Part 32

1.7K 92 0

~~~

Bulan menyerahkan tugasnya pada hujan yang siap mengguyur seluruh penjuru dunia kapan saja. Tepat seperti malam itu. Malam dimana seorang gadis cantik sedang merenung dengan menjadikan ruang makan sebagai saksinya. Jauh di dalam hati kecilnya, ia sangat ingin menjelaskan semuanya pada Faldo. Tapi egonya berkata agar ia menahannya sampai waktu itu benar-benar tiba. Waktu dimana Sye memang harus menceritakan segalanya pada semua orang.

Sye benar-benar pusing kali ini. Hati kecilnya selalu beradu dengan egonya yang sulit untuk ia kendalikan. Sye memejamkan matanya dan menyenderkan punggungnya untuk sejenak menenangkan pikirannya. Carlos yang sedari tadi berada di depan adiknya itu hanya bisa memperhatikan adiknya yang saat ini sedang tidak karuan dan Carlos tahu itu.

“Sye, kalo kamu mau gini terus, yang ada malah berpengaruh besar sama nilai kamu di sekolah dan semua yang berhubungan dengan masa depan kamu,” ucap Carlos membuka pembicaraan.

I know. Tapi apa dengan aku jujur tentang segalanya, semua orang bakal terima tentang kebohongan yang selama ini aku rencanain? Nggak, Bang.” balasnya seraya tersenyum getir ke arah Carlos yang menatapnya sendu.

“Tapi sampai kapan, Sye? Sampai kapan kamu terus menyiksa diri kamu sendiri dengan berhutang penjelasan sama Faldo yang pastinya bakal terus minta penjelasan itu setiap dia ketemu kamu?” Carlos meletakkan sendok dan garpunya lalu mulai fokus dengan adiknya saat ini.

“Terus Sye harus gimana, Bang?” tanya Sye.

“Abang saranin, kamu secepatnya jelasin ke Faldo tentang semuanya. Abang tau itu nggak mudah. Tapi kalo kamu semakin lama lagi menghindar dari Faldo, semakin lama juga kamu bakal tersiksa dengan kebohongan yang udah kamu buat, Sye. Think again, please.” Carlos mengusap tangan adiknya seraya menguatkan. “Abang ke atas duluan ya. Nggak ada Mami sama Papi tidurnya jangan kemaleman.” Carlos meneguk air minumnya lalu bergegas pergi seraya sedikit mengacak rambut adiknya.

Sye melanjutkan makan malamnya seorang diri dan berusaha melupakan hal itu sejenak. Nafsu makannya tak lagi seperti sebelum ia membahas hal itu dengan abangnya. Namun ia sadar bahwa ia akan merepotkan orang banyak jika ia harus menuruti nafsu makannya.

Setelah makan malam selesai, Sye bergegas menuju ke kamarnya dengan langkah gontai. Tangannya memegang ponsel yang sedari tadi ia acuhkan tanpa sedikit pun melirik beberapa notifikasi yang sedari tadi masuk.

Sye berjalan menuju balkon kamarnya untuk sejenak merasakan hembusan angin malam dengan paduan hujan yang selalu berhasil membuatnya kedinginan. Matanya terpejam menahan sesak, bibirnya terkatup menahan isi hatinya, wajah yang terlihat lelah seakan siap terguyur air hujan kala itu. Sye tak bisa membohongi dirinya sendiri. Karena, jauh di dalam lubuk hatinya ia selalu merasa nyaman dengan adanya Faldo yang selalu memberikan kejutan di setiap pertemuan.

Entah apa yang Sye rasakan malam itu sehingga ia berhasil mencapai puncak kerinduan pada setiap kejadian yang sudah ia lewati bersama Faldo. Sye sadar bahwa ia tak akan bisa mendapatkan kesempatan itu lagi setelah apa yang sudah terjadi malam itu. Bahkan untuk sekedar menerima notifikasi darinya pun rasanya mustahil untuk saat ini.

Ponselnya bergetar tanda notifikasi masuk. Sebenarnya, Sye sedang tak ingin berurusan dengan siapapun. Tapi entah mengapa untuk kali ini ia merasa bahwa ia harus membukanya.

From : Kak Faldo
Besok siang gue tunggu di balkon sekolah waktu jam istirahat.

Sye menghela nafasnya berat sesaat setelah ia membaca notifikasi dari Faldo yang membuatnya merasa lebih tak karuan.

“Oke, Syeila yakin nggak bakal ada apa-apa yang fatal.” Sye beranjak dari tempatnya dan bergegas menuju tempat tidurnya karena malam sudah larut dan ia takut jika Carlos mengecek kamarnya dan mendapatinya belum tidur maka ia akan mengomel sepanjang sarapan besok pagi.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!