Hai perkenalkan aku hanya semilir rasa yang melintas yang ingin bercerita tentang apa yang aku rasakan dengan dia yang mungkin mempunyai persamaan rasa yang sulit untuk di ungkapkan, sebut saja dia daun. Lebaran kecilnya yang bahkan sanggup jatuh berkali-kali tanpa pernah menyalahkanku. Warna hijaunya yang berkilauan bahkan sanggup membuatku untuk menyapanya dengan rasaku yang mungkin tak pernah sadar akan kehadiranku yang bahkan sekilas. Tak pernah terbesit, bahkan jika rasaku terlalu besar aku tak tau apakah ku masih pantas untuk berdampingan dengannya untuk menceritakan apakah rasaku ini masih pantas untuk di pertahankan atau hanya rasa sepintas lalu dengan benda yang aku pun tak tau apakah ceritaku pantas untuk di dengar atau hanya sekedar terpendam dan akan terus berlanjut hingga akhirnya aku pergi tanpa tau bagaimana kabar sang dedauan, apakah masih melekat di antara berbagai cabang yang rapuh, atau pergi membawa rindu yang tak kunjungku tau siapakah yang pemilik rindu itu. Ini lah kumpulan catatan harian yang aku tulis untuk kamu, yang bahkan aku pun tak tau apakah pantas untuk di ceritakan atau hanya perlu aku pendam di dalam buku kusam yang aku sendiri pun tak mengerti apakah maksud dari semua tulisan ini, rasanya inginku bagikan walaupun itu adalah kata yang akan sering kamu dengar bahkan tanpa semua tulisanku ini. Inilah aku sang angin pencari rindu di dalam semu menunggu langit biru menjadi kelabu tanpa kamu tau.
Jauh – 14 Januari XX18
Aku bergerak menjauhi sudut keramaian kota, bergerak mundur tak seperti biasa. Bergerak menuju sisi tergelap yang banyak orang-orang menyebutnya dengan masa lalu. Masa lalu adalah masa terjauh yang mungkin takkan pernah bisa ku gapai lagi. Aku tenggelam dalam sepi, menjauhi kebisingan. Aku mencoba bangkit dari masa lalu, mencoba untuk menggali mimpi-mimpi yang selama ini jauh telah kukubur didalam bumi. Aku bergerak tak tentu, bergerak tanpa bantuan jarum kompas, bergerak tak tentu arah.
Aku hanya sendiri, bergerak ditemani sepi dan selalu melawan waktu. Aku jauh, menjauhi dimensi fatamorgana. Aku hanya imajinasi tanpa batas yang membuat pikiran kadang kacau dan bergerak entah tanpa tujuan tak pasti. Menjauh, jauh dan semakin tak terlihat, memberikan ruang sepi dan hanya meninggalkan kenangan yang tak berarti. Hampa, tanpa cinta apalagi cerita. Tanpa rasa apalagi irama yang harus menjelaskan untuk mengerti apa itu sebenarnya cinta. Yang membuat kita mengerti apa itu derita, dan pahitnya nestapa mambagi makna cinta bukan yang semakin menjauh menjadi sepi. Tapi kamu yang membuat aku mengerti mengapa cinta itu berarti, membuat arah yang pasti mengubah sepi. Membuat aku mengerti kamu dan cerita yang menjadi berarti tanpa harus mengubah sepi tapi memberi arti.
KAMU SEDANG MEMBACA
CATATAN ANGIN & DEDAUNAN
Non-FictionHai perkenalkan aku hanya semilir rasa yang melintas dan bercerita tentang apa yang aku rasakan dengan dia yang mungkin mempunyai persamaan rasa yang sulit untuk di ungkapkan, sebut saja dia daun. Lebaran kecilnya yang bahkan sanggup jauh berkali-ka...
