Bagian 25

360 20 27
                                                  

"Woaaaah...ini desanya Aisha?" kata Chiko takjub setelah mobil berhenti di sebuah bangunan. Di depan bangunan itu tertancap papan besar bertuliskan huruf balok nama sebuah desa. "Segar..." katanya lagi sambil membentangkan kedua tangannya dan menghirup nafas dalam-dalam.

"Kok sepi ya?" tanya Chiko. Ia melihat bangunan di belakangnya, "itu kantor desa kan?"

"Betul Den."

"Memang sampai jam berapa pulangnya? kok sepi banget?"

"Iya Den. Mungkin sudah mau jam dua belas."

"Memang pulangnya jam dua belas ya?"

"Kurang tahu tapi biasanya ada shalat dzuhur jadi bersiap ke masjid mungkin Den," jawab Pak Yanto mencoba menerangkan. "Namanya juga di kampung Den, ini sudah mau dzuhur biasanya sudah pada pulang, siap-siap shalat dzuhur Den."

"Harusnya gitu ya, kita di kota terlalu serius," timpal Rafa.

Chiko mengangguk-angguk.

"Tapi benar desa ini?" tanya Rafa ingin memastikan.

"Menurut petunjuk Papanya Den Rafa benar di sini Den," kata Pak Yanto.

Ketiganya telah turun, celingak-celinguk mencari orang. Jam baru beranjak ke angka dua belas. Desa tampak lengang.

"Permisi..." kata Pak Yanto sambil berlari ke arah seorang perempuan tengah baya menggunakan cetok semacam penutup kepala lebar berbentuk setengah lingkaran. Rupanya ibu ini dalam perjalanan pulang dari sawah.

"Kumaha?" tanyanya dalam bahasa sunda dan tidak lupa melempar senyum ketika orang yang memanggil telah sampai di dekatnya.

"Begini Bu, mau tanya rumahnya Mba Aisha di sebelah mana?"

"Mba Aisha? Saha?" tanyanya lagi belum jelas. "Aisha di sini teh banyak, Aisha nu mana?"

Pak Yanto mulai bingung. "Den?"

"Itu Bu yang kerudungnya lebar!" celetuk Chiko yang dijawab dengan kernyitan tanda masih bingung.

Rafa melirik ke arah Chiko seakan mengatakan, emang yang kerudungnya lebar hanya Aisha yang kita kenal. Lagian kerudung lebar harusnya tidak jadi penanda satu orang perempuan. Itu terlalu umum karena semua perempuan kan memang seharusnya begitu. "Mmm itu Bu putrinya Pak Ahmad almarhum."

"Oh Aisha Pak Ahmad, hayu atuh sakantenan"

"Eh?" kata Rafa tak mengerti.

"Saya antar sekalian pulang."

"Oh," disambut anggukan yang lain.

Ketiganya mengikuti ibu itu berjalan kaki, beriringan.

"Setau saya rumah yang mereka tinggali sudah dijual. Tapi katanya masih boleh ditinggali. Baik yah orang kota yang beli itu," kata si Ibu itu mulai bercerita sambil terus berjalan.

"Oh!" Rafa berseru. Kalimatnya mengingatkan pada masa SMA dulu. Benar, padahal dia sudah lupa. "Kok ibu bisa tahu?"

"Itu mah berita heboh, jadi omongan di mana-mana A," katanya lagi bersemangat seakan api yang baru disiram bensin. "Karena suaminya kan baru meninggal eh, rumahnya dijual ke orang kota yang jadi aneh adalah boleh ditempati kembali. Asa lucu da! jadi pada curiga masyarakat di kampung. Maklum orang kampung A, berita sekecil apapun biasanya langsung pada tau."

Rafa dan yang lainnya mengangguk-angguk. Untuk ini Rafa merasa sangat bersalah. Ia menyesal telah membuat keluarga Aisha menjadi bahan gosip sekampung.

"Siapa emang Bu yang beli?" sambut Chiko penasaran.

"Ah, Lu mah mau tau sampai detil gitu Chik, kayak emak-emak Lo!" Sergah Rafa. Ia takut andai saja ibu ini tahu si pembeli rumah keluarga Aisha.

AishaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang