Part 35

1.7K 90 2

~~~

Teriknya sinar mentari pagi itu membuat seorang laki-laki harus mengerjapkan matanya beberapa kali untuk beradaptasi dengan sinar matahari. Tangannya meraih ponselnya yang berada di meja nakas untuk melihat jam saat ini. Faldo beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju dapur rumahnya.

“Pagi, Bunda.” sapa Faldo yang melihat Lyla sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya.

“Eh, pagi juga sayang. Tumben banget jam segini udah bangun,” ucap Lyla heran karena memang jam baru menunjukkan pukul 06:10 WIB.

“Mataharinya terik banget, Bun, jadi silau di mata. Ayah mana?” tanya Faldo yang belum mendapati Gery pagi itu.

“Ada di kamar lagi mandi. Bentar lagi juga nyusul,”

Faldo menganggukan kepalanya tanda mengerti. “Ya udah, Bun. Faldo ke atas dulu ya. Mau mandi baru sarapan.” ucap Faldo seraya berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Faldo meraih tas ranselnya yang berada di atas meja belajarnya untuk memasukkan buku-buku yang hari ini akan ia bawa ke sekolah. Memang seperti itu kebiasaan Faldo. Mengemasi buku-bukunya pagi hari dan seringkali terburu-buru. Bahkan, Faldo hampir tidak pernah belajar setiap malamnya. Bisa dibilang, ia hanya akan belajar jika akan ada ulangan harian ataupun ujian sekolah. Itupun jika Faldo mau. Setelah merasa semuanya siap, Faldo berjalan menuju kamar mandinya untuk membersihkan tubuhnya sebelum berangkat sekolah.

Sepuluh menit kemudian, Faldo keluar dari kamar mandinya dengan seragam yang masih belum teratur. Atasan yang belum dimasukkan, dasi yang belum dipakai, dan kerah baju yang masih acak-acakan. Tangannya mengacak rambutnya yang masih basah meggunakan handuknya dengan tujuan mengeringkan rambutnya.

Faldo berdiri di depan cermin yang ada di kamarnya lalu menata seragamnya supaya terlihat lebih rapi dan disegani banyak orang. Menyisir rambutnya supaya tingkat ketampanannya lebih terlihat. Dan menyemprotkan parfum dengan aroma khas laki-laki yang maskulin di seluruh tubuhnya. Tak lupa, Faldo melingkarkan jam tangan Rolex nya dengan apik di pergelangan tangannya.

Setelah selesai mematut diri, Faldo meraih tas ranselnya dan berjalan keluar kamar menuju dapur untuk sarapan bersama Lyla dan Gery.

“Wah, Bunda masak banyak banget buat sarapan, Bun?” tanya Faldo karena tak biasanya Lyla masak sebanyak itu untuk sarapan.

“Iya, mau Bunda bagi-bagiin ke tetangga sekalian silaturahmi,” jelas Lyla seraya mengambilkan nasi untuk anak kesayangannya.

“Anak Ayah wangi banget pagi ini?” goda Gery pada Faldo seraya terkekeh melihat anaknya.

“Biasanya juga wangi kali, Yah. Kan biar cewek-cewek pada tergoda,” gurau Faldo yang disambut gelak tawa oleh Lyla dan Gery.

“Percaya deh yang ganteng jadi banyak yang naksir,” Gery terkekeh lalu menepuk bahu kiri Faldo.

Perbandingan sifat Faldo di rumah dan di sekolah memang sangatlah berbeda. Faldo di rumah adalah Faldo yang ramah, pandai menciptakan kehangatan, dan sangat menghormati orangtuanya. Lain halnya dengan Faldo di sekolah yang ketus, dingin, angkuh, dan hanya akan akrab dengan orang-orang yang dikenalnya.

♦♦♦

Sye memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon rindang yang ada di area parkir. Sye keluar dari mobilnya seraya menenteng tas ranselnya. Belum sampai Sye menutup pintu mobilnya, Rebecca berjalan dari arah lain sambil menatapnya sinis disertai senyum miringnya. Sye tak menghiraukan tatapan dan senyuman itu. Sye kembali berjalan berniat menuju kelasnya. Sesampainya Sye di lobi sekolahnya, Rebecca dan dua temannya menghadang Sye dan melemparkan tatapan tajamnya.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!