20th

2.1K 464 247

Haechan menatap Yukhei yang berdiri mematung setelah kepergian para dayang dan tabib, ia tidak tahu harus senang atau takut saat menerima kenyataan bahwa ia mengandung pewaris takhta setelah Yukhei.

"Hyung.. Kau kenapa?"

Yukhei menggeleng, "memangnya aku kenapa?" Tanyanya linglung.

Haechan meremas selimutnya, jantungnya berdegup cepat, ia terlalu bahagia hingga membuatnya ketakutan dengan reaksi Yukhei. Bisa saja Yukhei tak menginginkan bayi mereka yang kata tabib berusia lima minggu.
"Hyung, tidak siap?" Tanya Haechan ragu.

Yukhei menyerit. "Siap apa?"

"Hyung! Aku serius! Aku mengandung anak mu!!" Kata Haechan setengah menjerit.

Yukhei menarik rambutnya kuat hingga dirinya sendiri terkejut saat rasa sakit terasa nyata.
"Aku-"

Haechan menatap Yukhei dengan mata berkaca-kaca. "Apa aku harus merawatnya sendiri?"

"Huh?!" Sejak tadi Yukhei tak mampu merespon dan memahami makna pewaris. Jiwanya seolah terbang entah kemana.

Haechan merengut kesal lalu menarik bantal disisinya dan melemparkan bantal itu hingga menghantam wajah tampan Yukhei. Yukhei mundur selangkah dan jiwanya seolah tertarik kembali ke dunia nyata.

"Hyung! Anak mu!"

Yukhei segera menoleh dan menatap Haechan dengan mata bulatnya yang berbinar.
"Bahkan aku belum menduduki takhta, tapi sudah memiliki pewaris."

"Hyung, aku-"

Wajah Yukhei memerah hingga telinga, senyumnya mengembang lebar.
"Aku memiliki pewaris!!! Aku akan dipanggil ayah!!" Teriaknya heboh.

Haechan terkejut mendengar suara berat Yukhei yang menggelegar, namun tak lama ia ikut tertawa melihat Yukhei yang menutup wajah merahnya.

"Aku bahagia sekali!!!!"

"Aku akan menjadi ayah!! Kita akan jadi orang tua!!"

"Ayah Yukhei terdengar lebih membahagiakan daripada Raja Yukhei!!!" Lanjutnya tak kalah heboh.

Haechan tertawa saat Yukhei menepuk wajah tampannya beberapa kali. Yukhei segera duduk di pinggir ranjang lalu mencium kening Haechan lembut dan memeluk tubuh kekasihnya itu erat.

"Terima kasih cinta ku.." Kata Yukhei penuh haru.

Haechan mengangguk pelan dan menepuk punggung Yukhei lembut.
"Tidak perlu berterima kasih hyung, semua terjadi karena kita saling mencintai."

Yukhei mengusap kepala belakang Haechan lembut. "Terima kasih karena telah bertahan di sisi ku, Haechan. Kau selalu menderita karena aku, jadi aku berterima kasih.."

"Aku- aku tidak tahu bagaimana cara ku bertahan tanpa diri mu."

Haechan tertawa pelan lalu mendorong Yukhei menjauh.
"Sudahlah hyung, tidak perlu dipikirkan."

"Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan apapun tentang mu.." Kata Yukhei.

Haechan merengut lalu menyandarkan kepalanya di bahu Yukhei. "Daripada merayu ku, lebih baik hyung bantu aku makan manisan pir!"

Mendengar itu, dengan segera Yukhei menarik cawan berisi potongan buah pir yang setengah kering.
"Buka mulut mu!"

"Ayah akan menyuapkan manisan pir yang kau inginkan jagoan!"

Haechan lagi-lagi tertawa melihat Yukhei yang bersemangat, ia segera membuka mulutnya dan menikmati rasa manis dari manisan kesukaannya.

Tangan keduanya saling menggenggam erat, kebahagiaan yang mereka perjuangan mulai terlihat. Tuhan tidak pernah lupa memberi hadiah manis untuk hamba-Nya yang mau berjuang.

The ArcturusBaca cerita ini secara GRATIS!