Realitas

5 2 0
                                                  

Aku masih saja duduk termenung disini. Padahal sudah tidak ada lagi yang bisa aku harapkan. Semuanya sudah berakhir. Hidupku semakin gelap. Dan alam semesta semakin menghimpitku sehingga aku tak bisa lagi menggerakkan anggota tubuhku. Ini menyesakkan.

"Argh! Sampai kapan gue harus bertahan? Ini semua nggak adil!" Teriakku kencang. Masa bodoh denga orang lain di sekitarku yang terganggu. Aku sudah tidak peduli.

Kalau saja semasa hidupku, aku banyak mendengar perkataan Ayah dan Ibu. Kalau saja semasa hidupku, aku banyak berbuat baik sebaik yang aku bisa. Kalau saja anganku tidak berhenti hanya sebatas angan saja. Melainkan menjadi sebuah kenyataan yang membahagiakan.

"Tiara.." Suara itu.

Menyebalkan. Suara itu terdengar lagi. Penuh dengan luka. Penuh dengan duka. Apakah aku harus mendengar suara itu setiap hari di tempat gelap dan sempit ini? Sungguh tidak manusiawi sekali orang yang berani menempatkanku disini. Seperti orang mati.

Tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuhku. Apakah itu pisau? Atau pistol? Atau benda berbahaya lainnya?

Tolong, siapa saja selamatkan aku dari semua ini! Aku tidak mau matiku ini sia-sia. Sudah cukup dengan hidupku yang berakhir sia-sia.

**

"Maaf, Bapak dan Ibu. Kami sudah tidak bisa lagi menangani anak Anda. Kecuali jika ada pendonor mata yang rela membantu. Dan untuk perkembangan syaraf anak Anda, kami belum bisa memastikannya. Karena kecelakaan yang dialami anak Anda cukup parah."

EndeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang