Awal Bersamanya

259 13 5
                                    

Namaku Ruben, kedua temanku namanya Wayang dan Bambang. Sudah jelas kalau Wayang bukanlah nama aslinya, nama aslinya Irfan. Dia dipanggil Wayang karena badannya kurus dan kaku seperti Wayang. Sedangkan Bambang dipanggil Bembi. Terdengar belagu dan gaya-gayaan ya? Sebenarnya bukan belagu dipanggil Bembi, namun ada satu temanku yang tidak suka kalau Bambang tetap dipanggil Bambang. Alasannya karena nama Papahnya Bambang, jadi dia merasa sedang di-bully kalau Bambang dipanggil dengan nada tinggi ataupun kalau Bambang di ejek teman sekelas karena ulahnya.

Sampai nangis dulu waktu awal masuk SMA gara-gara nama Bambang ini. Guru BK pun sampai meminta ijin menggunakan pelajaran Fisika hanya untuk menasehati kami sekelas. Bayangkan saja bagaimana ribetnya Guru BK kalau sedang menasehati. Ditambah pelajaran Fisika itu lama, serasa sedang upacara bendera tapi duduk di kelas.

Kita skip saja ya! Agak malas kalau mengingat kejadian itu, jadi terbayang wajah Guru BK hhehee. Akhirnya Bambang dipanggil Bembi setelah insiden itu. Awalnya kocak memanggilnya Bembi, namun lama-kelamaan menjadi biasa dan berasa keren saja tuh Si Bambang anak Pak Mail. Sepertinya sudah tidak ingat proses awal bisa dipanggil Bembi karena bikin nangis Si May.

Aku mau flashback sedikit saat aku masih duduk di kelas X. Saat dimana aku pertama kali bermain dengan Wayang dan Bembi. Kalian tidak bisa menolak aku akan membahas apa, jadi baca terus hingga paham sebelum aku mulai petualanganku yang masih pecundang ini.

"Abis ini ikut kita, Yuk! Ben." Ajak Bembi saat aku sedang membereskan buku sekolah karena sudah mau pulang. Kami tidak duduk satu bangku, Bembi berada di meja samping kananku, jadi dia harus memiringkan badannya saat itu dan berbicara agak pelan. Yang Bembi maksud kita itu Si Wayang. Siapa lagi temannya Bembi kalau bukan Wayang. Seingatku, kejadian ini dua minggu dari awal masuk SMA, akhir Bulan Juli.

"Aku mau langsung pulang saja. Memang mau ngapain?" Jawabku seadanya karena memang tidak ada niatan main sepulang sekolah.

"Idih Najis! Ngomongnya gue elo ngapa! Dengan teriak Bembi menjawab perkataanku saat itu. Seketika seluruh teman termasuk Bu Guru melihat ke arah Bembi. Sudah jelas pada nengok, karena Bembi kencang sekali bicaranya. Keadaan kelas saat itu sedang ramai karena sedang siap-siap, sambil menunggu berdoa sebelum pulang.

Saat itu aku berhasil menolak ajakannya dengan alasan uang jajanku habis, hanya tinggal untuk ongkos pulang. Lagipula aku takut tidak cocok dan tidak bisa membaur. Daripada garing, lebih baik aku tidak ikut.

Ternyata ajakan Bembi berlanjut sampai berminggu-minggu. Aneh sebenarnya ada cowok yang ingin sekali main denganku yang pendiam ini. Padahal cowok yang asyik, yang gaul, dan yang terkenal banyak. Kenapa harus aku yang selalu diajaknya main? Mungkin mereka ada niatan hanya ingin mem-bully aku saja!

Bulan September akhirnya aku terima ajakannya. Dua bulan setelah awal masuk SMA. Dalam hati aku terpikir sepertinya seru dan tidak ada salahnya punya teman main di sekolah. Walaupun kemungkinan aku hanya jadi bahan bully-an itu ada, tapi aku iyain aja, mungkin dan semoga ini jadi yang pertama dan terakhir.

Bembi sempat bilang "Kalo Lo mau main sama kita, nggak boleh aku kamu. Harus gue elo!" Saat itu aku setuju saja dan bilang "Lihat nanti". Tetap saja bahasaku aku kamu, mungkin karena kebiasaan jadi sulit untuk diubah. Setiap aku manggil Bembi dengan sebutan Kamu, dia pasti menegurku dan bilang "Gue. Bukan Kamu. Ulang!"

Iya, aku disuruh ulang setiap bilang aku atau kamu. Selama sehari itu aku jadi banyak bicara dan merasa seru juga bisa banyak bicara. Biasanya aku bicara kalau ada yang mengajak saja, hari itu aku bebas sekali bicara walau sering diulang. Mulai dari pakai gue elo, bahasa gaul, meneriaki orang yang sedang jalan, sampai mengejek orang kalau ada sesuatu yang aneh.

Pasti kalian berpikiran kalau kami tidak jelas karena melakukan kegiatan yang kusebut. Tapi sebenarnya kalau dipikir-pikir, hari itu aku hanya main ke rumah Bembi, beli makan siang dekat rumahnya dan pulang. Aku pikir mereka itu mainnya ekstrim dan tidak biasa, tapi biasa saja kok sebenarnya. Malah menurutku seru. Kalau berisik sudah jelas, tidak perlu dibahas, tapi masih terbilang normal kok. Kenapa teman di sekolah sering bilang mereka pecundag gara-gara perilakunya itu ya? Mungkin karena belum mengenalnya hhehee. Aku sama sekali tidak membelanya, hanya berkomentar dan memberikan pendapat.

Sebelum BersamanyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang