata yang terlepas dari Ali. Aku jelas tidak mau disalahkan kalau nanti Seli tidur di kelas setiap hari. Tidak ada yang menyuruhnya untuk terobsesi dengan hubunganku dengan Ali.

Lagipula, aku dan Ali hanya sebatas sahabat. (Ali, lampu kuning friendzone. awas.)

"Tapi kenapa? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku dengan semua ucapanmu tadi?" lanjutku, "Apa kau merasa berhutang budi denganku? Kalau iya, kau tidak perlu membalas budi. Aku membantumu karena kau sahabatku, Tuan Muda Ali." (*input suara sirine di sini*)

Ali hanya terdiam dan melihat ke bawah. Terlihat bimbang. Kenapa?

Ali sedang bersusah payah menahan dirinya untuk tidak bilang 'RAIB AKU SANGAT SUKA PADAMU ASTAGA RAIB' secara tiba-tiba, itu akan terdengar sangat menyeramkan menurut Ali. 'Bagiku saja itu menyeramkan, apalagi menurut Raib' pikirnya.

Tetapi apa daya, aku terus menekannya secara tidak sengaja.

Aku ikut terdiam. Menunggu jawaban dari Ali, karena jujur aku juga penasaran dan ingin membuktikan teori Seli.

Sudah, hati Ali sudah tidak kuasa menahan perasaan itu lagi.

"Maaf, Tuan Putri. Aku melakukan semua itu karena, percayalah, kau sangat pantas mendapatkan sebutan-sebutan itu. Dan," Ali menatap diriku. Tatapannya sama seperti saat di kelas kemarin.

Ali menghela nafas panjang. Ia mulai mendekat lagi.

Aku kembali panik, sesuatu pasti akan terjadi.

Bulan dan BintangWhere stories live. Discover now