Prolog

5.6K 525 46

Jimin menatap mobil box di hadapan rumah sahabatnya dengan mata berkaca

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jimin menatap mobil box di hadapan rumah sahabatnya dengan mata berkaca. Sebelah tangannya dalam genggaman sang ibu dan sebelahnya lagi memegang topi kesayangannya. "Eomma, apakah Aera tidak akan kembali lagi ke sini? Apakah Aera akan selamanya pergi?" tanya Jimin sambil menyusut hidungnya yang berair.

Sang Ibu mengusap lembut rambut anak laki-lakinya. "Kan kalian masih bisa saling menghubungi lewat telpon. Kau tenang saja, Aera tidak akan meghilang, dia hanya harus pindah rumah," ucap sang Ibu berusaha menenangkan. Meskipun ia tidak bisa menjamin hal yang baru saja dikatakan. Korea dan Kanada terbentang jarak yang cukup jauh. Dan ia sendiri tidak tau sampai kapan keluarga Lee akan menetap di sana.

Jimin melepaskan tangannya dari genggaman sang Ibu dan berlari menghampiri Aera begitu melihat gadis itu keluar rumah menggeret kopernya. "Aera!" Jimin berhambur memeluk sahabatnya itu dengan erat.

Aera yang tidak siap nyaris terdorong ke belakang, namun detik berikutnya ia turut membalas pelukan Jimin. "Aku tidak mau pindah!" Aera mengeratkan pelukannya pada Jimin. "Aku tidak mau meninggalkan teman-teman di sekolah dan kelas dansa. Aku tidak mau meninggalkanmu."

Jimin mengendurkan pelukannya untuk menatap wajah sahabatnya tersebut. "Siapa meninggalkan siapa?" Jempolnya mengusap lembut air mata di pipi tembam Aera. "Tidak ada yang meninggalkan hanya karena kau pindah. Aku dan teman-teman akan menelfonmu, Aera, kau tidak perlu takut!"

Aera menatap Jimin dengan mata bulatnya. "Janji?" tanyanya meyakinkan.

Jimin mengangguk. "Janji." Lalu Jimin memasangkan topi hitam yang sejak tadi ia pegang di kepala Aera. "Berjanjilah untuk tetap rajin latihan menari selama kau di Kanada. Aku akan menunggumu pulang dan kita sama-sama menjadi penari terhebat di dunia, oke?"

Aera tertawa lalu mengangkat kelingkingnya. "Aku janji. Kau juga harus janji untuk menelfonku!"

Jimin mengaitkan kelingkingnya yang sama besar dengan milik Aera. "Janji!" Sekali lagi mereka berpelukan sebelum Aera naik ke mobil dan menghilang dari pandangan Jimin.

"Aku pasti akan sangat merindukanmu, Aera."

***

14 tahun kemudian...

Kim Jiwon membuka kartu berisikan nama pemenang di tangannya, diriingi teriakan berbagai fandom yang berharap nama idolanya yang akan disebutkan. Ketegangan semakin meningkat kala Kim Jiwon terdiam sejenak sebelum akhirnya membacakan isi kartu. "Dan penghargaan album of the year 2016 jatuh pada... Selamat, Bangtan Seonyeondan!"

Teriakan ARMY seketika memenuhi Gocheok Sky Dome malam itu. Selain karena rasa haru, bahagia serta bangga mereka juga terkejut karena ini adalah daesang pertama BTS setelah debut. Apalagi daesang itu tidak mereka dapatkan dengan mudah. BTS adalah idol group dari agensi kecil, mereka berjuang bukan hanya untuk merintangi persaingan dengan grup dari agensi besar namun juga dengan hutang agensi untuk menyokong promosi mereka. Dan ARMY percaya, daesang ini adalah salah satu pencapaian yang pantas BTS terima atas kerja keras mereka selama ini.

Hit The Stage | PJMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang