Prolog

1.9K 156 20
                                          

"Yureka?"

Lidahku mengulangi nama itu dengan kelu. Nama itu keluar dalam rasa yang mirip makanan yang biasa kumakan: pekat dan berat. Tapi laki-laki yang berlutut di hadapanku mengangguk mendengar hal itu.

Mengangguk artinya setuju.

Mengangguk artinya aku anak baik.

Laki-laki ini tidak akan menyuruhku membunuh anak lain. Tanganku akan bersih hari ini. Tapi aneh melihatnya tidak memasang senyum sama sekali. Aku merasa dia sedang menjebakku. Seperti Orang Tua yang lain.

"Itu namamu sekarang," ujarnya.

"Bukan lagi Nomor 668?"

Sejujurnya, aku tidak suka ini. Biasanya, Orang Tua akan ke sini jika aku memang lulus semua ini, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang datang. Hanya laki-laki ini yang datang. Bagaimana jika laki-laki yang jauh lebih dewasa dan lebih tinggi dariku ini berbohong? Dari sekilas pandang saja aku tahu tidak akan bisa mengalahkannya.

Lelaki itu menggeleng. "Bukan. Kamu sudah lulus."

"Anu ... tapi ... mereka...." Mataku terarah ke kaca di atas, menyuarakan ketakutanu.

Tapi mataku tak mendapati ada siapapun di sana kecuali beberapa bercak merah.

"Aku sudah mendapatkan izin." Laki-laki itu bicara lagi, menarik perhatianku. "Kamu sudah keluar. Kamu lulus. Jadi kamu berhak atas nama itu."

Tangannya terulur ... menyentuh rambutku.

"Kamu sekarang adalah Caiden," ujarnya. "Yureka Caiden."

Jantungku rasanya melompat ke leher. "Caiden? Tapi Caiden itu kan...."

"Nama yang akan kamu dapat setelah lulus dari tempat ini," Laki-laki itu meneruskan ucapanku. "Sudah aku bilang, kamu lulus."

Aku masih mengerjap tak percaya. Benakku masih mengumpulkan nyawa sementara otakku masih bekerja keras untuk memproses semua informasi dadakan ini.

"Dan...." Kepalaku miring ke satu sisi saking beratnya. "Kakak ini ... siapa?"

"Namaku Yuda," Laki-laki berkata. Sekali lagi, tanpa ekspresi. Seperti patung dari batu dan kaca. "Ariyuda Caiden. Kakakmu."

***

Blood and SwordTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang