12

5.3K 373 38

Pov Caroline
Aku bergetar ketakutan disaat aku berada di hadapan Alfa saat ini, Alvi berdiri tenang disampingku, kenapa aku harus bertemu dengan dia dalam pelarianku?.

Alfa menatapku dengan pandangan datar, aku tidak tahu bagaimana suasana hatinya saat ini yang pasti dia akan marah setelah ini "aku menemukan dia didekat danau, saat itu aku sedang bersama mateku."

"Aku sudah tahu," aku melongo dengan ucapan Alfa, bagaimana dia bisa tahu padahal saat aku sampai diistananya dia sedang berada diruang kerjanya dan sibuk dengan pekerjaannya sendiri "bagaimana kau bisa tahu Alfa?," Tanya Alfi dengan berpangku tangan "aku mengikuti Caroline sejak dia kabur," oh tidak ternyata aku tidak pernah benar - benar berhasil kabur walaupun sebentar.

"Baguslah kalau begitu, aku akan melanjutkan pertemuanku dengan mateku dan Caroline, sampai jumpa," aku bisa melihat dari senyuman Alfi, dia mengejekku dan aku mendelik pada dia, gara - gara dia rencanaku untuk kabur harus sirna meskipun sebenarnya Alfa mengikuti aku, pastas saja aku merasa diawasi sejak keluar dari istana ini.

Sekarang hanya ada aku dan Alfa diruangan ini, dari ekor mataku kulihat dia mengambil minuman merah itu yang tidak lain adalah darah, jangan bilang dia akan menyuruhku meminumnya dan benar dugaanku Alfa memberikan minuman itu kepadaku "minumlah," aku tidak mungkin menolaknya, sekarang aku tidak berada diposisi dimana aku bisa melalukan segala sesuatu sesuka hatiku.

"Baiklah," aku meneguk minuman ini dengan enggan, bau amis begitu menyengat kedalam hidungku, setelah selesai meminumnya aku meletakkan gelasnya dimeja kerja Alfa setelah itu aku duduk disofa yang ada disini, sudah terlalu lama aku berdiri dan aku sudah tidak tahan jika harus berdiri lebih lama lagi, tentu saja aku tidak tahan karena aku bukan robot.

"Langsung saja pada intinya Alfa," entah keberanian dari mana aku bisa mengucapkan hal itu, mungkin aku sudah gila karena sekarang Alfa berjalan mendekat padaku bagaikan predator yang siap menerkam diriku kapan pun dia inginkan "kau terlalu berani untuk ukuran seorang gadis yang mungil," untaian rambutku dipegang oleh Alfa dan meletakkannya dibelakang telingaku.

"Aku hanya menyampaikan apa yang aku pikirkan,"

"Sebaiknya kau tidak memikirkannya sayang karena aku sangat - sangat tidak suka dengan pikiran busukmu," kalau saja aku memiliki kekuatan yang besar dan mampu melukai Alfa, aku pasti sudah melukai mulut sexynya yang sayangnya sangat kasar jika berucap.

Alfa mengelus daguku dengan begitu lembut, membuat naluriku sebagai seorang perempuan terbuai, memejamkan mata itulah yang kulakukan sekarang "kau adalah ratuku yang lemah lembut dan tidak suka menentang ucapanku tapi sejak kau terlahir kembali sifatmu benar - benar berubah, meskipun begitu aku akan tetap mencintai dirimu dengan sepenuh hati dan mengajarkan dirimu bagaimana caranya bersikap kepada rajamu,"

Mataku terbuka seiring dengan ucapan yang diucapkan oleh Alfa, "aku tidak tahu apa yang kau ucapkan akan tetapi jika semua yang kau ucapkan adalah sebuah kebenaran maka aku ingin menjadi diriku yang sebenarnya,"

"Aku akan membantumu sayang tapi sebelum itu kau harus dihukum terlebih dulu di ruang penyiksaan, kau harus tahu bahwa aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu yang mencoba untuk kabur meskipun kau menyembahku," suasana yang tadinya terkesan romantis berubah menjadi menegangkan, aku mengira jika Alfa sudah melupakan hal yang aku lakukan tapi ternyata dia tidak melupakannya sedikitpun.

