Chapter III

2.2K 125 61

Matahari sudah mulai mengintip dan menyelipkan beberapa sinarnya ke celah gordyn kamarku.

Aku terbangun setelah merasakan sesuatu menggaruk-garuk kakiku.

"Meoong," Putih kembali menggaruk kakiku.

"Iyaa, Putih. Aku segera bangun." Aku menjawab dengan keadaan yang masih lemas. Putih terkadang suka membangunkanku lebih pagi dari hari biasanya. Mungkin dia muak dengan suara alarm digital yang biasa membangunkanku.

Kakiku secara otomatis tergerak ke arah lemari, begitu juga dengan tanganku yang mulai mencari-cari seragam untuk hari ini. Mataku masih belum terbuka penuh dan beberapa kali masih menguap.

Setelah menggantung seragam di depan lemari, Aku langsung mengambil handuk dan bergegas masuk kamar mandi, tak nyaman dengan kotoran yang masih melekat di mata. Beberapa menit kemudian, Aku selesai mandi dan menggantung handuk di jemuran kamar. Aku segera menuju meja makan dengan Putih membuntutiku keluar dari kamar.

Aku duduk di meja makan sambil menyisir rambut dengan tangan, Aku lupa membawanya dari kamar tadi. Setelah selesai menyisir, Aku merapihkan diri dan mulai mengambil alat makan.

Sarapan kali ini seperti biasanya, Mama membicarakan tentang oleh-oleh yang diberikan Miss Selena kemarin kepada Papa. Aku hanya mendengarkan percakapan mereka, karena Aku masih terngiang-ngiang kejadian kemarin.

Ali.

Astaga, Ali curhat denganku kemarin.

____________________________________

Tadi pagi Aku diantar Papa, dia bilang hari ini masih harus pulang agak larut. Aku hanya bisa meng-iyakan dan memberi semangat kepada Papa, walaupun sebenarnya dalam hati, Aku sedikit kecewa mendengarnya. Tapi tak apa, selama Papa masih bisa pulang dengan aman, Aku bisa menghadapinya.

Saat berjalan melalui koridor sekolah, Aku sedikit terlamun. Ingatan semalam berputar di dalam kepala.

Sisi lain dari Ali yang belum pernah Aku lihat, terlintas di dalam pikiranku.

Apakah dia akan baik-baik saja?

Aku hanya bisa berharap dengan ia bercerita kemarin, mood-nya bisa membaik.

Aku memasuki kelas. Kelas masih terlihat sepi, baru ada Aku dan beberapa dua temanku.

"Hai Raib," salah satu temanku menyapaku. Aku menyapa balik.

Aku kembali berjalan menuju ke tempat dudukku di bagian kiri kelas, dekat dengan jendela. Seharusnya Seli duduk di sebelahku kalau seandainya dia nanti masuk. Aku juga sudah membawa oleh-oleh miliknya yang diberikan Miss Selena kemarin.

Hari ini ada pelajaran Biologi, dan kebetulan ada PR. Untung semalam Aku ingat, karena materinya sangatlah banyak.

Jujur, Aku tidak pernah merasa terbebani oleh pelajaran ini, tetapi pelajaran ini juga bukan pelajaran yang bisa dibilang paling mudah menurutku. Banyak hal yang harus dihafal, seperti nama-nama latin, nama-nama bagian tubuh, belum juga nama-nama penemu-penemunya. Bisa menyaingi pelajaran Sejarah kalau begini.

Karena masih banyak waktu yang tersisa sebelum bel masuk bunyi, Aku memutuskan untuk memasang earphone dan mengeluarkan cheesecake yang dibawakan Ibu untuk bekal hari ini. Sambil membaca novel, Aku menyuapkan kue ke dalam mulutku.

Tak lama kemudian, pintu kelas ada yang membuka. Rupanya itu Ali yang masuk ke dalam kelas.

Ya, seorang Ali, masuk pagi.

Itu.. bukanlah hal yang biasa.

Bahkan kedua temanku sempat berhenti mengobrol dan menoleh sebentar ke arah pintu kelas.

Memang hal yang ganjil ternyata.

Tumben, biasanya dia datang agak terlambat. Pikirku dalam hati.

Aku melanjutkan makan dan memperhatikannya dari jauh. Sepertinya mood-nya sudah membaik, syukurlah. Aku tidak ingin melihat Ali dengan kondisi seperti kemarin, rasanya aneh dan sedih. Aneh karena yang kita bicarakan di sini adalah Ali, dan sedih karena dia adalah sahabatku, sudah merupakan tugas Aku dan Seli untuk menghiburnya apabila dia sedang dalam keadaan yang buruk.

Aku hanya berhenti sebentar, dan kembali melanjutkan membaca novelku. Dari sudut mataku, Aku melihat Ali berjalan menuju mejaku. Aku sudah punya feeling dia akan menanyakan tentang PR.

"Pagi, Raib. Apa PR Biologimu sudah selesai? Boleh kusalin? Hari ini Aku sedang tidak ingin berurusan panjang dengan pak guru." Ali bertanya kepadaku. Aku hanya menghela nafas dan menggeleng dengan kebiasaannya ini. "Ini," jawabku pendek sambil memberikan buku PR ke Ali. "Terima kasih."

Aku mengangguk dan kembali melanjutkan mengunyah makanan. Tapi agak sedikit terkejut melihat Ali menarik bangku milik Seli dan duduk.

Hei, bukannya Aku tidak suka kalau dia duduk di sebelahku. Hanya saja, biasanya dia lebih memilih mengerjakan PR di bangkunya. Tapi entah kenapa kali ini dia memilih untuk mengerjakan di sebelahku. Biarlah, asalkan dia tidak mengganggu maupun menjahiliku. Siapa tahu dia hanya mau bertanya-tanya soal PR Biologi.

Tak lama kemudian, "Hei, Raib." sahut Ali dengan nada agak serius. Aku menjawab dengan 'hm?' dan menoleh ke arahnya.

Kali ini, Aku memperhatikannya dengan lebih dekat. Rambutnya agak terlihat lebih rapi dari biasanya, baguslah. Dia terlihat sedikit.. lebih dari biasanya. Lebih... baik? Intinya dia sedang dalam versi terbaiknya. Astaga, apakah ini bau parfum? Ali menggunakan sebuah parfum?!

Entah sejak kejadian kemarin, Aku merasa ada yang berbeda dari biasanya.

"Aku mau bertanya sesuatu," kata Ali.

Lihat, benar kan apa kataku, dia mau bertanya soal PR-

"Apakah ada seseorang yang kamu suka saat ini?" Ali bertanya.










Aku tersedak.

________________________________

Maaf, kali ini Author hanya bisa mengupdate sedikit :" karena kurang ide juga kayaknya hehe. Oh iya, Author menulis cerita ini hanya untuk menyenangkan Author dan para pembaca, sama sekali tidak ada unsur untuk meresmikan hubungan antara Raib dan Ali, karena yang bisa menentukan nanti hanyalah Tere Liye. Jadi jangan dianggap beneran yaa ehee. Mungkin cukup sekian dari Author, terima kasihh!

(Maaf kali ini tidak ada scene Seli sama sekali. Dia masih tertidur di kamarnya karena flunya yang masih belum membaik :(()


Bulan dan BintangWhere stories live. Discover now