Tentang April's Questions and Answers.

Halo semua! Welcome back to my channel—nggak deng, ini bukan vlog gue, ini cuma rangkuman perjalanan gue keliling RSPD dan menemui residen-residen ganteng dan cantik kesayangan kalian. Untungnya, gue bisa ketemu hampir semua residen yang gue mau, walau ada beberapa yang nggak bisa gue temuin! Semoga ini bisa menjawab semua pertanyaan yang kalian tanyain ya.

**

Pernah nggak sih, ada pikiran takut kalau nanti (jangan sampai) gagal menyelamatkan nyawa seseorang? Kalau lagi ada pikiran kaya gitu, terus cara ngatasinnya gimana? Karena menurutku pekerjaan dokter itu menyeramkan in a whole new level. Sometimes nasib seseorang sepenuhnya berada di tangan kalian. –Aku

Brian: (menyeruput kopi) Pikiran kayak gitu pasti semua dokter pernah ngalamin, termasuk gue. Apalagi gue dan residen yang kerjanya berhadapan dengan darah dan organ-organ penting di tubuh. Kalau lagi kaya gitu? Gue cuma bisa diam dan berdoa, minta ditenangkan sama Tuhan, nggak panik dan berusaha fokus sama pasien dan cuma pasien. Biasanya sih, gue langsung lancar-lancar aja minta tolong ini itu.

Satria: Gue selalu dapet pikiran kaya gitu kalau gue udah berhadapan sama pasien kritis, pasiennya udah punya prognosis* buruk, dan gue mesti muter otak untuk bisa bantuin dia melewati masa kritisnya. Tapi, ya, sama kaya Brian. Gue selalu berdoa, minta dilancarkan otak gue untuk berpikir, dan minta kerja sama sama perawat dan staf rumah sakit lainnya. Alhamdulillah, selalu terlewati dengan sempurna.

Bima: Pernah kepikiran dan pernah kejadian. Semua dokter pasti bakal melewati fase-fase itu, gue yakin. Pikiran kayak gitu wajar, tapi kita udah dilatih untuk tetap tenang dan berpikiran jernih. So far so good, kalaupun kejadian, at least kita udah melakukan yang terbaik.

Kaisar: Semua dokter pernah mikir gitu dan pasti pernah dapet kejadian kayak gitu. Entah dari jaman mereka masih jadi koas, dokter umum, residen atau bahkan pas udah jadi dokter spesialis. Kita nggak bisa menunda kematian, kalo emang udah waktunya, ya udah. Gue, jujur, kayaknya paling sering mendapatkan pikiran kayak gitu, karena jelas, pasien yang dating ke gue kebayanyakan pasien dengan pendarahan di otak, yang punya prognosis buruk—inget, kebanyakan. Walau ada aja yang bisa gue selamatkan, tapi nggak sedikit juga yang nggak bisa selamat. Jadi, selain berdoa, gue juga berusaha mengerahkan semua ilmu yang gue pelajarin untuk nyelametin pasien. Ada yang berhasil, ada yang nggak. Asal kita berusaha semampu kita sih, hasilnya nggak akan bikin nyesel banget, paling nyesek doang.

**

Pagi, dok, semoga sehat-sehat aja ya. Aku mau tanya, kalau misalnya ada anak yang sulit banget mau diperiksa, biasanya strategi doksat gimana? Makasih dokter J. –Pengagum rahasiamu

Satria: Pagi. Kalo di tempat praktek dokter anak, kita udah siapin boneka dan mainan untuk distraksi anaknya kalo nangis. Kadang, si anak baru ditaruh di kasur pemeriksaan aja udah nangis jadi nggak kooperatif kan, jadi biasanya kita akalin dengan dikasih boneka atau mainan biar dia fokus sama mainan dan kita bisa periksa. Kadang kalo diajak bercanda juga pasiennya diem.

Cetta: Setiap dokter beda-beda sih, gue tuh sebenernya nggak gitu suka anak kecil tapi nggak tau kenapa malah daftar pediatric. Kalau gue, lebih suka nyiapin benda-benda yang 'aneh' untuk si anak. Kaya penlight, stetoskop nya ada gambar binatang atau malah kadang gue suka kasih pulpen atau spidol biar dia coret-coret di papan tulis yang sengaja gue pasang di dinding kasur pemeriksaan. Jadi lebih gampang periksanya.

Damar: Keren...

Brian: BUCIN DETECTED.

**

Sejauh mana dokter boleh emotionally attached ke pasiennya? Apa ada cara khusus biar dokter terhindar dari mental breakdown karena hal-hal yang terjadi sama pasiennya?

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!