Chapter IV

2K 121 29

"...apa?"

"Aku bilang," lanjut Ali, "apakah kamu sedang suka pada seseorang?"

Aku hanya terdiam sebentar, sambil mengambil air minum dari tas. Ali masih menatapku.

"Aku... tidak tahu."

"Maksudmu? Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?" Ali kembali bertanya.

"Ya Aku tidak tahu! Lagipula, Kau menanyakan hal ini secara tiba-tiba. Aku bahkan sampai tersedak!"

Ali terdiam sejenak.

"Ya sudah. Aku minta maaf, oke?" Ali menjawab. Aku hanya kembali mengangguk kecil dan menatap novelku. Aku tidak tahu wajahku semerah apa tadi, bahkan terasa sedikit panas.

Beruntung, dua orang temanku sedang terlalu menikmati obrolan mereka. Jadi, tidak ada yang tahu percakapan ini. Ali kembali mengerjakan PR nya.

"Berarti, kalau Aku tanya nanti, kamu bisa menjawabnya kan?"

Satu butir keringat mengalir menuruni dahiku. Aku menarik nafas, mencoba kembali tenang. Ingat, kata kuncinya, mencoba.

"K-kenapa kau bertanya soal itu?! Toh, tidak penting juga!"

"Aku hanya penasaran, itu saja."

"Tidak. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu jawabannya."

Ini hanya Aku saja atau tiba-tiba hawa di sekitar kami menjadi agak panas?

Ali kembali terdiam. Tetapi tiba-tiba dia tertawa kecil, "Baiklah, kalau begitu."

Aku tidak tahu, Ali ternyata mengambil jawabanku sebagai suatu tantangan.

"Aku akan membuatmu tahu jawabannya." Ali berkata dengan nada agak tegas dan merapihkan PR-nya, "Terima kasih, Putri. Ini, Aku kembalikan PR-mu." Ali pun kembali ke kursinya.

Apa-apaan dia! Memanggilku dengan panggilan itu di kelas. Jika ada yang mendengar, kan bisa-bisa jadi masalah! Awas saja nanti, padahal kemarin dia baru saja badmood. Kenapa tiba-tiba hari ini dia begitu?

Walaupun begitu,

Kalau dipikir-pikir, seharusnya tadi Aku bisa menjawab dengan jawaban yang sama dengan tenang. Tapi, ada apa denganku tadi? Mengapa responku harus sedikit heboh seperti itu?

Aku menghela nafas panjang, berusaha menenangkan diri.

"Aku akan membuatmu tahu jawabannya."

Ya Tuhan, ada yang salah dengan Ali. Aku butuh Seli. Kenapa dia belum masuk juga sih?

Bel sekolah berbunyi, tandanya pelajaran pertama akan dimulai. Murid-murid merapihkan masing-masing posisinya. Aku merapihkan novelku dan memasukkan kembali bekal ke dalam tasku. Lalu, pak guru Biologi memasuki kelas. Setelah beberapa menit, dia mulai mengabsen.

"Hari ini yang tidak masuk hanya Seli ya, tadi bapak dapat pesan dari wali kelas kalian. Seli masih sakit, kita doakan semoga cepat sembuh."



Oh hoho. Hari ini akan menjadi hari yang cukup panjang.

____________________________________

"Tugasnya yang sudah selesai, silahkan dikumpulkan. Kalau ada yang belum, nanti saat istirahat kedua saya tunggu di meja saya. Jangan lupa diberi nama dan kelas ya! Selamat beristirahat."

Setelah beberapa balasan 'Baik pak' dari beberapa murid, pak guru pun akhirnya keluar kelas. Aku sengaja menyelesaikan tugasku lebih dulu karena takut tiba-tiba dipanggil Miss Selena secara mendadak saat istirahat kedua nanti.

Aku kembali mengambil tempat makanku dari tas, melanjutkan cheescake yang tadi belum sempat kuhabiskan. Biasanya Aku ke kantin membeli bakso bersama Seli, tapi sayangnya Seli hari ini tidak masuk.

Benar-benar sungguh disayangkan. Setelah kejadian tadi pagi, Aku tidak tahu harus bagaimana.

Kembali berbicara dengan Ali merupakan hal terakhir yang ingin kulakukan.

"Raib," Aku sedikit terkejut. "Aku ke kantin dulu ya, mau ikut?" Ali bertanya.

"Tidak, Aku di kelas saja," balasku. Ali pun membalas dengan anggukan dan pergi meninggalkan kelas.

Aku tidak bercanda ketika kubilang ada yang salah dengan Ali. Biasanya dia kalau kemana-mana tinggal pergi, tidak harus bilang-bilang ke Aku maupun Seli. Tapi kenapa hari ini dia...?

Mungkin saja dia tidak mau melihatku sendirian lagi karena Seli juga hari ini kebetulan tidak masuk. Mungkin niatnya baik, tapi tetap saja. Ini hal yang baru.

Atau, mungkin saja Aku yang overreacting. Hahaha.

Ah sudahlah, Aku mau melanjutkan novelku tadi.

______________________________

Miss Selena kembali memanggil kami ke ruang BK. Aku dan Ali. Dalam perjalanan ke ruang BK,

"Tugas Biologi tadi sudah selesai?" Aku bertanya.

"Sudah kok, jangan khawatir."

"Baguslah," balasku.

Melihat kebiasaan Ali yang suka meremehkan tugas, kali ini Aku cukup senang dia bisa agak ambisius sekali-kali.

Hening.

Oh iya,

"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah sudah mendingan?" Aku kembali bertanya.

"Iya, Aku sudah jauh lebih baik sekarang. Terima kasih lagi, Raib."

"I-Itu bukan apa-apa kok, Aku hanya memastikan saja. Lagipula, itu sudah merupakan tugasku." Aku menggaruk kepala dan menoleh ke arah lain.

Suasana kembali hening.

Dalam beberapa kesempatan, Ali menoleh ke arahku, lalu kembali ke arah jalan. Aku bingung,

"Kenapa? Ada sesuatu di wajahku?" Aku lagi-lagi bertanya.

"Benar, memang ada sesuatu. Sini kubersihkan."

"Baik," Aku dan Ali berhenti sebentar dan..

Splat!

"Hei! Apa-apaan itu?!" Aku mengelus-ngelus hidungku yang barusan disentil Ali.

Ali hanya tertawa. Dasar bocah ini-

"Itu hanya sedikit hukuman dariku," jelas Ali.

Hah?! Hukuman untuk apa?!

"Karena kamu telah menggangguku menikmati pemandangan." Ali menjawab dengan singkat.

Apa yang....

Aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskan keadaan yang sedang terjadi. Yang jelas, wajahku pasti terlihat kacau.

Marah, bingung, tersipu. Semua teraduk menjadi satu. Bisa dibayangkan?

Awas saja nanti Ali!

Aku pun mempercepat langkah dan segera masuk ke ruang BK, Ali di belakangku hanya kembali terkekeh-kekeh sendiri.

Miss Selena sudah menunggu kami di dalam.

________________________________

Sekali lagi, Author minta maaf karena ini terlalu pendek :"). Author sedang tidak memegang Laptop jadi harus dikerjakan di handphone :"") otomatis pekerjaan akan semakin lama heheh. Terima kasib atas perhatiannya^^




























Bulan dan BintangWhere stories live. Discover now