Chapter XII

1.7K 109 66

Semenjak dulu, aku memang orangnya kurang peka jika berhubungan dengan hal yang berbau romansa. Aku juga tidak terlalu mengerti konsep dari arti jatuh cinta itu sendiri. Sekedar perasaan suka saja tidak mengerti, apalagi cinta.

Kalau soal kagum atau hanya sekedar nge-fans, aku tahu apa bedanya. Karena katanya, cinta dan kagum itu dua hal yang sangat jauh berbeda. Tetapi, aku hanya tahu, belum mengerti.

Ketika melihat Papa dan Mamaku, aku sudah terbiasa dengan kebiasaan mereka berdua jika sedang saling menggoda satu sama lain. Mereka selalu terlihat senang jika sedang bercanda, dan aku juga ikut merasa senang melihat mereka. 

Jika melihat orang saling jatuh cinta saja aku sudah merasa senang, bagaimana jika aku yang jatuh cinta? Apa yang akan dirasakan ketika orang jatuh cinta? Pertanyaan itu sedikit sering muncul di benakku sejak kemarin aku bercerita ke Seli. 

Jika Seli benar, apakah hal itu yang sedang dirasakan Ali sekarang? Tidak mungkin aku menanyakan hal ini ke Ali. Tidak akan pernah. Mungkin.

Setiap kali Ali menjahiliku atau hanya sekedar bermain-main denganku, aku tidak bisa menolak kenyataannya kalau aku agak senang. Sedikit senang. Tidak, hanya sedikiiit senang dibuatnya belakangan ini. (tsundere amet si :( )

Aku mulai menyadari perilakunya terhadapku agak berbeda sejak dia berkunjung ke rumahku. Apakah karena dia curhat denganku, dia jadi merasa berhutang budi? Seperti yang ia katakan kemarin? Jika iya, maka aku harus menanggapi perasaan ini dengan biasa saja.

Tapi kemarin aku mendengar dia hendak mengatakan hal lain selain itu. Kenapa ia harus menghentikan bicaranya saat itu? Dasar, Ali. Aku jadi penasaran sekarang. Bagus, Perasaanku sekarang bisa dibuat kacau olehnya. Sungguh berita bagus.

__________________________________

"Hei, ada apa dengan wajahmu? Kau sedang punya masalah?" tanya Ali sembari kita berjalan.

Banyak, Ali. Banyak sekali masalah-masalah yang berkutat di pikiranku karenamu. Andai saja aku bisa bilang begitu dengan polosnya.

"Tidak, bukan apa-apa." Aku menjawabnya, pandanganku masih mengarah ke bawah. Tiba-tiba aku menabrak sesuatu di depanku. "Aduh!" Hanya tertawa Ali yang aku dengar tepat di depanku. Sejak kapan dia ada di depanku?

"Kau ini, makanya kalau jalan lihat ke depan." Ali melanjutkan tertawanya. "Apa-apaan? Aku tidak merasa punya masalah ketika berjalan menghadap ke bawah. Aku tetap memperhatikan jalan. Kau saja yang ingin menabrakku."

Sebenarnya yang aku katakan ke Ali tidak sepenuhnya benar. Aku pernah tidak sengaja menabrak tiang cermin lalu lintas ketika sedang berjalan ke taman. Itu terjadi karena aku terlalu memikirkan sesuatu sehingga aku tidak memperhatikan apa yang ada di depan. Aku sampai ditertawakan satpam komplek. Urat malu-ku bisa-bisa sampai terlihat saat itu.

"Kau yakin? Karena aku rasa, kau pernah punya pengalaman dengan kejadian tadi."

Ya ampun.

"Dasar sok tahu."

"Terserahlah, tapi kau masih beruntung akulah yang kau tabrak. Bagaimana kalau ternyata orang asing? Orang yang tidak terlalu ramah? Sekali-kali pikirkan keselamatanmu juga, Raib." Ali melanjutkan dengan nada agak serius. Aku jadi agak terintimidasi olehnya. 

Ada benarnya sih dia, aku mungkin tidak terlalu memikirkan hal itu sebelumnya. "B-baiklah, Ali. Terima kasih telah mengingatkanku. Sekarang, ayo kita kembali berjalan," kataku sambil berusaha kembali tenang.

"Bagaimana kalau kita berhenti sebentar? Aku mau duduk dulu. Kebetulan, di situ ada bangku. Ayo kita ke sana saja." Ali tiba-tiba mengajakku berhenti. Aku hanya menurut karena dialah yang ingin jalan-jalan.

Bulan dan BintangRead this story for FREE!