Kehilangan Cinta

38 2 2

Satu minggu kemudian, Amira mengadakan talkshow di sebuah Aula di sebelah gedung perkuliahan Jurusan Tata Busana seputar gaun-gaun rancangannya, cara merancang dan menjahitnya, dunia permodelan, dan kontes Miss Fashion & Designer 2017 kemarin. Acara talkshow tersebut telah menyedot perhatian banyak Mahasiswi Jurusan Tata Busana dan Mahasiswi Jurusan lainnya. Mereka sangat antusias bertanya kepada Amira mengenai keberhasilannya menjuarai kontes Miss Fashion & Designer 2017 yang baru pertama kali diselenggarakan dan menjadi seorang model Internasional di Paris, Prancis. Selain itu, mereka juga bertanya kepada Amira tentang cara merancang gaun dan menjahitnya dengan baik. Di acara talkshow tersebut, Amira dibantu Sofie, Pak Banu, dan tim fotografernya dari Paris. Steven juga hadir dengan duduk di kursi deretan paling belakang, sedangkan Mirna tidak ikut menonton, tapi Mirna menyuruh Amanda untuk mengawasi Steven. Ketika acara talkshow tersebut berakhir, Amira membolehkan para audience untuk foto-foto bersamanya dan memberikan tandatangan. Setelah sesi foto-foto dan tandatangan sudah usai dan audience banyak yang pulang, Steven menemui Amira untuk memberikan ucapan selamat dan sekuntum bunga mawar merah jambunya lagi yang kemarin ditolak Amira.

"Hai, Amira!" sapa Steven sambil menyembunyikan sekuntum bunga mawar merah jambu di belakang punggungnya yang dipegang dengan tangan kirinya.

"Hai, Steve!" balas Amira sambil memandang Steven yang ada di hadapannya.

"Kamu tadi nonton acaraku ini ya?" tanya Amira sambil tersenyum malu-malu kepada Steven. Di saat sekarang ini, Amanda memfoto-foto Steven dan Amira dari balik pintu Aula yang nantinya akan diberikan ke Mirna sambil menelpon Mirna untuk segera menuju ke Aula sekarang juga.

"Iya, Amira!" jawab Steven.

"Terima kasih banyak, Steve!" ucap Amira, lalu Amira berjalan menuruni panggung menuju ke dekat Steven setelah mematikan laptopnya yang ada di atas meja penyaji yang tadi dipakai untuk mempresentasikan cara merancang gaun dan menjahitnya dengan baik. Sementara itu, Sofie dan Pak Banu sedang berbincang-bincang di atas panggung agak jauh dari Amira dan Steven.

"Gimana kabarmu, Steve?" tanya Amira sambil menyalami Steven.

"Baik-baik saja seperti kemarin, Amira!" jawab Steven sambil bersalaman dengan Amira dan tersenyum kepadanya.

"Syukurlah kalau begitu!" kata Amira sambil bernafas lega.

"Mirna ke mana, Steve?" tanya Amira.

"Kok sendirian aja dari kemarin?" sambungnya. Setelah Amira menyebut Mirna, Steven menundukkan kepala dan raut mukanya terlihat marah.

"Maaf, aku kurang tahu dengan Mirna!" jawab Steven dengan memandang wajah Amira kembali yang kini sangat cantik. Wajah hitam kusam, bibir hitam kering, kawat gigi norak, rambut berkuncir dua dengan beberapa karet warna-warni pengikatnya, kacamata hitam tebal bak Betty Lavea, kaos kaki hitam panjang selutut, sepatu tebal, dan kemeja lengan panjang kotak-kotak yang selalu dikancing di bagian leher sudah sirna dari Amira setelah dipoles Winarti alias Winarto. Selain itu, omongannya Amira berubah menjadi serak-serak basah dan halus. Sebuah tipe suara seksi bagi kaum hawa.

"Ada perlu apa kamu datang menemuiku, Steve?" tanya Amira dengan sangat ingin tahu.

"Aku ingin menyampaikan tiga hal kepadamu, Amira!" jawab Steven yang wajahnya sudah cerah kembali setelah memandang kecantikannya Amira.

"Apa itu? Katakan kepadaku sekarang juga, Steve!" tanya Amira sambil mengibaskan rambut panjang hitam lurus agak kemerah-merahannya yang menutupi mata kirinya, karena tertiup angin kencang sejenak yang masuk ke dalam Aula.

Gaun Merah Jambu AmiraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang