Chapter VIII

1.7K 122 37

Ali memang selalu sendiri sejak dulu.

Orang tuanya selalu sibuk, jarang sekali berada di rumah. Hanya ada pembantu dan supir yang bisa menemani Ali. Mereka juga sebenarnya iba terhadap kondisi Ali yang kurang perhatian dari orang tuanya.

Awalnya ia memang belum terbiasa.

Menangis, mengomel, merajuk, dan lain sebagainya sudah ia lakukan saat masih kecil agar orang tuanya sadar kalau ia hanya ingin ditemani. Bukan ditemani oleh asisten rumah tangga maupun supirnya. Tapi ditemani oleh kedua orang tuanya sendiri.

Teman-teman Ali pun hanya beberapa. Kenakalannya yang membuat teman-teman di kelasnya agak menjauh dari Ali. 

Sebenarnya Ali bukan nakal. Dia hanya mencari perhatian. Ya, perhatian yang seharusnya ia dapatkan dari keluarganya. Hingga akhirnya dia tidak peduli lagi dengan teman sekelasnya saat SD sampai SMP.

Ali muak dengan keadaannya yang seperti itu terus, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari hobi baru untuk menghilangkan kebosanannya di rumah.

Ali memang kesepian. Tapi rupanya, itu tidak menghalangi rasa penasarannya yang sangat tinggi.

Ia mulai bereksperimen hal-hal kecil. Mulai dari yang diajarkan di sekolah, sampai hal yang dipelajari dari internet, bahkan hal-hal yang ia rasa harus di-eksperimenkan sendiri, tanpa acuan. Semua hanya mengandalkan otak kecilnya. Tidak jarang pembantunya dibuat pusing karena disuruh mencari benda-benda yang ia butuhkan untuk melakukan eksperimen-eksperimennya.

Rasa penasarannya tidak cukup sampai di situ. Ia paling suka membaca buku pengetahuan. Dari pengetahuan umum, sampai pengetahuan yang sangat mendetail. Semua buku yang ia baca pasti selalu dikorek habis sampai ke akarnya, tidak menyisakan apapun untuk dibaca. 

Ketika ia mulai bosan dengan buku pengetahuannya, Ali membaca buku sastra juga. Pada dasarnya, sama saja sih. Hanya saja ilmu yang dipelajari di buku sastra lebih menghibur dibandingkan dengan ilmu pengetahuan yang biasanya ia baca. 

Kebudayaan dalam negeri, luar negeri, semua ia baca. Hingga ia akhirnya ia bosan lagi.

Membaca buku, bereksperimen. Hanya itu yang ia lakukan kalau rasa kesepian dan rasa bosannya mulai muncul. Berulang-ulang ia lakukan hal tersebut, hingga bisa-bisa ia anggap kegiatannya itu seperti rutinitas biasa. Ilmu pengetahuan sudah merupakan sarapan paginya. 

Dengan semua kegiatan yang ia lakukan, akhirnya Ali bisa mengatasi kesepiannya dan mulai membiasakan diri.

________________________________

Semua berawal saat dia masuk sekolah menengah ke atas.

Banyak sekali hal tidak terduga yang terjadi selama awal masa SMA-nya.

Benar-benar hal yang tidak bisa diterima akal sehatnya. Tapi itu justru membuatnya semakin penasaran. Sangat penasaran.

Semuanya berawal ketika ia berasa di koridor bersama Raib. Dia kaget ketika pertama kali melihat Raib menghilang. Bagaimana tidak? Raib menghilang begitu saja, tanpa menggunakan apapun, hanya kedua tangannya saja. Ali berusaha menginterogasi Raib. 

Tapi apa daya, kala itu, Raib tidak ingin rahasia besarnya diketahui oleh seseorang dan memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat.

Ali tidak menyerah, hingga akhirnya dia berkunjung ke rumah Raib secara tiba-tiba.

Ali yakin, Raib pasti kaget bukan kepalang melihat dirinya, bukannya Seli. Raib juga pasti bertanya-tanya soal bagaimana ia tahu jalan ke rumahnya. Mencari informasi bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan seorang Ali, berkat otak jeniusnya.

Bulan dan BintangWhere stories live. Discover now