BARU: Tap - cerita-cerita dari obrolan pesan singkat untuk 📲' Sekarang tersedia dalam Bahasa Indonesia
Download sekarang

Pieces 1: Bumi yang kita kenal

222 1 4

Pieces 1: The world as we know it.

Perahu yang terbuat dari es itu mendarat di pantai, Seorang pria menjejakkan kakinya ke pasir putih.

Sebuah kota yang besar. Dengan pantai kecilnya, pantai yang hanya menuju ke satu tempat tempat sang  pria baru saja mendapat berkat dari seorang dewi naga.

Hal pertama yang ia lakukan adalah naik ke jalanan beraspal dan mencari kotak yang berisikan koran kota. Dia menggesek kartu uangnya. Angka yang ada di kartunya itu segera berkurang dua menjadi nol.

“Kurasa aku harus mengambil uangku dulu, sebelum kemana-mana!”

Pria itu mengambil Koran dari  kotak kaca itu dan membaca tanggalnya.

“Sudah dua tahun. Dimensi para dewa terlalu tak bisa diperhitungkan.”

Pria itu melihat kota kembali. Tidak terlalu ada yang berubah. Beberapa tetap sebuah kota kecil yang terpelihara dan jalanan tetap masih kosong. Karena di zaman sekarang, makin sering seseorang keluar makin besar kemungkinan ia tertimpaKepingan langit.

Sebuah bar lokal gedung tak bertingkat dengan umur paling tua. Neon yang tertera menunjukkan bahwa bar ini buka bahkan di pagi hari seperti ini. tempat ini, mungkin satu-satunya tempat terramai di kota. Selain pusat komunitas. Kedua tempat itu selalu dipenuhi oleh manusia-manusia yang bosan ketakutan di rumah mereka namun tak terlalu berani untuk berada di jalanan.

Saat ia memasuki bar itu. semua mata melihatnya. Hampir semua orang mengenalnya, yatim piatu yang besar di kota mereka, mantan pemuda yang ingin di ajari hampir semua petarung di kota. Dan ia memilih yang terbaik di antara mereka. Tidak ada.

Pemuda itu mengadu nasibnya dengan menyeberangi teluk Frida, memohon agar dewi naga itu yang mengajarnya.

Gila, itu yang ada di pikiran para penduduk kota. Tapi sekarang ia tidak terlihat gila, dengan pedang dan belati yang ada di sisi kiri celananya. Tubuh gagah, dan jelas aura yang didapat oleh pelatihan sang dewi naga membuat predikat gila itu berubah menjadi dikagumi.

Mereka mengenal pemuda itu sebagai Riff. Mereka sudah tidak mengingat siapa nama belakang anak itu. mereka hanya tahu dia adalah satu dari empat yatim piatu yang dibesarkan Nash Remont. Seorang [guru] pedang di kota.

Riff melewati lautan mata yang memandangnya, entah apa yang mereka perhatikan. Karena Jaket berbulu Riff dan celana kulitnya tidaklah aneh di saat seperti ini.

Riff menaruh ranselnya di kursi tinggi dan duduk kursi depan bar minuman itu. dia mengetuk dua kali meja bar. Yang berarti meminta bir biasa.

Pemilik bar mengisi gelasnya dari keran bir. Dan menaruh tepat di depan duduknya.

“Selamat datang kembali, Riff. Gelas pertama gratis dariku.”

“Hentikan basa-basinya. Rumahku sudah terjual kan?”

Riff ditinggalkan sebuah rumah oleh orang tuanya. Yang sempat dipakai untuk tinggal bersama tiga yatim piatu lainnya di kota.

“Aku sudah mempersiapkannya.”

Riff membuang nafas lega. Ia tidak ingin memulai hidupnya tanpa uang satu digitpun.

Ia mengangkat gelas birnya ke mulut, jakunnya bergerak memperlihatkan betapa hausnya ia.

“Berapa bayi kosong selama dua tahun ini?”

Bartender itu tidak menjawab, dia tahu itu adalah masalah sensitif di kota. Di seluruhBumi malahan.

“Tujuh kelahiran, empat bayi kosong!” seorang pria menjawabnya. Pria yang duduk di samping kursi Riff.

“Dunia sudah hampir mencapai batasnya. Tinggal menunggu waktu sampai semua bayi yang lahir di dunia adalah bayi kosong!”

Hunt of Nine Dragons: IceBaca cerita ini secara GRATIS!