Part 31

1.8K 93 2

~~~

Sye mengerjapkan matanya beberapa kali untuk beradaptasi dengan sinar matahari pagi itu. Tangannya membuka selimut yang membalut tubuhnya semalaman. Sejenak matanya menatap langit-langit kamarnya untuk mengumpulkan rasa sadarnya. Kepalanya menoleh ke arah meja nakas yang berada di sebelah tempat tidurnya lalu melihat ke arah jam beker yang ada di atasnya. Matanya membulat sempurna ketika melihat waktu sudah menunjukkan pukul 06:45 WIB yang artinya ia hanya memiliki waktu lima belas menit untuk bersiap dan menuju ke sekolahnya. Sye langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Tujuh menit berlalu dan Sye kini sudah siap dengan seragamnya yang melekat rapi di tubuhnya. Rambutnya kembali dikepang seperti hari-hari sebelumnya. Tak lupa kacamata bulat sebagai pendukung penampilannya ia pakai. Sye tak peduli dengan dirinya yang tetap berpenampilan culun walaupun kejadian semalam bisa saja menghancurkan rencana yang sudah ia jalani selama ini. Sye memang bingung harus memberi jawaban apa untuk Faldo nanti atau kapanpun. Tapi menurutnya, menghindar bukan salah satu cara terbaik untuk menyelesaikan masalahnya.

Setelah merasa siap, Sye berjalan menuruni anak tangga rumahnya lalu melangkah menuju meja makan untuk mengambil sarapan yang hendak ia bawa dan akan dimakan setelah tiba di sekolah nanti. Karena, ia tak punya cukup waktu untuk melahap makanannya di rumah sedangkan bel sekolahnya delapan menit lagi berbunyi.

“Mi, Bang, Syeila berangkat dulu ya,” pamit Sye seraya meraih setangkap roti tawar dengan selai strawberry yang mengombinasi, lalu ia masukan ke dalam kotak makan miliknya.

“Loh, kamu nggak mau sarapan dulu?” tanya Sarah seraya mengunyah sarapannya.

“Gampang deh, Mi. Nanti Syeila sarapan di sekolah aja. Nggak ada waktu lagi buat tanya-tanya, Mi. Syeila berangkat dulu ya.” Sye menyalami Sarah dan Carlos yang masih menyantap sarapan mereka masing-masing. Kemudian ia berjalan keluar menuju halaman rumahnya untuk mengambil mobilnya lalu berangkat ke sekolah.

Dengan kecepatan sedikit diatas rata-rata, Sye melajukan mobilnya menembus jalanan Ibukota yang sudah lebih ramai dari biasanya. Tangan kirinya memegang setangkap roti tawar yang tadi ia bawa dari rumah. Sedangkan tangan kanannya fokus dengan stir mobil yang sedang ia kendarai saat ini. Matanya menatap tajam jalanan Ibukota yang ramai bertujuan untuk meningkatkan konsentrasinya saat mengendarai mobil.

Oh shit! Pake macet lagi,” keluh Sye seraya memukul stir mobilnya pelan ketika mobilnya tidak bisa berjalan dengan lancar karena ada beberapa kendaraan yang menghambat perjalanannya.

Sye mengangkat tangan kanannya untuk melihat ke arah jam tangan yang ia pakai dan memastikan pukul berapa saat ini. Lagi-lagi matanya membulat sempurna ketika mengetahui bahwa waktu menunjukkan pukul 06:55 dan itu artinya lima menit lagi bel sekolah akan dibunyikan dan jam pelajaran pertama akan segera dimulai.

“Mampus. Kalo bakal lama macetnya, nggak bakal keburu sampe sebelum bel,” gumam Sye seraya merutuki penderitaan yang ia dapati pagi itu.

Tiga menit berlalu dan semburat senyum muncul di wajah Sye karena macet yang ia alami beberapa menit sebelumnya sudah mulai mereda dan akhirnya ia bisa kembali melajukan mobilnya menuju ke sekolahnya.

“Pak, bukain gerbangnya dong. Saya kan cuma telat tujuh menit, belum ada sepuluh menit, Pak,” ucap Sye pada seorang satpam yang menjaga gerbang sekolahnya.

“Saya juga tau, Neng, kalo tujuh menit belum sepuluh menit. Tapi saya nggak bisa bukain gerbangnya, Neng. Mending mobilnya diparkir di sebelah sana aja, neng,”

Ck, tau gini jadinya, gue pasang alarm lebih pagi,” gumam Sye seraya memarkirkan mobilnya di dekat gerbang sekolahnya.

Sye menuruni mobilnya dan duduk diatas cup mobilnya seraya membuka ponselnya dengan tujuan mengirimkan pesan kepada Qilla untuk meminta bantuan agar ia bisa masuk ke kelas tanpa sepengetahuan gurunya.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!