32

656 113 5
                                    

Yunani di musim dingin adalah pemandangan yang mengandung ambigu, ia hangat sekaligus dingin, ia putih sekaligus berwarna-warni, matahari bersinar tetapi tidak terik, udara dingin menghembus meski telah terjamah hangatnya cahaya matahari.

Normalnya, pagi ini harusnya ditemani mendung pekat dengan mungkin hujan rintik atau salju, tetapi langit tidak ingin membuat apa yang ada di bawahnya semakin bersedih. Iris melihat Altair berdiri di depan peti mati, dengan kantung mata terlihat tipis dan air muka yang tak mampu ia tebak, meski begitu, tatapannya terhadap jasad lelaki di depannya menyiratkan kesedihan dan penyesalan.

Iris tidak tahu bagaimana persinya, setelah merasakan tangannya seperti terbakar, tubuhnya meringan begitu saja, kemudian ia tidak ingat telah melakukan apa saja. Tahu-tahu setelah bangun ia merasa kesal karena pada akhirnya berujung tidur lagi di atas brangkar, ketika ia akan memukul permukaan kasur, rasa sakit menyerang bahunya, gadis itu mendapati bahwa bahunya telah diperban saat ia sedikit menarik kerah baju dari Rumah Sakit.

Altair selesai, tatapannya masih seambigu musim dingin di Yunani, sedih sekaligus tidak ingin mengakuinya. Nyonya Rose menepuk bahu Iris, gadis itu mengangguk dan beranjak berdiri dari bangku untuk mengambil setangkai bunga.

Iris menyiapkan diri dengan menarik napas dalam sebelum menatap jasad di depannya yang memakai pakaian kebesaran tujuh kesatria utama. Dengan dalaman lengan panjang berwarna biru tua, rompi emas dan jas panjang berwarna putih. Jasad lelaki itu dibaringkan dibatas kain putih empuk yang melapisi peti matinya. Wajah lelaki itu terlihat damai, dagu Irias bergetar dan pada akhirnya, air matanya lolos.

Setelah terbangun dengan memekik kesakitan karena luka di bahunya, Leo bersama Berenike masuk ke dalam ruang rawat inapnya. Iris segera saja menanyakan bagaimana keadaan pertempuran semalam.

"Kemenangan berada di pihak mereka, sementara pasukan Centaurus telah berhasil membunuh sekitar satu skuad--itu berarti sekitar enam puluh orang," ujar Leo, "termasuk dia."

Iris masih memandangi jasad di dalam sana. Gadis itu belum sempat mengenalnya lebih lanjut, satu-satunya lelaki berambut panjang yang ada di dalam pasukan.

"Dia kehabisan darah, setelan menerima banyak tembakan di tubuhnya." Berenike menimpali.

Ia menahan napas, masih mengingat bahwa lelaki itu mengenalkan dirinya dengan nama Iason, tambah dengan mencium punggung tangannya. Iris segera meletakkan setangkai bunga yang ia bawa, kini di punggung tangannya sudah tak ada noda hitam, yang ada sebuah tato bahwa ialah Pembawa Anugerah Artemis yang dicari-cari.

Setelah Iris, menyusul pelayat lain yang memberikan setangkai bunga pada Iason dan lima puluh sembilan jasad lainnya, yang bertempur untuk menjaga Tekhne kedua. Prosesi pemakaman dilaksanakan dengan penuh rasa hormat pada yang telah berpulang, itu setidaknya, hingga seorang lelaki tak dikenal dengan surai emas bergelombang tiba-tiba saja maju ke tengah peti Iason dan memberi bunga, termasuk ke jasad lain. Dengan santainya ia tidak memedulikan tatapan waspada dari para pasukan, ia mengambil alih podium dan memperkenalkan dirinya yang membuat Iris ikut kaget karena seluruh pelayat juga memekik kaget dan keheranan.

"Nicholas Alexis, Sang Pembawa Berita--benar, akulah Hermes."

*

Tanpa mengurangi hormat, prosesi pemakaman disegerakan untuk selesai karena tujuh kesatria utama dan kepala divisi di berbagai cabang Elpis Commander akan melaksanakan rapat akbar. Duduk di sebelah Iris, Altair dengan mukanya yang serius bercampur penasaran telah menggantikan ekspresinya saat prosesi pemakaman tadi.

Berenike menyalakan seluruh perangkat dan proyektor, menghubungkan seluruh cabang Elpis Commander untuk bergabung dalam siaran konferensi.

Setelah semua Master markas Elpis Commander bergabung dalam siaran konferensi, barulah Master dari ECHQ Athena menyampaikan agenda rapat akbar yang mendadak itu.

