Satu

87 9 10
                                              

"Kak, would you be my boyfriend?" Suara batuk heboh langsung terdengar setelah kalimat itu selesai terucap. Asalnya dari pemuda tinggi berhidung mancung dengan gaya rambut moptop berwarna hitam. Dia memandang takjub gadis yang baru saja menyatakan perasaan pada temannya di depan umum.

Pemuda itu menatap temannya sekilas, melihat tak ada reaksi apapun, dia pun melontarkan pertanyaan pada gadis itu.

"Lo serius nembak Yogi di depan umum begini?" tanya Jino—pemuda yang tersedak tadi. Gadis itu hanya mengangguk.

"Hey, gue kasih tahu ya, elo itu terlalu blak-blakan. Nggak malu emang kalo dia nolak lo di depan umum begini? Orang lain aja milih bicara empat mata kalau mau nembak dia, Yogi kan kalau ngomong nggak pake mikir," kata orang itu lagi. Yang dikatakan Jino memang benar. Semua orang yang menyatakan perasaannya pada Yogi lebih memilih untuk berbicara empat mata, selain karena malu kalau ditolak, mereka juga tidak mau dimaki Yogi di depan umum. Yang benar saja, memangnya siapa yang mau dimaki di depan banyak orang? Tidak ada.

Gadis itu melirik Yogi. Seperti biasa, pemuda berkulit pucat yang memiliki bibir tipis itu diam saja. Dia bahkan lebih memilih memainkan ponsel daripada menggubris gadis di hadapannya.

Jino kembali melirik Yogi. Mendadak perasaannya tidak enak saat melihat smirk pemuda itu.

"Gue nggak suka sama lo, tapi gue bakal ngasih kesempatan," katanya datar, tanpa intosani. "Kalau lo bisa bikin gue jatuh cinta dalam waktu satu bulan, gue mau jadi pacar lo," tambahnya.

"Uhuk!" Jino kembali tersedak. Dia melotot seolah matanya akan keluar. "Heh! Nggak salah lo?" Yogi melirik Jino sekilas. Dia menghiraukan pertanyaan itu dan menolehkan kepala untuk menatap gadis manis yang masih berdiri di hadapannya.

"Bagaimana? Lo sanggup?" Gadis itu mengangguk semangat. Tentu saja dia langsung mengangguk. Bagaimana mungkin dia menolak kesempatan emas seperti ini. Bisa dekat dengan orang yang kita suka itukan hal yang luar biasa. Apalagi Yogi jarang sekali memberi kesempatan pada orang yang menyatakan perasaan padanya, hampir tidak pernah malah.

"Tapi gue masih ada syarat lain," tambah Yogi yang membuat senyum gadis itu luntur.

"Apa?"

"Kalau dalam waktu satu bulan itu, ternyata gue malah suka sama orang lain, lo harus berhenti. Dan jangan pernah muncul di hadapan gue lagi, bagaimana?" Gadis itu diam sejenak. Menggerutu dalam hati karena persyaratan yang diberikan Yogi terlalu membebaninya.

"Iya, aku sanggup."

Terkadang menantang diri sendiri untuk melakukan hal yang tidak biasa perlu dilakukan. Supaya kita tahu sampai mana batas kekuatan yang kita miliki.

"Baiklah. Lo bisa mulai hari ini." Gadis itu hanya mengangguk. Setidaknya ia sedikit lebih beruntung dibandingkan orang lain yang langsung ditolak Yogi.

Jino memandang Yogi tajam. Namun, pandangan itu tidak digubris sama sekali oleh Yogi. Pemuda itu malah mendorong kursinya dan berlalu dari sana. Jino ternganga, tidak menyangka jika Yogi akan melakukan hal itu. Kemudian pandangannya beralih pada gadis yang masih berdiri di hadapannya. Dalam hati, ia mengasihani gadis itu.
"Bisa batalin aja nggak niat lo itu buat bikin Yogi jatuh cinta?"

Gadis itu menoleh, menatap Jino dengan pandangan bertanya. Jino menghela napasnya. Dia yakin gadis itu paham apa yang ia maksud.
"Gue saranin, batalin aja niat lo itu."

"Tapi kenapa?" Gadis itu memberanikan diri untuk bertanya. Dia hanya ingin berjuang, salahkah?

"Karena semua bakal sia-sia. Dan ini nggak seperti biasanya, lo bakal terluka nanti."




To Be Continued

13 Mei 2018
©Mindsweet

Tell Me You Love MeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang