#20

1.3K 241 124

April

"Qil, bisa ngobrol bentar?"

Suara Adrio yang gue dengar dari belakang gue, membuat gue bergidik. Selain merasa excited karena dia nyamperin gue, tapi gue juga merasa takut. Ya takutlah, setelah dengan gamblangnya gue ngomong soal perasaan gue dan langsung menghilang begitu saja.

Lagian gue kok bisa-bisanya sih dengan gamblangnya ngomong kayak tadi? Setan apa yang merasuki gue?

Yang pasti, gue cuma nggak mau memendam ini lama-lama, gue tahu gue kecepatan.  Belum ada setahun gue putus sama Rakha tapi gue udah sayang sama cowok lain. Tapi itu kenyataannya, ini yang gue rasain selama Adrio terlihat memberikan rasa lebih sama gue. Gue nggak munafik, jelas gue baper. Siapa yang nggak baper kalah dicium pipinya sama orang ganteng kayak Adrio? Siapa juga yang nggak baper disamperin, di-'cemburu'-in karena nggak kasih kabar kalo operasi? Padahal gue juga belum tahu, maksud Adrio selama ini itu apakah benar dia sayang juga sama gue?

Gue mau nggak mau berbalik menghadap Adrio, mencoba menatap balik matanya yang sedang menatap gue. Sumpah, rasanya kayak mau menghilang aja. Pintu kemana saja ada di mana? Gue butuh.

"Bisa, Qil? Bentar kok.."

"Umm...bis--"

"April--oops, sorry, Bang, bukan maksud ganggu nih. Tapi gue butuh April," Suara Damar membuat gue refleks berbalik dan menghela napas. At least, gue bisa mengulur waktu dan kesiapan hati gue.

"Kenapa, Bang?"
"Ada konsul dari IPD. Lo mau tau prosedur transplantasi organ nggak, Pril?"
"MAU!"
"S-sorry, ya, Bang.."
"Hmm, dasar lo. Ya udah, gue ke atas aja. Jangan ada cito ya, Mar."
"Kagak janji, Bang."

**

Gue sama Damar udah ada di Paviliun Jasmine, paviliun VIP milik RSPD. Kami ditelfon dari paviliun ini karena ada satu pasien yang dirujuk ke bagian bedah. Paviliun ini gede, denah gedungnya sengaja dibuat cuma satu lantai, dengan kamar banyak. Jadi kaya rumah, tapi diganti fungsinya sebagai rumah sakit.

"Malam, April dan Damar."

"Malam, chief." Gue dan Damar kompak menyapa seseorang yang baru masuk ke Paviliun ini.

Chief yang dimaksud bukan dokter Bilzardy, melainkan dokter Kevin, chief resident di PPDS Penyakit Dalam. Gampangnya, dokter Kevin ini adalah senior residen di bagian penyakit dalam. Dia ini sepupunya Rani, sahabat gue.

"Ini, pasien dokter Guntoro, End Stage Renal Disease. Saya baru dapat telfon dari pasiennya, bahwa anggota keluarga pasien ada yang mau mendonorkan ginjalnya. So, we're gonna get him a new kidney."
"Hasil lab pendonornya?"
"Pendonor dan hasil laboratoriumnya lagi menuju ke sini. I guess, I'm gonna pass this patient to you,"
"Siap, chief. Ruang perawatannya tetap di sini atau.."
"Tetap di sini sampai sebelum operasi. Nggak apa-apa kan?"
"Santai, chief. Oke, kami periksa dulu pasiennya."
"Saya tinggal ya,"
"Makasih, chief."
"Ganteng ya, Pril?"
"Hah? Hahahaha..Iya, ganteng."
"Demen lo?"
"Enggak."
"Demennya sama Adrio ya?"
"Iy-ENGGAK."
"Ketahuan lo."
"Diem deh, ah, buruan masuk!"

Gue sedikit mendorong Damar supaya masuk lebih dulu ke kamar pasien. Damar sempat-sempatnya nanya gue lebih suka Adrio daripada dokter Kevin, ya jelas, gue jawab yang pertama. Baru saja gue membeberkan perasaan gue selama ini.

Bukan hal yang aneh kalau gue emang anaknya gampang sekali suka sama orang. Sekali ketemu, dapet first impression yang pas, yakin deh, gue bakal nyaman sama orang itu. Di sini kasusnya Adrio. Gue pertama kali kenal sama Adrio pas beberapa minggu setelah gue masuk residen. Gue nggak tahu kalau dia residen anestesi, gue mikirnya dia residen bedah sama kayak gue. Karena, gue sebagai residen semester 1, mana bisa memperhatikan lingkungan sekitar? Gue cuma bisa menunduk, menjawab semua keinginan senior gue dengan jawaban "Ya."

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!