Rejected!

1K 102 47
                                                  

.

.

HAPPY READING !

.

.

.

Suasana pagi ini masih terasa begitu lengang, hanya ada suara dari hembusan angin yang kencang dan juga burung yang nampak berkicau riang, alunan suaranya terdengar indah namun sayang kicauan yang merdu itu tetap tidak bisa 'membunuh' suasana sepi yang mendominasi dan terasa begitu nyaman bagi seorang, sepi seolah sudah menjadi teman abadi bagi seorang Lee Jeno.

Pemuda berkulit putih bagai batu pualam itu masih senantiasa bergelung nyaman dalam tidurnya, mengubur tubuh di dalam selimut seraya berlindung dari dinginnya udara pagi yang menyusup dari celah jendela yang masih terbuka, sesekali garis wajahnya yang menawan terlihat beringsut berusaha mencari kenyamanan diantara bantal dan juga dada milik seseorang, Jeno menarik nafasnya dalam saat indera penciumannya menghirup aroma bunga yang terasa sangat menenangkan.

Ahh, aromanya merasuk hingga memenuhi seluruh paru-parunya dan tiba-tiba saja seluruh tubuhnya kembali 'terbakar'

"Nhehh..." sial, aroma ini...

Dengan mata yang masih senantiasa terpejam Jeno menggeliat semakin kuat dan tangannya tanpa sengaja meremat selimut yang masih membalut rapat tubuh telanjangnya tanpa menyadari jika di balik selimut yang sama juga ada sepasang lengan yang masih melingkar erat di pinggangnya, remasan itu secara tidak sengaja juga membuat si pemilik lengan bangun dan langsung menatap Jeno separuh nyawa dengan tatapan penuh khawatir

"Y-ya gwencana?"

Jeno langsung membuka mata dan baru tersadar jika sejak semalam ia tidak sendiri karena begitu ia mendongak ia langsung disambut dengan sepasang mata hitam yang sejak semalam pula selalu menatapnya penuh puja.

Demi Moon Goddess mata itu indah sekali, Jeno tidak pernah membayangkan jika dibalik lensa tebal yang selalu dominan ini kenakan tersimpan sepasang mata hitam yang terlihat sangat menawan, bahkan sorot matanya terlihat lebih indah dari mata seekor rusa.

"Gwenchanayo?" tanya dominan itu sekali lagi "Apa heat-mu datang lagi?"

Seketika Jeno memejamkan mata saat kata-kata si dominan kembali membuatnya ingat mengenai status alaminya. Ah sial, lagi? Yah lagi, karena sejak semalam entah sudah tidak terhitung lagi berapa kali dominan di hadapannya ini berhasil mengali kenikmatan dari tubuhnya akibat serangan heat yang selalu muncul tiba-tiba.

"A-ania..." Jeno coba mengelak karna sungguh ia tidak berdaya lagi jika sampai 'serangan' itu muncul kembali, tapi... "Eunghhh..." oh sialan! Tolonglah, jangan lagi Jeno sudah sangat lelah

"Kau yakin?"

Jeno sedikit memekik saat Jaemin dan tangan kurang ajarnya kembali menjajah kedalam lubang senggamanya, disana ia bisa merasakan beberapa jari panjang sang dominan kembali membuat lubangnya basah. Sialan, apa dominan ini sengaja?

"Disini sudah basah lagi..." Jaemin menggumam dengan suara bariton khasnya membuat seluruh rambut disekitar tengkuknya kembali meremang.

'Yah, dan itu semua salahmu!' Jeno mengumpat di dalam hati, sungguh tidak bisa dipercaya! Jaemin yang terlihat polos karena penampilan nerdy-nya ternyata sama saja, dia tetap seorang alpha yang menakutkan di atas ranjang. Jeno mengeratkan pelukannya sembari sesekali menggigiti ujung kuku jarinya sendiri dalam usaha menahan desahan laknat yang akan keluar dari mulutnya. Jeno sadar di situasi seperti ini rasanya mengelak pun percuma, ia akan tetap kalah karena seorang submasive tidak akan pernah mampu menolak seorang dominan apalagi jika mereka sedang ada di dalam masa heat-nya

You've Fallen For Me (Jae💚No)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang