6

678 103 14

Rae POV

"Woaaah."

aku berdecak kagum sesaat, setelah kaki ku melangkah masuk ke apartemen milik Daniel.

Mewah. Luas.

itu kesan pertama ku.

Daniel sudah melesat ke dapur untuk membasahi tenggorokannya. Mata ku terus mengamati setiap sudut apartemen milik Daniel. Aku benar-benar terkesan dengan seleranya yang sangat tinggi.

"AAAAAA!!"

Aku terlonjak kaget ketika suara Daniel memenuhi telingaku. Teriakan Pria itu berhasil memecah fokus ku ke setiap pahatan apartemen mewah ini. Segera mungkin aku berlari kedapur.

🐻🐻🐻

Aku terheran begitu sampai didapur. Pemandangan dimana Daniel yang berdiri diatas meja makan dengan spatula digenggamannya.

"Kenapa Oppa?" tanyaku penasaran.

Sedangkan Daniel terus menunjuk sesutu dibawah kulkas. Aku berjalan mendekat. Saat itu juga seekor kecoa muncul dan berjalan tanpa berdosa melewati ku.

"Hanya kecoa."

"Hanya kau bilang?! Mereka menji....AAAAA!!"

Daniel kembali berteriak seperti perempuan suci yang akan dicium seorang Pria ketika kecoa itu terbang menghampirinya.

"Kamu takut kecoa?" tanyaku dengan tenang. Padahal terlihat sekali Daniel sangat ketakutan diatas meja.

"Bunuh dia!! Bunuh!!" teriaknya histeris.

Aku mencibir dalam diam. Seharusnya Daniel malu dengan ototnya itu.

Otot besar. Tapi takut kecoa. Ck

Aku lalu mengambil sapu yang ada didekatku.

Bruuk.. Bruuk.. Bruuk..

Kecoa itu mati seketika. Aku pun mengambil antena kecoa itu dengan ibu jari dan telunjukkan, lalu aku menunjukkan nya kepada Daniel kalau kecoa itu telah aku bunuh sesuai keinginannya.

"Dia sudah mati."

"Buang Rae!!" raut wajah Daniel terlihat sangat jijik dengan binatang ditanganku ini.

Tanpa pikir panjang aku membuangnya ketempat sampah dan berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan ku. Daniel bernafas lega dan turun dari meja. Daniel baru saja mengelus dadanya, dan aku mencolek pinggangnya dan membuat laki-laki bersurai coklat ini terlonjak kaget.

"Oh astagaaaaa..." Daniel menggertakkan giginya karena melihatku yang tenang saat dia ketakuan dengan seekor kecoa.

"Apa? Kamu mau mengejek ku hh?" tanyanya dengan raut wajah yang ingin melahap ku hidup-hidup.

"Tidak.." aku menggelengkan kepalaku.

Padahal aku hanya ingin menanyakan aku akan tidur dimana dan apa boleh aku pulang untuk mengambil baju ganti. Belum sempat pertanyaan itu terlontar, Daniel sudah pergi meninggalkan ku dengan kesal. Aku menghembuskan nafasku.

Bagaimana nasib ku setelah ini?

🐻🐻🐻

Daniel POV

Aku terbangun dari tidurku saat jarum panjang menunjukkan pukul dua dini hari. Aku ingin mengecek keadaan Rae. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa tidak enak dan khawatir padanya.

"Kemana dia?" gumamku saat aku tidak melihatnya diruang tengah.

Kakiku terus melangkah sampai akhirnya aku menemukannya yang sedang meringkuk diatas karpet. Aku merasa bersalah meninggalkan perempuan sepertinya sampai harus tidur di karpet. Aku berlutut disamping Rae. Sedikit kecewa karena wajah Rae sepenuhnya tertutup oleh rambut hitamnya.

Aku masih mengabaikannya, mengabaikan perasaan yang aneh ini. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar, tapi niatku terpendam saat tangan ku tidak sengaja menyentuh tangannya.

Panas.

Aku menyibak rambutnya dan langsung melihat wajahnya yang pucat. Akupun menyentuh keningnya. Suhu tubuhnya memang tidak normal. Dengan paniknya, aku menggendongnya ke kamar.

🐻🐻🐻

Aku mondar-mandir tidak jelas disamping tempat tidurku. Aku tidak tau apa yang harusku lakukan untuk nya. Aku melompat kesampingnya dan mencoba menepuk pipinya untuk kesekian kalinya.

"Rae.."

Kelopak matanya belum juga terbuka, hanya sebuah lenguhan kecil yang membuat ku semakin khawatir. Pandanganku teralih pada kaos kaki bergambar yang masih ada dikakinya. Aku pun segera melepasnya dan kembali duduk disampingnya.

Aku mengangkat bagian tubuh atasnya dengan sangat perlahan agar dirinya terduduk. Aku tidak menduga kalau kepalanya akan jatuh bersender tepat di bahu kiriku. Wajahnya tenggelam ke curuk leherku.

Nafasnya sangat panas.

Jantungku berdetak sangat cepat. Perasaan ini muncul lagi. Benarkah? Apa rasa cinta itu sudah muncul?

Aku meneguk ludah dengan kasar. Aku membuka jaketnya dengan perlahan. Yang ku tau saat orang dengan suhu tubuh panas tidak boleh membuat  orang itu merasa kepanasan juga.

"Mmm."

Mengigau. Aku menghela napas pelan dan menghentikan aktivitasku lalu menoleh padanya. Menyibak helai rambut yang menutupi sebagian wajahnya dan menyelipkannya kebelakang telinga.

"Rae?"

Tidak ada respon darinya. Jaket yang sudah lepas dari tubuhnya tergeletak begitu saja. Aku hanya memperhatikan wajahnya, sangat menarik dan terlihat damai. Dan itu sukses membuat ku tersenyum tanpa sebab.

Apa aku harus mengelak lagi kalau sudah jelas perasaan itu datang?

●🐻●🐻●🐻●🐻●🐻●🐻●🐻●🐻●🐻●🐻●🐻●🐻●

Ya Allah bang, anak orang jangan di apa-apain

Asisten▪kdn ✔Baca cerita ini secara GRATIS!