"Kabar pertama adalah kabar buruk, yakni padamnya Tekhne Kedua yang akan berdampak pada kekuatan sihir kita. Tergantung pada level kesulitan sihirnya yang akan dipakai, akan ada bayaran setimpal untuk itu." Master ECHQ berdeham sebentar untuk mengeringkan tenggorokannya. "Misalnya saja, menggunakan sihir A dengan level kerumitan 1 akan menghisap tiga puluh detik hidup penggunanya, singkatnya begitu. Untuk sihir tingkat tinggi bisa menghisap usia pengguna sebanyak lima tahun."

"Jadi singkatnya, tergantung sihir yang dipakai, pengguna bisa mempercepat kematiannya sendiri?" tanya Master EC cabang lain yang berwajah Asia.

Master ECHQ tidak ada jawaban lain selain mengangguk.

"Kita akan menuju misi terakhir—yang akan menjadi peperangan bagi kita. Tekhne ketiga tidak boleh padam, dan Guci Pandora tidak boleh direbut." Master menandaskan kalimat perintah terakhirnya.

Seluruh Master EC mengangguk paham dan menyepakatinya, tidak ada jalan lain selain turun ke medan perang yang akan mengakhiri semuanya.

"Dan aku akan mengenalkan kalian semua pada seseorang." Master memberikan isyarat pada Berenike.

Gadis itu mengarahkan kamera bulat yang sudah diisi sihir untuk melayang ke arah seorang lelaki bersurai pirang bergelombang yang duduk di salah satu kursi. Pria itu menyeringai saat kamera mulai menangkap wajahnya.

"Kalian pernah mendapatkan suratku, tapi tidak mengetahui wajahku, ya? Nicholas Alexis di sini, akulah yang mewarisi apapun tentang Hermes. Salam kenal, kurasa." Nicholas bersedekap dan bersandar santai di kursi di dalam ruang rapat.

"Bagaimana kami bisa yakin kalau kau Hermes?" tanya salah seorang Master.

"Kalian meragukanku?" Nicholas memicingkan matanya, masih dengan senyum miring yang mengintimidasi.

"K-kami hanya tak mampu mengambil risiko untuk memercayai orang yang salah," ujar salah seorang Master yang meragukan Nicholas.

Nicholas tersenyum lebar, malah sedikit terbahak. "Meragukanku itu sikap yang wajar."

Lelaki bersurai pirang bergelombang itu menengadahkan salah satu tangannya, sedetik kemudian, sebuah tongkat sepanjang enam puluh sentimeter muncul. Tongkat berkepala permata itu dililiti oleh dua ular yang kepalanya terjaga sisi kanan dan kiri kepala tongkat.

"Tongkat Hermes," gumam Master ECHQ Athena.

"Sekarang kalian percaya?" tanya Nicholas.

Seluruh orang yang ada dalam ruangan--termasuk peserta konferensi--minus Iris menganggukkan kepalanya, menjawab bahwa mereka percaya Nicholas adalah Hermes. Sang pembawa berita yang mengabari kedua kubu sebelum berperang.

"Tapi memang harusnya kalian tidak memercaya Hermes sih ya." Nicholas tampak berpikir. "Aku--Hermes--kan juga dikenal sebagai pembohong dan suka jahil, bagaimana kalau aku mengkhianati kalian?" Lelaki itu kembali menyeringai dan membuat seisi ruangan terdiam.

"Tetapi tenang saja. Aku menjaga kenetralanku dan aku berhak memilih salah satu pihak jika memang perang sudah diputuskan. Sebelumnya aku memberi kabar, baik ke Pendosa maupun ke kalian, Para Pasukan Harapan." Nicholas berdiri dari duduknya. "Dan aku memilih berada di pihak kalian." Nicholas membungkuk, kali ini senyumannya berganti dengan senyuman hangat.

"Boleh aku tahu alasanmu?" Master ECHQ bertanya dengan nada serius.

"Heh, kenapa kau jadi serius, kali ini aku tidak berbohong, kok. Tenang, bro." Nicholas tertawa canggung dan karena menyadari semua hening, ia berdeham dan beralih ke mode serius semi slengean. "Hm, alasanku sebenarnya bukan urusanku, dan bukan kewenanganku untuk memberitahukannya. Hestia yang akan memberitahu kalian sesampainya kalian di Atlantis."

"Hestia?" Master ECHQ memicing. Nicholas mengangguk mengiyakan.

"Oh, omong-omong, karena Tekhne kedua telah padam maka komunikasiku sudah benar-benar terputus dari Hestia--sejak Tekhne pertama sih. Namun, tenang saja, karena aku ada di pihak kalian, aku masih punya banyak intel yang bisa digunakan." Lelaki bersurai pirang itu menyugar rambut bergelombangnya sambil menyunggingkan senyum miringnya sekali lagi.

PANDORA: IrisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang