Part 36

1.7K 93 11

"Kita tak pernah tahu kapan kematian datang menghampiri kita. Dan jika kematian itu menjemput orang terkasih kita disaat kita sedang terpuruk, rasa sesak itu kian bertambah tanpa diperintah."

~~~

Sye berjalan menuju kamarnya di lantai dua untuk sejenak mengistirahatkan tubuhnya yang terasa penat. Tas ranselnya ia tenteng asal di tangan kanannya. Dibukanya pintu kamar itu lalu dijatuhkannya kasar tubuhnya ke atas tempat tidur dengan balutan selimut di atasnya. Matanya menatap kosong langit-langit kamarnya. Tak lama sejak ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.

TOK...TOK...TOK...

"Iya, sebentar." ucap Sye dari dalam kamar dengan nada yang malas seraya beranjak dari tempatnya.

Dibukanya pintu kamar itu dan menampilkan sosok Sarah dengan membawa sebuah kertas berwarna navy di tangannya. "Ini ada surat buat kamu kayaknya," ujar Sarah seraya menyodorkan surat itu kepada Sye.

Sye mengernyitkan keningnya bingung atas apa yang barusaja diucapkan Sarah. "Surat? Dari siapa?" tanya Sye bingung.

Sarah mengedikkan bahunya sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya. "Belum Mami buka. Lagian itu kan suratnya buat kamu. Jadi ya kamu yang buka dong. Ya udah Mami mau ke bawah dulu ya lanjut masak." pamit Sarah pada anaknya itu.

"Makasih, Mi."

Sye kembali menutup dan mengunci pintu kamarnya lalu memfokuskan pikirannya pada surat yang dengan tinta putih yang ditorehkan diatasnya.

Lo pikir lo bisa deket gitu aja sama Faldo? Nggak akan.

-Your nightmare-

Sye mengernyitkan keningnya membaca surat itu. Pikirannya melayang mencari tahu siapa pengirim surat itu. "Siapa ya yang ngirim?" gumam Sye seraya kembali melipat surat itu lalu memasukkannya ke dalam kotak berwarna hitam.

Sye mengedikkan bahunya tak mau ambil pusing tentang siapa pengirim surat itu. Matanya mengedar ke sudut-sudut kamarnya. Langkahnya berjalan menuju balkon kamarnya. Semburat senyum muncul di wajahnya hanya karena mengingat apa yang sudah Faldo lakukan padanya tadi pagi.

"Makasih," gumam Sye seraya tersenyum lebar merasakan hembusan angin yang bertiup cukup kencang sore itu.

Drrrrrttttt....

Sye mengambil ponselnya yang ada di saku seragam yang masih melekat di tubuhnya. Dibukanya satu notifikasi yang hinggap di berandanya sore itu. Terpampang jelas nama Una dilayar ponselnya.

From : Riuna
Sye, besok agak pagi ya berangkatnya. Ada yang mau gue tanyain soal materi kimia buat ulangan lusa.

Sye menggeleng-gelengkan kepalanya membaca pesan dari sahabatnya yang satu itu. Una pintar. Sayangnya dia hanya akan belajar satu hari sebelum ulangan itu dilaksanakan.

To : Riuna
Kebiasaan deh. Iya besok gue dateng awal.

Sye meletakkan ponselnya ke atas meja yang ada di dekatnya. Ia kembali menikmati hembusan angin sepoi-sepoi sore itu. Rasanya, Sye menjadi salah satu orang yang paling bahagia setelah mengalami pahitnya percintaan setelah dua hari ini.

Belum ada sepuluh menit Sye merasa tenang, pikirannya teringat akan ucapan Faldo yang akan memberinya hukuman besok. Sye tak masalah jika harus dihukum. Tapi, yang Sye takutkan saat ini adalah bagaimana jika Faldo menghukumnya dengan membongkar semua rahasianya di depan semua anak di sekolahnya?

"Kalo besok Kak Faldo bongkar semuanya gimana dong?" gumam Sye seraya mengusap kasar wajahnya. "Oke rilex, ini resikonya Sye. Lo harus siap, huhh." lanjutnya seraya menenangkan dirinya sendiri.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!