Chapter II

2.7K 135 67

Akhirnya perjalanan di angkot telah berakhir, kami segera turun dan membayar.

Ketika berjalan dari angkot menuju rumahku, suasana tetap hening. Biasanya Ali cerewetnya minta ampun, komentar sana-sini, membuat lelucon tidak jelas, dan lain sebagainya. Tapi sore ini, kami hanya ditemani suara cipratan air yang dihasilkan oleh genangan-genangan yang kami lewati.

Harusnya Aku merasa tenang dengan ketidakhadiran lelucon-lelucon garing yang biasa dilontarkan Ali, tetapi rasanya berbeda ketika sahabatku yang satu ini sedang dalam badmood.

"Ali, apa kau baik-baik saja? Maaf mungkin tadi Aku menanyakan hal seharusnya tidak perlu dibahas." Aku minta maaf kepada Ali, tak kuat dengan rasa bersalah yang mulai membebani benakku.

Tak ada jawaban dari Ali, apa Aku telah membuatnya kesal? Aduh, harus bagaima-

"Nanti kita bicarakan di rumahmu, dan tak apa, Aku tidak merasa keberatan dengan pertanyaanmu tadi, justru Aku merasa bersyukur ada yang menanyakan hal tersebut," jawab Ali tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Sehabis itu, dia sedikit menghela napas dan tersenyum kecil.

Aku kaget bukan kepalang.

Apakah benar ini Ali yang biasa kukenal?

Jawaban Ali berbeda dengan biasanya. Tidak ada unsur bercanda maupun perkataan yang membuatku kesal.

Yang Aku duga, Ali hanya akan menjawab dengan sesuatu yang bisa mengalihkan topik pembicaraan, seperti "Ternyata Putri Bulan punya hati juga ya," dan lain sebagainya.

Aku hanya membalas singkat dengan "Oke." dan kembali berjalan ke arah rumah.

------------------------------------------------------

Aku dan Ali duduk di sofa di ruang tamu, sementara Mama sedang mencuci piring. Tadi Mama sudah bertemu dengan Ali, dan segera menawarkan makanan. Biasa lah, namanya juga ibu-ibu. Dan Ali juga sangat antusias terhadap makanan yang ditawarkannya. Ternyata perkataannya tadi tidak main-main, dia sungguh berniat menghabisi makanan di rumahku.

Aku hanya tertawa kecil di dalam pikiranku.

Kami pun sudah makan malam bersama karena ternyata Ali berencana untuk pulang jam 7. Mamaku sedikit khawatir tadinya, tetapi Ali menjelaskan kalau itu sudah biasa bagi orang tuanya. Toh, orang tuanya juga tidak bakalan tahu. Ali juga bisa langsung memanggil ILY jika mau pulang, tak harus mengambil resiko untuk berjalan gelap-gelapan ke rumahnya.

"Oke," Ali menarik napas panjang, "mau kuceritakan hal yang tadi?"

Aku mengangguk dengan sedikit terlalu antusias.

"Biasanya, Aku sudah terbiasa dengan ketidakhadiran kedua orang tuaku di rumah. Mungkin hari ini moodku memang sedang buruk, dan," Ali berhenti sejenak, "ditambah cerita Miss Selena tadi tentang keluarga Ilo."

"Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa, sejujurnya dalam hati Aku merasa senang, merasa dirindukan oleh seseorang di luar sana. Tapi bagaimana dengan orang tuaku? Apakah mereka merindukanku juga seperti keluarga Ilo merindukan kita?" Ali terdiam sejenak. Aku juga ikut terdiam.

Suasana menjadi lengang di ruang tamu.

Untung saja suara TV di ruang keluarga volumenya besar, Mama jadi tidak terlalu memperhatikan pembicaraan kami jadinya.

"Tentu mereka tetap mengawasiku dari luar sana, menanyakan kondisiku lewat pembantu dan juga supir di rumah, memberi uang saku yang cukup untuk keseharian di rumah maupun sekolah. Tetapi tetap saja, rasanya ada yang kurang. Kami jarang berkumpul seperti keluarga normal lainnya. Bercakap-cakap saja jarang lewat media sosial. Media sosial mereka biasanya hanya berisikan akun-akun yang digunakan untuk melakukan bisnis saja. Bahkan di Skype pun, kami hampir tidak pernah video call bersama." Ali mengeluh dengan panjang lebar.

Bulan dan BintangWhere stories live. Discover now