4

709 112 12

Rae POV

Flu ringan menyerangku karena hujan semalam. Tubuhku juga sedikit demam. Lagi pula semua sama saja, aku tetap pulang dengan menembus hujan dan tubuhku basah kuyup.

Aku berjalan di koridor hotel dengan tissue yang menyelip antara hidung dan bibir bagian atasku. Bibirku mengerucut seperti bebek agar bisa menahan tissue itu.

"Astaga.. lucunyaaa." Seru Ong dan Baejin secara bersamaan.

Mereka baru saja keluar dari kamar hotel dengan koper didekat mereka dan langsung melihatku yang sedang bertingkah tidak wajar.
Segera mungkin aku menarik tissue itu dari atas bibirku.

Ini memalukan. Sangat memalukan.

Pipiku memanas hanya karena pekikan Baejin dan Ong.

"Kau flu hh?" Tanya Baejin sambil mengamati wajahku yang sedikit pucat.

"Minumlah air hangat yang banyak. Oke? Ayo, kita keluar."

Aku kebingungan saat mereka berdua menggandeng tanganku. Ong disebelah kanan, dan Baejin disebelah kiri.

Aneh

"Daniel.. kita duluan!" Ong dan Baejin membawaku melintas didepan Daniel dengan cepat.

🐻🐻🐻

Daniel POV

Aku menghentikan langkah ku. Aku berdecih pelan. Baejin dan Ong dengan tingkah sengkleknya sedang memanasiku. Dan aku tidak bisa mengelak. Aku tidak terima Rae dibawa pergi oleh mereka.

Perasaan apa ini?

Secepat mungkin Daniel menggelengkan kepalanya.

Tidak. Tidak boleh.

🐻🐻🐻

Penerbangan kembali ke Seoul aku tidak lagi duduk disamping Rae. Rae duduk bersama staff perempuan lainnya.

Aku mencuri pandang pada Rae yang sedang menutup matanya. Sangat disayangkan jika hanya mengalihkan pandangan sebentar, dia terlalu indah.

"Yak!! Daniel. Kau sedang tidak cemburu pada seorang perempuan kan?"

Jisung yang ada disamping Daniel menyadarkan lamunannya.

Sial

Aku ketauan untuk kesekian kalinya sedang memandangi Rae. Kenapa dirinya seperti ini?

"Terserah, hyung."

Aku sedang malas berdebat. Ujung-ujungnya aku pasti terpojokkan dengan ledekan teman-teman ku itu. Diam dan memahami apa yang merasuk kedalam hatinya itu lebih penting daripada meladeni teman-temannya.

🐻🐻🐻

Rae POV

"Minum?" Tawar ku ke Daniel saat dia baru saja selesai practice dance mengulang koreo Wanna One.

Pria yang ditanya mengangkat kepalanya.

"Tidak mau?"

Aku beranjak bergeser untuk menanyai yang lain tapi saat itu juga Daniel membuka mulutnya.

"Carikan minuman yang dingin."

"Kamu tidak boleh minum dingin setelah latihan."

Daniel menatap ku tajam.

"Ya.. baiklah. Tapi jika terjadi masalah dengan suara mu. Aku tidak ingin bertanggung jawab. Ok? Tunggu disini."

🐻🐻🐻

Ketika aku kembali, Daniel sudah mendapat minuman dari staff lain dan itu membuat perjuangan ku sia-sia. Aku menatap Daniel dan salah satu kakak coordi itu pergi meninggalkan Daniel.

"Jadi minum?" Tanyaku dengan hati-hati sambil menyodorkan botol air dingin didepan Daniel. Pria ini diam tidak merespon ku. Dia sibuk dengan ponselnya.

"Tidak? Ya sudah."

Aku beranjak pergi tapi Daniel menahanku.

🐻🐻🐻

Daniel POV

Jujur saja aku tidak tau untuk apa aku menahannya untuk tetap berdiri didekatku. Tubuhku bergerak secara refleks. Aku merasa ini sangat canggung, Rae tidak boleh tau perasaanya.

Aku memilih merampas dan meneguk habis air mineral pemberian Rae.

Perutnya kembung.

Aku merasa sangat bodoh.

Kenapa tubuh ku melakukan gerakan yang tidak ingin aku lakukan?

Apa perasaan itu terlalu besar?

Bodoh. Sial. Bodoh

Daniel terus mengumpat tentang dirinya sendiri

🐻🐻🐻

Dikit aja dulu dah yaa

Asisten▪kdn ✔Baca cerita ini secara GRATIS!