Ruangan tempat konferensi pers itu mendadak hening ketika pintu menjeblak terbuka, menampilkan sesosok cewek yang tengah menenteng kotak kardus kecil. Hening tersebut disebabkan oleh keterdiaman sang narasumber beserta para peliput yang tiba-tiba, mengenali sang empunya wajah di balik pintu tersebut.

Beberapa saat kemudian, ketika yang dilakukan cewek itu hanyalah terdiam dengan sorot menatap Domi lurus-lurus, para peliput segera heboh mengarahkan kamera serta mic kembali kepada sang presenter.

"Domi, benarkah cewek ini pernah memiliki hubungan khusus denganmu?"

"Domi, tolong jelaskan hubunganmu dengan cewek ini."

"Kau mengenali siapa cewek ini, Domi?"

Menghadapi pertanyaan beruntun itu, Domi hanya tersenyum tenang. "Kalian tentunya masih menyimpan dalam pikiran kalian, tantangan yang diberikan olehnya? Well, bagaimana hasil pencarian kalian? Apakah aku terbukti pernah berhubungan dengannya, bahkan dalam kejadian sekecil apapun?"

Seluruh ruangan kembali ribut seperti sarang lebah.

"Kau menuduhnya menyebarkan berita bohong, kalau begitu?"

"Tapi, apakah kau pernah mengenalinya sebelum ini?"

"Domi! Tolong beri pernyataan tegas tentang apapun yang pernah terjadi di antara kalian."

Domi meringis ketika justru suara lengkingan Mirinda-lah yang seakan menyilet telinganya. Cewek itu marah-marah karena Domi tak juga bertindak tegas dan memaparkan bahan yang sudah mereka persiapkan. Tapi, saat ini, ia sama sekali tidak berniat mendengarkan omelan cewek itu. I have my own pace, Mir, bisiknya dalam hati.

Ia sengaja menunggu hingga omelan Mirinda selesai sebelum berdeham--mengatasi keributan di depannya--dan menatap Carla lurus-lurus seraya berkata, "Di antara kami tidak pernah terjadi apapun. Aku sama sekali tak mengenalinya sebelum ini, not even a single name." Domi tersenyum puas ketika melihat sorot Carla berubah pilu, lalu melanjutkan, "Jadi, silakan kalian simpulkan sendiri wanita yang seperti apa yang sedang berdiri di--"

"Kau tak mengenaliku? Baik. Akan kubuat kau mengenaliku sekarang." Carla menyambar bahkan sebelum para wartawan sempat memulai keributan.

Carla meletakkan kardusnya di meja terdekat yang mampu dijangkaunya, secara otomatis menarik para wartawan mendekat. Lalu, ia mengeluarkan isinya satu persatu, sembari mulai bertutur.

"Selama seminggu pertama semenjak perkenalan kami, ia terus mengirimiku SMS dan buket bunga." Carla mengeluarkan kartu-kartu berisi pesan singkat berbunyi 'Morning, Sunshine!' dengan nama pengirim berinisial 'DS'. "Florist terdekat dari tempatnya tinggal sudah mengkonfirmasi adanya permintaan pengiriman ke alamatku atas nama Didi, ajudan kepercayaannya." Carla menatap Domi yang masih bergeming menatapnya dingin dan tanpa ekspresi, lalu diam-diam menghela napas. "I was so stubborn that time, tak ingin mengakui kebenaran kata-katanya bahwa ia sungguh tertarik padaku--terutama karena sainganku adalah cewek semacam Gisel. Bagaimanapun, aku sudah menemui banyak lelaki serupa, dan hasil pengamatanku hanya membagi cowok ke dua kriteria di mataku: either a gay or an asshole."

Carla melirik reaksi Domi sebentar sebelum menarik keluar strip obat pemampet diare yang isinya tinggal separuh. "Hari pertama kami berkencan, ia mengalami sakit perut karena keracunan makanan pinggir jalan. It was on me, karena memaksanya memakan bakso itu, dan bukannya makanan yang sedikit berkelas. Siapa yang menyangka lambungnya sepemilih itu?" Carla terkekeh sedih dalam lamunannya, membayangkan hari kencan pertama mereka. Those good old days...

"Hari kedua, ia menempeliku seperti hantu gendong berbelanja kebutuhan rumah, bahkan di saat perutnya belum sembuh betul dan raut pucatnya belum juga hilang. Ia selalu berkata ingin melindungiku, while in fact, lagi-lagi aku yang harus mengantarnya sampai ke rumah. Hari ketiga, hari keempat, dan hari-hari seterusnya, ia terus berusaha mengambil hatiku dengan rayu-rayuan kacang yang tak ada habisnya. Terus berusaha membuktikan diri bahwa ia bisa melawan jati dirinya sesuai persyaratan yang kuajukan: tidak ada sopir, tidak ada bodyguard, tidak akan makanan dan barang mewah, pesta-pesta gemerlapan, wartawan serta paparazi yang mengikuti kami." Mengabaikan air matanya yang mulai merebak, oleh karena flashback yang dilakukannya sendiri, Carla menatap Domi lurus-lurus sebelum melanjutkan perkataannya. "Sampai akhirnya, aku mulai memercayainya."

Almost Over YouBaca cerita ini secara GRATIS!