Tanganku diseret oleh dia dan aku hanya pasrah, Alfa pasti akan membawaku ke ruang penyiksaan yang selama ini terdengar menakutkan, aku memang tidak begitu lama tinggal di kerajaan ini tetapi aku sering mendengar dari beberapa pelayan bahwa ruangan itu sangat mengerikan, banyak terdengar jeritan di dalam sana dan sayangnya aku akan berada di sana sebentar lagi.

Kami pun sampai di ruangan penyiksaan, lampu yang remang - remang dan terdengar jeritan - jeritan kesakitan membuatku menggigil ketakutan "tidak bisakah kita pergi dari sini Alfa?," hukuman yang akan aku dapat pasti menyakitkan tapi setidaknya aku tidak harus mendapatkan hukumanku di ruangan yang berbau amis.

"Jangan meminta hal yang tidak mungkin kau dapatkan sayang, tenanglah karena hukumanmu hanya sebentar saja dan aku sendiri yang akan menghukummu," pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepalaku, apa hukuman yang akan aku dapatkan?.

Sampailah kami pada sebuah pintu kayu yang begitu besar, pintu itu terbuka bersamaan dengan pemandangan mengerikan yang sebelumnya tidak pernah aku lihat, ada sekitat sepuluh orang, maksudku vampir yang badannya diberi lelehan timah panas, kebanyakan dari mereka adalah seorang wanita.

"Kau pasti bertanya - tanya kenapa yang dihukum kebanyakan adalah wanita dan bukan pria, itu karena wanita yang ada di sini sebagian adalah wanita penggoda, dengan tubuh melar para wanita ini mencoba menggoda diriku, padahal aku sudah memiliki seorang mate yaitu dirimu," Alfa ternyata sangat kejam dan betapa bodohnya wanita yang mencoba menggodanya, bahkan aku yang dia sebut sebagai matenya tidak pernah berusaha menggoda dia.

"Aku tidak ingin melihat pemandangan mengerikan ini terlalu lama Alfa,"

"Kau tenang saja, aku tidak akan menghukummu di sini, melainkan di sana," Alfa menunjuk sebuah pintu yang berada di ujung ruangan, sial!.

Tanganku kembali ditarik dan di bawa kepintu yang berada di ujung ruangan, saat aku sudah berada di dalam aku mengamati ruangan yang berukuran tidak terlalu besar, banyak alat - alat penyiksaan di sini.

"Apa kau akan menghukumku menggunakan alat - alat yang ada di sini?," tanyaku dengan perasaan takut - takut.

"Kau benar sayang dan sekarang membungkuklah!," sebentar lagi aku akan benar - benar mendapatkan hukumanku, aku melakukan apa yang diperintahkan Alfa, kubungkukkan  badanku di lantai yang terada dingin.

Alfa datang sambil membawa cambuk ditangannya, jangan bilang kalau dia akan mencambukmu "jangan bilang kal-,"

"Aku memang akan mencambukmu sayang, kesalahan yang kau lakukan tidak kecil sayang, sekarang aku akan mulai mencambukmu dan saat kau akan pingsang aku akan menghentikannya,"

"AP-," ucapanku terpotong dan tergantikan dengan rasa sakit dibagian punggungku.

Plass

"Akkkhhhh... sakkkkittt," Alfa terus mencambukku dan tidak memperdulikan teriakan kesakitanku "hiks sakkkkitt.... Alffffa hiks,"

Plass, Plass, Plass, Plass

Secara terus menerus aku merasakan rasa sakit yang mendera punggungku, kesadaranku hampir hilang disaat aku merasakan cambukan di pantatku, aku pasti tidak akan bisa duduk untuk beberapa hari kedepan dan akhirnya kegelapan menyelimutiku.

"Ini akibatnya jika kau melarikan diri dariku sayang."
*****
Maaf banget karena aku lama update, baru hari ini aku dapat ide untuk ngelanjutin cerita ini ☺

Jangan lupa Vote, Commet dan bagikan cerita ini guys 😉😉😊

CAGED DEVILBaca cerita ini secara GRATIS!