Bab 3

480 19 10

Hari ini, hari Sabtu adalah hari terbahagianya Sasha sepanjang masa. Cewek itu diberi kesempatan untuk ngedate dengan idola SMA Trisatya, Saputra. Saking niatnya, Sasha paksakan bergadang semalam hanya untuk menulis list kegiatan yang akan dilakukan sewaktu ngedate. Nonton, main timezone, dan makan es krim salah satunya. 

"Ya ampun, anak mama cantik begini mau ngapain?" Mama Sasha, Gisella, tiba-tiba masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. Melihat anaknya yang sedang memoles make up tipis di wajahnya dengan rambut yang sehabis dicurly. Dress santai yang terlihat cantik pun menutupi tubuhnya. 

"Aduh, mama ngagetin aja," sahut Sasha seraya memoles lip tint berwarna cherry pada bibirnya yang tipis. "Aku mau ketemu temen, Ma, di Taman Anggrek," lanjutnya lagi.

"Mau ketemu temen atau pacar?" goda Gisella. Beliau memang suka menggoda anaknya seperti itu.

"Ih, mama! Udah, ah, Sasha pamit dulu ya, Ma!"

"Hati-hati!" seru Gisella sebelum Sasha menutup pintu kamarnya.


Saputra tidak menjemputnya untuk pergi ke mall bersama, sehingga Sasha terpaksa harus mengeluarkan sejumlah uangnya untuk naik taksi online. Semalam, Saputra mengejutkan Sasha dengan mengirim pesan untuknya. Cowok itu menjelaskan tempat mereka akan bertemu. Semalam, sih, Saputra janji untuk bertemu di coffee shop yang ada di mall tersebut.

Setibanya, Sasha langsung beranjak ke coffee shop yang menjadi tempat pertemuannya dengan Saputra. Cewek itu melihat jam di pergelangan tangannya, pukul 14.05. 

"Tunggu aja deh, baru lewat lima menit ini," gumamnya.

Sasha memutuskan untuk memesan minuman selagi menunggu. Setelah dipikir-pikir, akan lebih baik jika dia memesan satu untuk Saputra, mungkin saja hal itu dapat memberi poin plus terhadap cowok itu?

"Mbak, pesen green tea latte dua, ya," ujar Sasha. Beberapa lama kemudian, minuman pesanannya datang. Tapi, Saputra belum datang juga. Akhirnya, Sasha memutuskan untuk meneleponnya.

Sudah tiga kali Sasha mencoba telepon, tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Tubuhnya lemas seketika. Green tea latte dihadapannya tidak lagi selera.

"Seenggaknya, enggak usah bikin janji tapi ujung-ujungnya bohong," gumam Sasha.

Dia menghentakkan kakinya dan pergi dari coffee shop itu. Sekuat mungkin, Sasha menahan air matanya yang hendak menetes itu. Dia tidak boleh terlihat memalukan di hadapan banyak orang.

"Ck! green tea latte gue."

Sasha membalikkan tubuhnya kembali. Kakinya melangkah menuju coffee shop yang tadi dia kujungi. Kan, mubazir kalau green tea latte-nya terbuang begitu saja padahal isinya masih banyak.

Saat berada di depan coffee shop, Sasha dikejutkan dengan kedatangan Lucca. Cowok itu membawa dua cup green tea latte di genggamannya, dan Sasha menyadari bahwa green tea latte yang dipesannya tadi ada di genggaman Lucca.

"Apa-apaan lo?!" seru Sasha emosi. "Lo ngikutin gue?!"

"Sha, tenang dulu."

"Maksud lo apa, Lucca?"

"Oke, iya, gue emang ngikutin lo. Tapi itu semua karena gue peduli sama lo. Gue tahu Saputra enggak bakal semudah itu untuk mau ngedate sama cewek, bahkan cewek yang baru dikenalnya sekali pun."

"Makanya, Sha, makanya gue dateng ke sini dan ngikutin lo, pastiin kalau lo enggak kenapa-kenapa," jelas Lucca panjang.

Tubuh Sasha seketika menegang, "Lo sebegitu pedulinya sama gue?"

MINEWhere stories live. Discover now