Part 37

1.6K 93 5

~~~

Syeila merebahkan tubuhnya ke atas brankar yang sejak semalam menjadi pengganti tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan tatapan kosong. Hatinya belum sepenuhnya mengikhlaskan kepergian salah satu orang terkasihnya. Masih terngiang dengan sangat jelas ucapan Reno semalam yang ternyata menjadi pesan terakhirnya.

Ia tak ingin menyiksa Reno dengan tidak mengikhlaskan kepergiannya. Tapi, hati kecilnya berkata bahwa ia sangat menginginkan Reno kembali. Sye tak dapat membayangkan betapa rindunya dia akan semua hal manis yang pernah ia lakukan bersama Reno dan kini semua itu hanya bisa ia kenang.

“Sye, makan ya. Kamu belum makan, kan?” tanya Carlos seraya mengambil makanan yang berada di atas meja.

Sye hanya menggeleng lemah dengan tatapan yang masih kosong. Melihat adiknya yang merasa sangat terpukul akan kepergian sahabatnya, Carlos hanya bisa diam menunggu Sye bisa menerima takdir yang sudah berlalu.

“Abang suapin ya?” tawar Carlos dengan nada yang sangat lembut.

“Bang, kalo aku ikhlasin Reno pergi, apa Reno bakal bahagia di sana?” tanya Sye dengan tatapan sendu dan mata yang sembab.

Carlos mengangguk pasti dengan senyum manisnya. “Pasti.”

“Sye bakal coba ikhlasin Reno, Bang. Walaupun Sye nggak tau apa bisa secepat itu Sye lupain Reno,”

“Sye, mengikhlaskan bukan berarti melupakan. Kamu ikhlasin Reno pergi itu berarti kamu biarin Reno tenang dan bahagia di sana tanpa harus kamu lupain segala tentang Reno. Termasuk kenangan yang udah kalian buat,” Carlos memegang kedua bahu Sye seraya tersenyum tulus ke arahnya.

Sye menganggukan kepalanya tanda mengerti apa perkataan Carlos dan melontarkan senyum getirnya.

“Sekarang kamu makan ya. Abang suapin,”

“Iya. Makasih ya, Bang.”

Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu kamar yang dibuka oleh seseorang. Seorang laki-laki dengan tubuh kekar terlihat dari balik pintu. Tangannya memegang sebuah parsel berisi buah-buahan yang ia tujukan untuk si pasien.

Sye tersenyum ramah ke arah Faldo yang juga dibalas sebuah senyuman oleh Faldo. “Sini, Kak, masuk.” ujar Sye mempersilahkan.

“Lo temennya Sye, ya?” tanya Carlos dengan ramah.

“Kakak kelas lebih tepatnya,” balas Faldo dengan nada yang tak kalah ramah.

“Oh gitu. Gue abangnya Sye. Jadi kalo ada orang yang berani bikin adek gue kenapa-kenapa, dia bakal berurusan sama gue,” tegas Carlos yang mendapat senyuman kikuk dari Faldo. “Ya udah Sye, ini ada temen kamu. Abang pulang sebentar ya.” pamit Carlos yang kemudian dibalas anggukan oleh Sye.

Sepeninggal Carlos dari ruangan itu, Faldo merasa dirinya bebas mengobrol dengan Sye untuk membicarakan topik yang bisa membuat keadaan Sye sedikit lebih baik dari sebelumnya.

“Masih sakit?” tanya Faldo khawatir.

“Masih pusing sedikit aja, Kak.”

“Jangan kebanyakan gerak apalagi mikir berlebihan,” Faldo menasihatinya dengan wajah yang terlihat masih khawatir dengan keadaan Sye.

“Iya, Kak. Oh iya, soal hukuman itu gimana?” tanya Sye dengan tampang polosnya.

“Lo lagi sakit kaya gini aja masih mikirin hukuman? Pikirin dulu kesehatan lo baru pikirin soal hukuman. Jangan sampe kejadian kayak gini keulang lagi. Gue nggak suka,”

Sye mengernyitkan keningnya bingung dengan kata-kata Faldo. “Nggak suka gimana?”

“Gue nggak suka liat lo harus bertaruh nyawa kayak semalem. Lo yang lagi kritis, gue yang ikutan senam jantung,” ujar Faldo yang berhasil membuat Sye merona karena perhatiannya.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!