Chapter X

1.7K 109 24

Hari ini adalah hari Jum'at. Kami akan berangkat ke Klan Bulan, Aku, Seli, Ali, dan Miss Selena. Aku tidak sabar melihat kembali keluarga Ilo. Semoga mereka baik-baik saja, tentunya.

Aku sudah packing semalam. Untung saja barang yang dibawa tidak banyak, jadi tetap bisa tidur cepat. Aku juga sudah izin ke Papa dan Mama. Ketika aku bilang bahwa aku akan pergi ke Klan Bulan, Mama langsung mengizinkan, sekalian menitipkan salam dan terima kasih atas oleh-oleh yang ia terima kepada keluarga Ilo. Setelah itu, Mama yang memberi tahu Papa tentang hal ini karena Papa minggu ini masih pulang larut.

Aku, Seli, dan Ali sedang berada di kelas sekarang. Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa waktu yang lalu. Tinggal kami bertiga di kelas.

"Kalian bawa apa saja nanti?" tanyaku.

"Hanya beberapa pasang pakaian dan pakaian dari Ilo." Seli menjawab.

"Aku juga sama, kurang lebih." Giliran Ali menjawab. Ia tampak berpikir sejenak setelahnya.

"Aku berharap ada yang akan terjadi nanti." Tiba-tiba Ali berkata seperti itu.

"Apa maksudmu?" Aku menjawab dengan nada agak khawatir. Aku sama sekali tidak mau tahu kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan hanya karena ia bosan. Serius, anak itu butuh hobi lain selain mencari masalah.

Ali membalas dengan tertawa kecil. Aku dan Seli bertatapan dengan memasang wajah agak bingung. Ini seperti Deja Vu. "Tenang, Tuan Putri. Aku tidak akan mencari masalah." Ali membalas sambil tersenyum ke arahku.

Pikiranku serasa telah dibaca oleh Ali. Anak itu-

Secara insting, aku langsung menoleh ke Seli dan membentuk mulut 'Lihat'. Seli pun langsung mengerti, dan langsung membuat wajah yang aku kurang suka. 'Haha dia 100% suka padamu, Raib. Aku sudah bilang.' katanya tanpa bersuara. Seandainya saja tatapan dapat memukul, Seli sudah jatuh dari kursi pasti.

"Maksudku tadi, siapa tahu ada petualangan tak terduga seperti kemarin-kemarin, kan? Bukankah itu seru?" Ali melanjutkan.

"Seru sih seru, tapi kita juga harus liat sisi buruknya juga. Aku sama sekali tidak mau ada hal yang buruk terjadi kepada kita. Yang penting kita aman dan selamat," ujarku.

Entah kenapa, aku yang merasa bertanggung jawab atas keselamatan kami bertiga di setiap perjalanan di dunia paralel. Mungkin memang sudah mengalir di darahku atau ada di takdirku, bukan bermaksud sombong atau bagaimana tapi mungkin saja.

Seli hanya membalas dengan anggukan kepala. Sementara Ali, sepertinya ia mau berbicara.

"Keselamatan Seli, Aku," Ali langsung menoleh ke arahku, "dan kau, sudah aku jamin." Ali melanjutkan. Dia menatapku dengan serius kali ini. Dan tiba-tiba,

"Aduh, sebentar ya, teman-teman. Aku ada urusan sebentar di kamar mandi, hehe." Seli berbicara sambil berjalan menuju pintu kelas dan segera keluar.

Sungguh. Seli, ini tidak lucu sama sekali.

Awas saja nanti. Heuh!





...Hening...





"Raib." Tiba-tiba Ali memanggilku. "Ya?"

"Kau tidak bercerita soal... Ya kau tahu kan, ke Seli..?" Wajahnya agak tegang ketika menanyakan hal itu.

"Tentu saja tidak, Tuan Muda Ali. Janji adalah janji." Aku menjawab dengan nada meyakinkan.

Ali menghela napas panjang. Wajahnya kembali seperti biasa. Cool.

"Syukurlah, Terima kasih ya, Raib." Ali tersenyum. Hatiku mulai berdegup sedikit kencang. Ada apa?

"I-iya, itu bukan apa-apa." Aku menjawab sambil menoleh ke arah lain. Apapun selain wajah Ali karena aku merasa wajahku sedikit memerah. Raib? Kenapa kau ini? Pikirku dalam hati.

Bulan dan BintangWhere stories live. Discover now