Chapter 15

1.3K 85 2

Juliet berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya yang berdetak sangat kencang. Selama di perjalanan menuju rumah sakit mami juliet bercerita kalau mereka akan menemui calon mertua juliet, bayangkan calon mertua.

Juliet bingung bagaimana dia harus menghadapi orang-orang yang tidak dia kenali, terutama menghadapi pria yang akan menjadi calon suami nya. Juliet bahkan sangat yakin dia belum pernah berkata iya pada rencana perjodohan yang di atur oleh mami nya itu.

Juliet rasanya ingin kabur detik ini juga, bagaimana kalau calon suaminya itu lelaki tua yang sudah berumur. Atau mungkin dia brondong yang kerjaannya bergantung pada hidup orang tua nya. Setengah mati juliet berusaha menyingkirkan fikiran-fikiran itu.

Dan sekarang juliet sedang berdiri di pintu kantin rumah sakit sambil menatap punggung pria yang mami nya bilang dia adalah calon suami juliet. Kaki juliet terasa bergetar membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi, kalaupun juliet lari itu tidak mungkin karena dia tidak suka mengeluarkan keringat.

Juliet melafalkan doa-doa sambil berjalan mendekat ke arah pria yang sedang duduk dengan kopi hitam di hadapannya.

"Omo "juliet reflek memekik kaget saat melihat pria di hadapannya adalah romeo.

Romeo hanya menatap juliet sekilas kemudian kembali menatap ke arah jendela. Pria itu seperti tidak kaget dengan pertemuan mereka.

Juliet mengambil tempat di hadapan romeo, sambil bertopang dagu juliet melihat romeo yang nampak berbeda. Dia masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang terakhir kali dia kenakan di pesta. Rambutnya acak-acakan dan dasi yang biasa terikat rapih itu sudah tidak berbentuk, satu kata untuk mendeskripsikan kondisi romeo, kacau.

Tidak ada satupun dari mereka yang berniat membuka percakapan, hanya terdengar beberapa orang di kantin sedang berbicara mengenai keluarga mereka masing-masing.

Juliet benci berada di situasi ini, dia bahkan ingin memaki pria di hadapannya karena sudah banyak membohonginya, mempertanyakan semua hal yang ada di dalam fikiran juliet. Tapi seperti ada yang menahan bibir juliet untuk tidak berkata apapun.

Selama 1 jam Juliet hanya diam mengamati pria yang sedang sibuk dengan fikirannya sendiri itu, membiarkan pria itu tenang sampai mau membuka suaranya.

"Gue gak butuh kalau lo kesini cuma buat mengasihani gue juliet "romeo membuka suaranya setelah juliet menunggu selama 1 jam.

"Gue kesini nggak mau mengasihani lo, gue hanya duduk aja disini, ini tempat umum bukan? "

"Terserah "jawab romeo dengan wajah datarnya, ya pria itu kembali seperti dulu.

"Gue kesini bareng nyokap bokap"

"Gue gak tanya"

"Harus tanya dong,  emang lo nggak bingung "cerocos juliet berusaha untuk mengubur romeo.

Romeo menatap juliet dengan seksama. Gadis itu terlihat berusaha mati-matian untuk bersikap seolah dia baik-baik saja tapi ternyata bakat akting juliet tidak sehebat yang romeo fikirkan.

Romeo menghela nafas panjang sebelum memulai bercerita. "Gue gak tau mau mulai dari mana juliet "

"Gue nggak akan minta lo buat cerita panjang lebar karena gue tau lo gak lagi dalam mood yang baik untuk mengadakan konferensi pers"

Romeo menaikkan sebelah alisnya sambil menatap juliet heran. "Bukannya lo punya banyak pertanyaan yang mau lo tanyakan ke gue? "

"Iya, tapi gak sekarang "

"Terus, apa yang buat lo dari tadi duduk disitu tanpa ngomong apapun, gak mungkin kan lo lagi mengaggumi wajah gue? "

"Wah wah wah...  Bapak romeo sepertinya betul-betul dalam kondisi stress akut "

Romeo & Juliet  ( Another Story ) #Wattys2018 ( Complete )Baca cerita ini secara GRATIS!