Kamera mata-mata pun ia pasangkan secara diam-diam di tempat Raib, hanya untuk mengamati kemampuan Raib dan juga mengumpulkan bukti jika nanti Raib mencoba mengelak. Tapi Ali hanya akan mengambil bukti yang ia butuhkan, kalau kau tahu maksudku. Ali bukanlah laki-laki yang bejat. Mungkin ia memang sedikit jahil, tapi harga dirinya tidak serendah itu.

Dan benar, apa yang ia amati sangatlah luar biasa. Bahkan, Raib mampu menghilangkan benda-benda di kamarnya ternyata. Kursi pun sampai dia hilangkan.

Ali semakin hari semakin penasaran dibuatnya (ea HAHAH).

Setelah itu, banyak cobaan menghadang, atau bisa dibilang, tantangan untuk Tuan Muda Ali.

Semua ia lalui. Berpetualang ke berbagai dunia paralel, mengikuti festival di Klan Matahari, melawan Tamus, dan masih banyak hal lain yang ia lalui. Bersama kedua temannya. Iya, teman.

Awalnya dia hanya penasaran, hanya ingin menghilangkan rasa bosannya. 

Tetapi pada akhirnya, Ali bisa mengerti arti dari pertemanan. Pertemanan yang kuat, dan juga menghangatkan.

Pertemanan antara ia, Raib, dan Seli. 

Arti dari persahabatan. 

Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ali tidak menyangka bahwa persahabatan bisa mengisi lubang di dalam dirinya. Mengisi kekosongan kasih sayang dan juga perhatian dari kedua orang tuanya. Ali hanya bisa banyak banyak bersyukur atas apa yang telah diberikan kepadanya. Semuanya.

Ali sangat bersyukur sekali waktu itu dia bisa bertemu Raib di koridor, Ali bersyukur sekali karena ia telah mengikuti Raib dan Seli sesaat setelah tragedi tiang terjadi.

Ia tidak pernah menyangka kalau ia dapat berubah jadi beruang, dan lain sebagainya. Tetapi ia hanya menganggap itu sebagai bonus dari petualangannya.

Karena menurutnya, pemberian terbaiknya adalah persahabatan yang tercipta selama petualangan.

Ali sama sekali tidak keberatan jika harus mengambil risiko hanya untuk berpetualang bersama kedua sahabatnya. Semua ia akan lakukan demi persahabatan ini.

Ali merasakan rasa kekeluargaan yang ia butuhkan selama ini.

Ali akhirnya mendapat kebahagiaan yang selama ini ternyata ia cari. 

Terima kasih banyak, teman-teman.

________________________________

Tapi terkadang pun, Ali masih suka merasa kesepiannya. Sepintar apapun Ali, sejahil apapun Ali, ia masih punya perasaan.

Ia tidak tahu harus mencurahkan isi hatinya ke siapa kalau sedang kambuh.

Hingga pada suatu hari, 

"Hei Ali, pernahkah kau merasa kesepian ketika berada di rumah sendiri? Maksudku, ketika orang tuamu bekerja?" 

Ali dalam hati terkejut atas pertanyaan Raib.

Ali tidak pernah menyangka kalau seorang Raib cukup peduli untuk memikirkan kehidupannya.

Ali merasa terkejut sekaligus senang ketika ada seseorang yang mau sekedar menanyakan,

'Hei apa kau baik-baik saja?' 

Tentu, Ali awalnya tidak yakin apakah ia perlu menceritakan ini kepada Raib. Tapi, kapan lagi akan ada seseorang yang mau mendengarkan curahan hatinya? Ali tidak mau memberitahu orang-orang di rumahnya, gengsi. Tapi ini Raib yang ia bicarakan, Raib adalah salah satu sahabatnya. Bersama, mereka telah melalui masa pahit sampai manis. Jadi Ali memutuskan, mungkin tidak ada salahnya bercerita kepadanya.

Ali yang awalnya hanya ingin bercerita singkat saja, tiba-tiba terhanyut suasana.

Ali takut jika dirinya justru akan dipandang lemah oleh Raib, ia tidak mau itu terjadi.

'Dasar payah, hanya bercerita saja sampai-sampai meneteskan air mata' pikir Ali.

Ketika mendengar respon Raib, Ali terkejut. Ali mengira Raib hanya akan diam saja dan tidak mau berbicara dengannya lagi.

Tetapi kenyataan berkata lain, Raib memberi bentuk dukungan yang ia butuhkan.

Ali mendengar kata-kata yang ia butuhkan dari Raib dengan telinganya sendiri.

Raib justru menghiburnya. Membuat keduanya tertawa. 

Ali tidak pernah merasa se-lega ini.

Ia merasa ada sesuatu yang melompat-lompat di dalam dirinya, tapi tidak secara harfiah.

Tak lama kemudian, suasana ruangan hanya diisi oleh tertawa mereka berdua.

Suara tertawa Ali dan Raib.

Ali tidak pernah memperhatikan suara tertawa Raib sebelumnya. Enak didengar oleh telinganya.

Astaga, kapan terakhir kali Raib tertawa? Pikir Ali dalam hati. 

Ali merasa bahwa hanya dengan suara tertawa Raib, moodnya bisa naik secara drastis.

Kenapa ia merasakan ini sekarang?

Ali kembali tertarik untuk memperhatikan Raib secara diam-diam.

Entah kenapa, Ali melihat senyum Raib agak berbeda dari biasanya. Ia tidak ingat seberapa manis senyumnya, seberapa lucu bentuk bibir yang terbentuk karena senyumnya itu.

Ali menyesal tidak membawa kamera pengintai kecilnya.

Setelah kejadian di rumah Raib itu, Ali merasa ada yang berubah dari dirinya.

Ada yang berubah dari sudut pandangnya terhadap Raib. Ia merasa adanya keharusan untuk melindungi senyum Raib, melindungi Raib dari apapun yang mengancamnya. Mungkin ini agak berlebihan, tapi ini adalah apa yang Ali rasakan di dalam lubuk hatinya.

Ini lebih dari sekedar rasa persahabatan.

Ali tahu ia telah jatuh hati, untuk pertama kalinya.

_____________________________

Haii, ini aku sengaja buat panjang karena janjiku kemarin hehe. Semua isi di sini hanyalah menurut perspektifku saja, sama sekali tidak ada unsur canon/official tentang seluk beluk keluarga Ali, jadi ini hanya untuk hiburan saja ya^^ jangan dianggap terlalu serius heheh.

Terima kasih atas perhatiannya~

-maaf ya kalau kesannya terlalu berlebihan hehe, aku masih belajar jugaa-



















Bulan dan BintangWhere stories live. Discover now